Demo Hong Kong bisa memperburuk persepsi risiko investasi (CDS)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam waktu sepekan, indikator tingkat persepsi risiko investasi atau credit default swap (CDS) naik. Senin (12/8) CDS Indonesia untuk tenor 5 tahun tercatat berada di level 95,26, padahal sepekan lalu masih bertengger di level 93.

Direktur Utama Avrist Asset Management Hanif Mantiq mengatakan, sentimen regional menjadi faktor utama level CDS naik. Khususnya, terkait demo berkepanjangan yang terjadi di Hong Kong.

Baca Juga: CDS Indonesia akan bergerak di rentang 90-100 dalam jangka pendek

"Ini membuat persepsi risiko di Asia meningkat, apalagi Hong Kong dan Singapura masih menjadi kota penghubung," jelas Hanif kepada Kontan.co.id, Selasa (12/8).

Sebagaimana diketahui, saat ini masih berlangsung unjuk rasa ribuan orang di Hong Kong yang diwarnai bentrokan dengan aparat, hingga menduduki bandara selama lebih dari dua bulan. Hal tersebut dilakukan untuk menentang pemerintah dan munculnya lima tuntutan dari masyarakat Hong Kong.

Beberapa tuntutan tersebut di antaranya penarikan UU ekstradisi kontroversial dan menyelidiki cara polisi dalam menangani aksi protes. Bahkan, aksi terus meluas hingga berkembang menjadi gerakan menuntut reformasi demokrasi, termasuk mendesak Kepala Eksekutif Hong Kong Carrie Lam untuk mundur.

Baca Juga: Persepsi risiko investasi Indonesia naik dalam jangka pendek

"Masalah di Hong Kong akan mempengaruhi kawasan regional Asia secara keseluruhan. Ini memungkinkan bagi CDS untuk naik terus jika kondisi memburuk," ungkapnya.

Bahkan, Hanif memprediksi level CDS untuk 5 tahun berpotensi tembus di atas 100 jika kondisi di Hong Kong semakin meningkat dan kian mempengaruhi sentimen regional. Meskipun begitu, untuk jangka pendek CDS diperkirakan bakal bergerak pada kisaran level 90-100.

Editor: Yudho Winarto