KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar saham global dan dolar Amerika Serikat (AS) mulai bangkit pada perdagangan Rabu (4/11/2026), setelah sempat tertekan menyusul kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS. Kemenangan Demokrat yang berhasil menguasai Senat dan DPR AS memunculkan kekhawatiran investor terhadap prospek industri kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Pasalnya, dominasi Demokrat di Kongres diperkirakan akan meningkatkan pengawasan dan regulasi terhadap sektor AI yang selama ini menjadi salah satu motor penggerak pasar saham global. Hasil pemilu tersebut menjadi pukulan besar bagi Presiden AS Donald Trump. Partai Demokrat berhasil meraih kemenangan di sejumlah wilayah yang selama beberapa generasi dikenal sebagai basis kuat Partai Republik.
Kemenangan tersebut juga terlihat dari keberhasilan Demokrat merebut sejumlah distrik yang sebelumnya dianggap aman bagi Partai Republik. Kondisi ini mencerminkan pergeseran peta politik AS yang kemungkinan tidak sepenuhnya diantisipasi oleh investor.
Baca Juga: Dua Kecelakaan Kereta Tewaskan 115 Orang, Menteri Transportasi Spanyol Mundur "Partai Demokrat berhasil meraih kemenangan ganda dalam pemilihan paruh waktu AS, sesuatu yang hanya sedikit diperkirakan pada awal tahun ini. Gelombang kemenangan Demokrat berarti pemerintahan federal hampir pasti akan terpecah dalam sebagian besar isu," kata Deborah Cunningham, Chief Investment Officer Global Liquidity Markets di Federated Hermes. Menurut Cunningham, kondisi pemerintahan yang terbelah berpotensi menghambat pengesahan kebijakan baru. "Situasi tersebut biasanya menciptakan hambatan terhadap pengesahan undang-undang baru. Lingkungan seperti ini secara tradisional dipandang positif oleh pasar keuangan secara luas karena mengurangi ketidakpastian," ujarnya. Hasil pemilu tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena jajak pendapat menunjukkan pemilih Demokrat cenderung mendukung pengawasan yang lebih ketat terhadap pengembangan AI. Investor pun memperkirakan Kongres AS yang kini dikuasai Demokrat akan meningkatkan pengawasan terhadap industri tersebut. Saham-saham teknologi berbasis AI di Asia menjadi salah satu pemicu pelemahan pasar saham pada awal perdagangan. Sementara itu, obligasi dan mata uang yang dianggap sebagai aset aman atau safe haven, seperti franc Swiss, justru mengalami penguatan. Namun, setelah sebagian besar hasil pemilu mulai diketahui pada perdagangan pagi di Eropa, pasar saham berbalik menguat. Indeks MSCI All-World tercatat naik 0,13%, sedangkan indeks STOXX 600 Eropa menguat 0,5%. Indeks saham berjangka AS juga mulai bergerak ke zona positif setelah sebelumnya sempat terkoreksi hingga 2% pada perdagangan malam. Di sisi lain, saham Tesla milik Elon Musk dan SpaceX, yang berencana digabungkan, mengalami penurunan sekitar 4,5% hingga 5% di platform perdagangan Tradegate Eropa. Pelemahan tersebut lebih dalam dibandingkan saham perusahaan teknologi besar lainnya yang hanya turun sekitar 0,3% hingga 0,9%.
Baca Juga: Tekanan Trump Paksa Oracle Batalkan Kesepakatan Cip AI Tencent Direktur Riset XTB Kathleen Brooks menilai dampak hasil pemilu terhadap pasar sejauh ini masih relatif terbatas. "Secara keseluruhan, hasil pemilu ini sejauh ini hanya memberikan dampak ringan terhadap pasar. Investor akan beralih dari memperdagangkan ketidakpastian hasil pemilu menjadi memperdagangkan realitas mengenai implikasi kebijakan dari hasil tersebut," kata Brooks. Ia menambahkan, hasil pemilu tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif bagi Tesla dan SpaceX. Namun, saham perusahaan semikonduktor yang menjadi tulang punggung investasi AI diperkirakan masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan. "Ini merupakan kabar buruk bagi Tesla dan SpaceX pada Rabu, tetapi saham-saham semikonduktor, yang menjadi tulang punggung perdagangan AI, mungkin dapat mengabaikan kekhawatiran mengenai regulasi AI dan melanjutkan kenaikannya setelah reli sektor tersebut yang luar biasa pada Selasa," ujarnya. Booming AI selama beberapa tahun terakhir telah mendorong penguatan pasar keuangan global. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh besarnya belanja perusahaan teknologi raksasa untuk membangun pusat data (data center) dan meningkatkan kapasitas komputasi. Kondisi tersebut membuat investor semakin sensitif terhadap berbagai kebijakan maupun perkembangan yang berpotensi menghambat ekspansi industri AI. Selain sektor teknologi, hasil pemilu AS juga berpotensi membawa dampak lebih luas terhadap prospek fiskal pemerintah AS serta sejumlah sektor, termasuk pertahanan, kesehatan, dan perbankan. Kontrak berjangka indeks Russell 2000 yang mewakili saham-saham berkapitalisasi kecil dan lebih terpapar kondisi ekonomi domestik AS tercatat naik 0,7%. Sebelumnya, indeks tersebut sempat melemah 1%.
Baca Juga: BP Tunjuk Mantan Eksekutif Shell Pimpin Bisnis Hilir Investor Beralih ke Aset Safe Haven
Di pasar obligasi, surat utang pemerintah AS atau US Treasury mengalami penguatan. Investor memperkirakan kebuntuan politik di Washington dapat menekan belanja pemerintah. Selain itu, peningkatan regulasi AI berpotensi memperlambat pertumbuhan sektor tersebut dan mengurangi kebutuhan kenaikan suku bunga. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 3 basis poin menjadi 4,92%. Pada perdagangan malam sebelumnya, yield tersebut bahkan sempat merosot hingga 6 basis poin ke level terendah 4,89%. Penurunan yield Treasury turut memberikan tekanan terhadap dolar AS. "Obligasi menjadi aset yang paling diuntungkan ketika pasar mulai mengurangi eksposur terhadap perdagangan saham berbasis AI. Investor juga semakin mempertimbangkan kemungkinan bahwa pemangkasan pajak lanjutan akan ditunda dan belanja pemerintah melambat," kata Prashant Newnaha, Senior Rates Strategist TD Securities di Singapura. Di pasar valuta asing, dolar AS melemah terhadap sejumlah mata uang utama. Euro menguat 0,4% terhadap dolar AS ke level US$ 1,133. Sementara itu, pound sterling naik 0,5% menjadi US$ 1,348.
Baca Juga: Penjualan Hybrid Menguat, Toyota Berpeluang Cetak Kenaikan Laba Mata uang safe haven lainnya, yakni yen Jepang dan franc Swiss, juga mencatatkan penguatan. Franc Swiss menjadi mata uang dengan kinerja terbaik setelah dolar AS melemah 0,6% terhadap franc Swiss ke level 0,8163. Dolar AS juga turun 0,4% terhadap yen Jepang menjadi 158,12 yen. Sementara itu, pergerakan harga minyak mentah dunia berlangsung fluktuatif pada Rabu (4/11/2026). Pelaku pasar mempertimbangkan perkembangan pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina dan Iran, di tengah kekhawatiran bahwa serangan terbaru dalam kedua konflik tersebut dapat semakin mengganggu pasokan minyak global. Harga minyak mentah Brent tercatat turun 0,4% menjadi US$ 103,17 per barel. Sebelumnya, harga minyak sempat menyentuh level terendah dalam empat pekan pada perdagangan Selasa.