KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dorongan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) membuka peluang bagi pasar modal Indonesia untuk meningkatkan daya saing di tingkat global. Namun, penguatan struktur bursa perlu diikuti dengan pembenahan kualitas pasar agar mampu menarik lebih banyak investor dan emiten berkualitas. Managing Director PT Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai, ukuran bursa kelas dunia tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya kapitalisasi pasar atau market cap.
Menurutnya, terdapat sejumlah indikator lain yang juga penting diperhatikan, seperti nilai dan volume transaksi, tingkat likuiditas, free float, jumlah serta kualitas emiten, basis investor institusi, kedalaman produk pasar, transparansi, tata kelola (governance), hingga kemudahan akses bagi investor asing.
Kualitas Pasar
Harry menilai salah satu tantangan utama BEI yang masih perlu dibenahi berada pada aspek kualitas pasar. Menurut dia, terdapat sejumlah area yang membutuhkan penguatan. Pertama, porsi saham yang beredar di publik atau free float perlu diperbesar. Kedua, penegakan hukum dan fungsi pengawasan harus diperkuat. Ketiga, transparansi kepemilikan saham perlu ditingkatkan. Keempat, BEI perlu lebih agresif mendorong perusahaan besar dan berkualitas untuk masuk bursa melalui penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).
Baca Juga: Menanti Hasil RDG BI, Rupiah Diprediksi Melemah pada Rabu (19/8) "Reformasi HSC, transparansi ownership, dan peningkatan free float sudah menjadi langkah positif, tetapi konsistensi implementasinya akan menjadi kunci," kata Harry kepada Kontan, Selasa (18/8/2026). Sementara itu, Pengamat pasar modal Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan target BEI untuk sejajar dengan bursa internasional sebenarnya bukan hal yang mustahil. Namun, menurutnya, sejumlah aturan dan kebijakan yang diterapkan selama ini justru berpotensi membuat BEI semakin jauh dari target tersebut. Budi mencontohkan mekanisme Full Call Auction (FCA), status Unusual Market Activity (UMA), hingga suspensi saham yang kriterianya dinilai belum jelas. Selain itu, terdapat ketentuan minimum free float yang diterapkan secara merata pada berbagai level kapitalisasi pasar. Ada pula kewajiban disclosure kepemilikan mulai dari 1% serta mekanisme High Shareholding Concentration (HSC) yang dinilai semakin membatasi sekaligus membuka informasi mengenai emiten secara lebih luas. Menurut Budi, predikat sebagai bursa maju tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu atau dua indikator. Sejumlah aspek yang perlu diperhatikan mencakup market cap, free-float adjusted market cap, likuiditas dan nilai transaksi, jumlah emiten besar yang layak investasi atau investable, kedalaman pasar, kualitas tata kelola, basis investor institusi, hingga kelengkapan produk pasar. "Jadi jumlah investor atau jumlah emiten saja tidak cukup," ujar Budi. Budi menilai pekerjaan rumah BEI saat ini adalah meningkatkan investability dan kredibilitas pasar. Hal yang perlu diperkuat antara lain transparansi beneficial ownership, penegakan hukum terhadap manipulasi dan coordinated trading, peningkatan kualitas price discovery, serta mendorong lebih banyak perusahaan besar dan berkualitas untuk masuk bursa. "Akan lebih baik lagi jika bisa mengundang emiten asing masuk," tambahnya.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham DEWA, TLKM, UNTR untuk Rabu (19/8) Kemudahan Akses bagi Investor Asing
Dari perspektif investor asing, Harry menjelaskan bahwa kemudahan akses pasar pada dasarnya berkaitan dengan seberapa mudah investor dapat masuk dan keluar dari suatu pasar. Sejumlah faktor menjadi penentu, mulai dari regulasi yang jelas dan memberikan kepastian, tingkat likuiditas yang tinggi, kemudahan proses transaksi dan penyelesaian atau settlement, akses terhadap valuta asing dan repatriasi dana, transparansi informasi, hingga ketersediaan instrumen lindung nilai atau hedging.
"Semakin sederhana dan predictable infrastrukturnya, semakin menarik pula pasar tersebut di mata investor global," pungkas Harry. Budi menambahkan, bagi investor asing, market accessibility mencerminkan kemudahan untuk masuk dan keluar dari pasar. Investor asing akan memperhatikan sejumlah aspek, seperti batas kepemilikan asing, likuiditas, akses valuta asing, kemudahan settlement dan custody, ketersediaan informasi dalam bahasa Inggris, securities lending, short selling, serta kepastian regulasi. "Intinya, bursa kelas dunia bukan hanya bursa yang besar, tetapi bursa yang likuid, transparan, kredibel, mudah diakses, dan memiliki banyak emiten berkualitas dengan free float yang memadai," jelas Budi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News