DEN: Ekspor Indonesia Tetap Tumbuh, Ditopang Komoditas dan Hilirisasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) optimistis kinerja ekspor Indonesia tetap tumbuh di tengah ketidakpastian perdagangan global. Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu pada acara HUT KONTAN ke-30 di Studio 1 Menara Kompas Jakarta, mengatakan bahwa komoditas dan keberhasilan hilirisasi masih menjadi penopang ekspor nasional. “Masih di seputar commodity ya, karena memang harga commodity membaik, jadi komoditas masih akan tetap menjadi potensi untuk menyumbang kepada pertumbuhan ekspor kita,” ujar Mari kepada awak media di Menara Kompas, Jakarta, Selasa (29/09).

Baca Juga: Ketidakpastian Global Tinggi, Suahasil Pastikan APBN 2027 Tetap Kredibel Ia menyebut hilirisasi nikel dan industri baja sebagai salah satu komoditas yang dapat menopang ekspor Indonesia. “Terutama keberhasilan kita melakukan downstreaming (hilirisasi) itu ya, dengan nikel, nickel ore dan industri baja,” jelasnya. Mari juga menilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat masih tumbuh meski sebelumnya terdapat kekhawatiran terhadap perubahan kebijakan tarif perdagangan yang ditetapkan negara paman sam itu. “Ternyata tidak se-scary (setakut) apa yang dibayangkan pada waktu awal 2025. Ya, ternyata ekspor kita tetap tumbuh ke Amerika dan semua negara ekspornya tumbuh,” ujarnya dalam sesi talkshow HUT Ke-30 Kontan di Jakarta, Selasa (29/09/2026). Menurutnya, pertumbuhan tersebut didorong oleh permintaan Amerika Serikat yang masih kuat. Pelaku usaha dari berbagai negara juga berupaya meningkatkan ekspor sebelum tarif diberlakukan. “Kenapa? Karena ternyata Amerika itu demand-nya (permintaan) masih ada, dan semua orang berlomba-lomba untuk mengekspor sebelum tarifnya dikenakan,” jelasnya. Di sisi lain, Indonesia menghadapi peningkatan impor dari Tiongkok seiring perubahan arus perdagangan negara tersebut. “kita menghadapi peningkatan impor dari Tiongkok yang memang meningkat besar. Jadi, ya, import, ekspor China ke Amerika turun, ekspor China to the rest of the world, termasuk ASEAN, naik, ya,” ujarnya. Menurut Mari, kondisi itu memunculkan kekhawatiran terhadap persaingan produk asal Tiongkok di pasar domestik. Namun, ia menilai tidak seluruh peningkatan impor tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. “Tapi sebagian dari import China itu sebetulnya adalah masuk ke investasi Tiongkok yang ada di sini ataupun investasi lain yang mencari relokasi,” jelas Mari. Ia menilai kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia menjadi lokasi relokasi industri yang menyasar pasar Amerika Serikat dan negara lainnya. “Jadi, opportunity relokasi untuk pasar Amerika maupun pasar yang lain, ya. Jadi, ini kombinasi, tidak bisa dilihat seperti itu saja,” pungkasnya.

Baca Juga: Neraca Perdagangan Diramal Kembali Defisit Pada Agustus 2026, Ini Penyebabnya


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News