KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai dampak konflik geopolitik dan perang yang masih berlangsung di berbagai kawasan dunia. Resiko utama yang perlu diantisipasi adalah kenaikan harga energi dan biaya produksi yang berpotensi mendorong lonjakan harga barang di dalam negeri pada semester II tahun ini. Anggota DEN Chatib Basri menyampaikan pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian global berpotensi menimbulkan tekanan terhadap harga-harga kebutuhan masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu isu yang dibahas DEN bersama Presiden Prabowo Subianto dalam rapat di Istana Kepresidenan. “Kemungkinan mengenai risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari pelemahan rupiah," kata Chatib di Istana Merdeka, Selasa (9/6/2026).
Baca Juga: Industri Manufaktur Masuk Zona Merah, Airlangga Waspadai Dampak Perang Global Chatib menilai hal ini akan berdampak langsung kepada masyarakat terutama kelas menengah dan bawah. Untuk itu menurutnya perlu ada langkah dalam mengembalikan kepercayaan pada pemerintah. Salah satunya kaitanya efisiensi anggaran Makan Berizi Gratis (MBG). "Salah satunya adalah langkah-langkah yang dilakukan di dalam efisiensi anggaran termasuk salah satu di antaranya di dalam kaitan dengan MBG," lanjut Chatib. Senada, anggota DEN Mochammad Firman Hidayat menilai dampak perang yang terjadi saat ini berpotensi berlangsung lebih lama dibandingkan perkiraan sebelumnya. Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga energi global yang pada akhirnya membebani sektor produksi dan distribusi di dalam negeri. “Dampak perang ini sepertinya lebih tinggi, lebih lama dari perkiraan kita,” ujarnya.
Baca Juga: DEN Ungkap Tiga Momok yang Menghantui Pengusaha di 2026 Firman menjelaskan tekanan biaya sebenarnya mulai terlihat dari pergerakan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) yang tumbuh lebih tinggi dibandingkan inflasi konsumen. Menurutnya, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat menjadi sinyal kenaikan harga di tingkat konsumen pada periode berikutnya. “Kenaikan energi global kemudian bisa berdampak kepada kenaikan biaya produksi dan distribusi. Ini perlu diantisipasi nanti di semester kedua,” katanya. Meski demikian, DEN menilai fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat. Firman menyebut kondisi korporasi dan perbankan saat ini jauh lebih sehat dibandingkan periode krisis ekonomi 1998.
Namun, di tengah ketidakpastian global yang meningkat, pemerintah dinilai perlu terus menjaga kepercayaan pasar serta memastikan berbagai program prioritas berjalan efektif guna meredam dampak gejolak eksternal terhadap perekonomian nasional. "Dan ini perlu diantisipasi nanti di semester kedua, tapi saya kira pemerintah sudah mempersiapkan langkah-langkahnya," terangnya.
Baca Juga: Ini Jurus Wamenkeu Kejar Pajak 2026 di Tengah Dampak Perang Global Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News