DEN Sebut Ekspor Nikel Tembus US$ 26 Miliar hingga Agustus, Ini Proyeksi 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mencatat kinerja nilai ekspor produk olahan nikel Indonesia menunjukkan penguatan sepanjang tahun ini. Nilai ekspor tersebut diraih meskipun volume pengiriman tercatat mengalami sedikit penurunan akibat langkah pengendalian pasokan di pasar global.

Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Septian Hario Seto mengungkapkan, kontribusi produksi nikel nasional telah tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir.

Dia menyebutkan, Indonesia kini menggenggam porsi hingga 65% sampai 66% dari total produksi nikel dunia, meningkat tajam dibandingkan posisi tahun 2020 hingga 2022 yang baru mencapai kisaran 30%. Hal ini berdampak pada nilai ekspor produk mineral tersebut.


Baca Juga: Menperin Sarmuji Pacu Industri Permesinan dan Agro

"Kalau kita lihat sampai dengan Agustus, ekspor nikel produk kita itu sudah sekitar US$ 25 hampir US$ 26 miliar sampai dengan year to date Agustus (2026)," ujarnya dalam acara BIG Downstream Insight 2026, Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Seto menuturkan, perkembangan positif ini membuat sektor nikel menjelma sebagai penyumbang pendapatan ekspor terbesar bagi Indonesia, melampaui komoditas andalan lain seperti CPO dan batubara. 

Dia optimistis, kenaikan nilai ekspor olahan nikel masih akan terus berlanjut secara konsisten hingga penutupan tahun ini. Ia memproyeksikan total penerimaan dari komoditas hilirisasi unggulan tersebut akan mengukir rekor baru.

"Estimasi kami sampai dengan akhir tahun ini akan tembus sekitar US$ 40 miliar. Jadi itu sudah menjadi ekspor kontributor terbesar Indonesia di atasnya CPO dan di atasnya juga batubara," tegasnya.

Di samping itu, Seto menuturkan, dominasi Indonesia sebagai produsen terbesar dunia menuntut strategi pengendalian pasokan yang cermat agar harga nikel di pasar internasional tidak terancam anjlok.

Keberhasilan menahan laju volume ekspor terbukti efektif dalam mendongkrak perolehan nilai tambah (value) yang jauh lebih optimal bagi perekonomian nasional.

Baca Juga: Ekspor Mainan Indonesia Naik 18,2% Jadi US$ 351,8 Juta di Semester I 2026

"Tapi yang menarik, volume dalam jumlah nikel ton metal itu turun 3,8%. Jadi artinya kami kendalikan produksinya, supply dunia kami kendalikan, ya harganya naik, kalau kami lihat value-nya itu naik hampir sekitar 17% walaupun volume turun 3,8%," tuturnya.

Sebagai informasi, harga nikel ditetapkan sebesar US$ 16,322,67 per dry metric tonne (dmt) di periode pertama Oktober 2026, sementara di periode kedua September 2026 di level US$ 16.698 per dmt.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News