KONTAN.CO.ID - Kasus hukum yang menjerat pendiri hedge fund asal Inggris Crispin Odey kembali memanas. Ia berusaha melawan keputusan regulator dengan mengajukan banding atas denda sekitar 1,8 miliar pound sterling atau setara Rp40,8 triliun. Investor yang lama dikenal sebagai tokoh berpengaruh di industri keuangan itu berusaha menghindari larangan bekerja di sektor jasa keuangan. Melansir
Reuters, proses banding tersebut mulai disidangkan pada Selasa (11/3) di Upper Tribunal London.
Sidang ini dipandang sebagai ujian penting bagi otoritas Inggris dalam menegakkan aturan terkait perilaku di tempat kerja di industri keuangan, khususnya di pusat finansial City of London.
Baca Juga: Bill Gates Mengakui Hubungan dengan Jeffrey Epstein, Bantah Keterlibatan Ilegal Crispin Odey: Bersinar Saat Krisis 2008
Crispin Odey merupakan sosok lama di dunia investasi Inggris. Ia mendirikan perusahaan hedge fund Odey Asset Management (OAM) pada tahun 1991 dan membangun reputasi sebagai investor agresif. Namanya melambung pada masa krisis keuangan global 2008, ketika ia meraup keuntungan besar dari strategi
short selling terhadap saham-saham perbankan yang saat itu mengalami tekanan hebat. Di luar aktivitas bisnis, Odey juga dikenal aktif dalam politik Inggris. Ia merupakan salah satu pendukung utama Brexit serta menjadi donatur bagi Partai Konservatif.
Baca Juga: Profil Peter Mandelson, Eks Dubes Inggris untuk AS yang Tersandung Kasus Epstein Tuduhan Pelecehan hingga Sanksi Regulator
Karier Odey kemudian dibayangi kontroversi setelah muncul berbagai tuduhan pelecehan seksual terhadap karyawan perempuan di perusahaannya. Menurut Financial Conduct Authority (FCA), Odey tidak hanya menghadapi tuduhan tersebut tetapi juga dianggap menghambat proses investigasi internal di Odey Asset Management. Regulator menyebut Odey dua kali memecat anggota komite eksekutif perusahaan pada 2021 dan 2022, saat komite tersebut sedang menangani penyelidikan terhadap keluhan perilaku tidak pantas. Dalam keputusan yang diumumkan tahun lalu, FCA menilai tindakan tersebut menunjukkan kurangnya integritas dalam menangani investigasi internal. Atas dasar itu, regulator memutuskan menjatuhkan denda besar serta melarang Odey bekerja di industri keuangan.
Baca Juga: Rangkaian Email Pangeran Andrew ke Epstein Terungkap, Ini Isinya Pembelaan Diri Odey
Melalui dokumen pengadilan yang diajukan tim pengacaranya dan dilihat Reuters, Odey membantah bahwa langkahnya dimaksudkan untuk menggagalkan penyelidikan. Ia menyatakan keputusan yang diambil saat itu justru bertujuan melindungi Odey Asset Management, yang menurutnya sedang menghadapi “krisis eksistensial.” Persidangan banding di London ini akan menentukan apakah sanksi berat yang dijatuhkan FCA tetap berlaku atau justru dibatalkan oleh pengadilan.
Baca Juga: Skandal Jeffrey Epstein Seret Bos DP World, Sultan Ahmed Bin Sulayem Undur Diri Budaya Kerja Industri Keuangan Inggris Terkespos
Kasus Odey juga muncul ketika regulator Inggris semakin fokus pada isu perilaku di lingkungan kerja sektor keuangan. Dalam studi besar pertama mengenai masalah tersebut, FCA menemukan bahwa laporan perundungan, diskriminasi, dan pelanggaran non-keuangan lainnya di perusahaan jasa keuangan meningkat hampir 60% dalam tiga tahun hingga 2023. Larangan industri terhadap Odey sendiri terutama berkaitan dengan bagaimana ia merespons penyelidikan internal di perusahaannya.
Pengacara FCA menyatakan bahwa Odey menunjukkan sikap meremehkan proses investigasi tersebut. Di luar perkara ini, Odey juga pernah menghadapi tuduhan penyerangan seksual terhadap seorang bankir perempuan muda pada 1998. Ia didakwa pada 2020 tetapi dibebaskan oleh pengadilan pada 2021 setelah melalui persidangan.
Baca Juga: SpaceX Milik Elon Musk Incar Listing di Nasdaq dan Targetkan Valuasi US$ 1,75 Triliun Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News