Depresiasi rupiah masih bayangi ISSP



JAKARTA. PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) memang memiliki prospek yang terbilang menarik. Produsen besi industri dengan merek dagang Spindo itu terimbas sentimen positif baik dari luar maupun dalam fundamentalnya sendiri.

Namun, bukan berarti semuanya itu berjalan dengan mulus. Masih ada sejumlah rintangan yang perlu dihadapi ISSP, seperti depresiasi rupiah dan tingginya beban perseroan.

"Dua hal ini yang membuat laba bersih ISSP bisa tertekan," Ujar Liga Maradona, analis Recapital Securities dalam risetnya belum lama ini.


Hingga kuartal III-2015, pendapatan ISSP boleh saja meningkat. Tapi laba bersihnya turun 23,6% year on year menjadi Rp 164,15 miliar. Ini karena naiknya beban operasional dan beban bunga, masing-masing sebesar 83,6% dan 38,1%. Selain itu, timbulnya rugi selisih kurs sebesar Rp 90,63 miliar juga menjadi faktor penghambat pertumbuhan laba ISSP.

Hal ini yang membuat Liga memprediksi ISSP akan mencatatkan laba bersih Rp 164,15 miliar pada 2015. Angka ini 23,4% lebih kecil dibanding realisasi laba bersih periode 2014.

Kendati demikian, Liga optimistis tahun ini bakal lebih kondusif. "Dengan segala sentimen positif yang ada, ISSP diprediksi akan mencatatkan laba bersih Rp 219,98 miliar dengan posisi penjualan Rp 3,96 triliun, naik 10% dibanding estimasi tahun lalu," imbuh Liga.

Dia merekomendasikan buy ISSP dengan target harga Rp 262 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie