Deretan Emiten Ini Bakal jadi Penadah Berkah dari Stimulus Ekonomi Pemerintah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan sejumlah program stimulus ekonomi untuk kuartal IV-2026 dengan tujuan menjaga daya beli masyarakat dan menggerakkan aktivitas ekonomi. Sederet program stimulus ekonomi tersebut dianggap akan membawa sentimen positif bagi perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang  mengatakan stimulus ekonomi pada kuartal IV berpotensi menjadi katalis positif bagi konsumsi domestik, karena sasarannya masyarakat berpendapatan rendah hingga menengah. Bantuan pangan mencapai Rp 17,5 triliun menyasar 33,24 juta keluarga, sementara Bantuan Subsidi Upah (BSU) sekitar Rp 12 triliun diberikan kepada 13,3 juta pekerja. 

Baca Juga: Wijaya Karya (WIKA) Targetkan Divestasi Aset Senilai Rp 5 Triliun Hingga 2028


"Dampaknya terhadap emiten kemungkinan lebih terasa pada sektor consumer staples dan ritel, karena tambahan daya beli akan meningkatkan ruang belanja masyarakat. Namun, stimulus ini lebih sebagai penopang konsumsi, bukan katalis yang secara langsung mengubah fundamental mayoritas emiten," kata Alrich kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).

Deretan Emiten yang Meraup Berkah dari Stimulus Ekonomi

Alrich mengungkapkan, AMRT, MIDI, ICBP, INDF dan MYOR menjadi emiten yang relevan dicermati dari sisi konsumsi. Ritel seperti AMRT dan MIDI berpotensi mendapat manfaat dari meningkatnya frekuensi belanja, sedangkan ICBP, INDF dan MYOR memiliki eksposur kuat terhadap kebutuhan konsumsi sehari-hari.

Khusus AMRT, jaringan gerai yang luas dan penetrasi ke segmen konsumen mass market membuatnya cukup relevan terhadap pemulihan daya beli. 

Sementara itu, program pembukaan rekening bagi masyarakat usia 17 tahun ke atas di desil 1–4 juga berpotensi meningkatkan inklusi dan aktivitas transaksi perbankan, meski dampaknya terhadap laba bank kemungkinan baru terlihat secara bertahap.

Alrich mengingatkan, investor sebaiknya tidak hanya mengejar saham yang mendapat sentimen stimulus. Yang lebih penting adalah melihat apakah stimulus tersebut benar-benar berkontribusi terhadap pertumbuhan volume penjualan, same-store sales growth, dan perbaikan margin pada laporan keuangan kuartal IV,

"Artinya, stimulus bisa menjadi trigger sentimen jangka pendek, tetapi keberlanjutan kenaikan harga saham tetap membutuhkan konfirmasi dari kinerja fundamental," jelas Alrich.

Baca Juga: Harga Bahan Baku Naik, Begini Prospek Saham Emiten Plastik hingga Akhir 2026

Dari sisi rekomendasi saham, Alrich menyarankan buy dengan target harga jangka pendek Rp 6.900-Rp 7.000 serta target jangka panjang di level Rp 7.400 per saham dan stop loss di bawah Rp 6.500 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News