Deretan Saham Ini Masih Jadi Buruan Investor Asing, Cek Prospeknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mencatatkan akumulasi pembelian oleh investor asing di tengah derasnya arus dana keluar asing dari IHSG. 

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) menjadi saham dengan nilai net foreign buy terbesar, yakni mencapai Rp 289,2 miliar pada perdagangan akhir Senin (2/11/2026). Selanjutnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatatkan net foreign buy sebesar Rp 47,7 miliar, diikuti PT Petrosea Tbk (PTRO) sebesar Rp 38,9 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) Rp 32,1 miliar, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp 32,1 miliar, serta sejumlah saham lainnya juga masuk dalam daftar tersebut.

Menariknya, dari 88 emiten yang masuk kategori High Shareholding Concentration (HSC), beberapa di antaranya ternyata masih mencatatkan net foreign buy. Saham PT MD Entertainment Tbk (FILM), misalnya, membukukan pembelian bersih asing sebesar Rp 23,1 miliar. Disusul PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp 19,9 miliar dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) sebesar Rp 2,2 miliar.


Baca Juga: Vantage Markets Perkuat Ekspansi di Indonesia, Andalkan Produk Emas

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan fenomena arus modal asing (net foreign buy) yang tetap mengalir ke emiten-emiten tertentu seperti ENRG, TPIA, PTRO, BRMS, hingga BBRI di tengah tingginya aksi lepas portofolio (net sell) pada IHSG menunjukkan bahwa investor asing sedang melakukan rotasi sektoral dan bottom hunting. 

Investor institusi global cenderung berfokus pada emiten yang memiliki katalis spesifik atau story-driven, seperti sentimen penguatan harga komoditas tambang dan energi, aksi ekspansi korporator yang agresif, maupun daya tahan fundamental emiten. 

Terkait saham-saham yang masuk dalam daftar High Share Concentration (HSC) seperti FILM, DSSA, dan PSAB namun tetap ditadah asing, ini mengindikasikan bahwa sebagian investor asing tetap melihat adanya potensi upside jangka panjang atau memanfaatkan momentum tactical trading. 

"Meskipun konsentrasi kepemilikan saham pada daftar HSC tergolong tinggi dan membawa risiko terbatasnya likuiditas, katalis fundamental dan ekspansi bisnis dari emiten-emiten tersebut tetap menjadi daya tarik akumulasi portofolio," kata Nafan kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).

Sementara itu, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand mengungkapkan net foreign buy di tengah net sell pasar umumnya didorong katalis spesifik masing-masing emiten. 

ENRG misalnya, mendapat sorotan dari investasi di aset migas Amerika Serikat, BRMS dari pemulihan produksi emas, PTRO dari kontrak jasa tambang jangka panjang, sedangkan BBRI dari valuasi yang sudah sangat terdiskon. 

Baca Juga: Investor Waspadai Risiko Struktural, CDS Indonesia Masih Dibayangi Tekanan

Untuk saham berstatus HSC, nilai net buy-nya relatif kecil, dan kategori investor asing dalam data bursa tidak selalu mencerminkan investor institusi global karena bisa mencakup entitas yang tercatat sebagai asing. 

"Karena itu, net buy di saham HSC sebaiknya tidak langsung dibaca sebagai sinyal kepercayaan investor global," ucap Abida.

Prospek Emiten

Secara fundamental, Nafan berpendapat prospek emiten-emiten tersebut cukup bervariasi bergantung pada dinamika sektoralnya masing-masing. 

Sektor tambang emas seperti BRMS dan PSAB sangat menarik dicermati karena diuntungkan oleh tren penguatan harga emas global sebagai aset safe haven, yang didukung oleh ekspansi kapasitas produksi domestik. 

Sementara itu, emiten seperti PTRO menarik berkat solidnya pengerjaan proyek-proyek infrastruktur dan pertambangan baru, serta TPIA dan DSSA yang terus memperluas diversifikasi bisnisnya. 

Di sisi lain, akumulasi asing pada saham berkapitalisasi besar seperti BBRI menegaskan perannya sebagai core holding perbankan nasional yang kuat, didorong oleh fundamental yang solid, kapabilitas penyaluran kredit segmen mikro, serta imbal hasil (yield) dividen yang konsisten menarik untuk jangka panjang.

Baca Juga: Rupiah Masih Tertekan Inflasi dan Geopolitik, Simak Proyeksi Besok Rabu (4/11)

Disamping itu, Abida menerangkan, perusahaan yang lebih menarik secara fundamental adalah emiten dengan kinerja laba yang jelas dan likuiditas memadai. BRMS dipandang positif, didukung pemulihan produksi Poboya dan ekspansi kapasitas pabrik. PTRO ditopang backlog kontrak yang besar dan diversifikasi bisnis. 

Lalu, BBRI menarik dari sisi valuasi, namun masih perlu konfirmasi perbaikan kualitas aset segmen mikro. ENRG dan TPIA lebih bersifat spekulatif karena bergantung pada realisasi proyek dan siklus komoditas.

Saran untuk Investor

Sentimen akumulasi asing ini pada dasarnya memberikan sinyal positif sekaligus dorongan kepercayaan diri bagi pasar bahwa harga emiten-emiten tersebut memiliki penahan (support) yang kuat di tengah koreksi IHSG. 

Namun, bagi investor domestik maupun ritel, alangkah baiknya jika arus modal asing ini dijadikan sebagai indikator pendukung belaka dan bukan satu-satunya acuan keputusan investasi. 

"Investor disarankan untuk tetap melakukan analisis komprehensif terhadap kualitas laporan keuangan dan valuasi emiten, serta mengevaluasi risiko volatilitas harga pada saham berstatus HSC secara disiplin," jelas Nafan.

Baca Juga: Harga Emas Global Tertekan, Pelemahan Rupiah Bisa Topang ETF Emas

Adapun Abida menilai net buy asing bisa menjadi sinyal awal, namun belum cukup sebagai dasar keputusan jika hanya terjadi satu atau dua hari.

Investor sebaiknya memastikan aliran dana tersebut konsisten selama beberapa hari, didukung fundamental yang kuat, dan terjadi pada saham dengan likuiditas memadai. 

"Untuk saham HSC, kehati-hatian perlu ditingkatkan karena free float yang terbatas membuat harga lebih rentan bergejolak, terlebih setelah saham-saham tersebut dikecualikan dari perhitungan IHSG," ujar Abida.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News