Desakan AS atas Greenland Picu Krisis, Mantan Bos NATO Minta Eropa Melawan



KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Mantan Sekretaris Jenderal NATO sekaligus eks Perdana Menteri Denmark, Anders Fogh Rasmussen, menilai pendekatan merayu Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah tidak lagi relevan. 

Menurut dia, Eropa harus bersikap tegas dan siap melawan secara ekonomi jika AS benar-benar menjatuhkan tarif kepada negara-negara anggota NATO yang mengirim pasukan ke Greenland.

Rasmussen menyebut desakan Trump agar Greenland, wilayah semi otonom milik Denmark, menjadi bagian dari Amerika Serikat sebagai tantangan terbesar bagi NATO sejak aliansi itu berdiri pada 1949.


“Ini benar-benar menyangkut masa depan NATO,” ujar Rasmussen dalam wawancara dengan Reuters di sela Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, Selasa (20/1/2026).

Baca Juga: Nasib Greenland: Trump Ungkap Panggilan Telepon dengan NATO Soal Keamanan Global

Rasmussen menegaskan, pendekatan diplomasi yang terlalu lunak terhadap Trump terbukti tidak efektif. 

"Waktu untuk menjilat sudah berakhir. Itu tidak berhasil. Faktanya, Trump hanya menghormati kekuatan dan ketegasan, serta persatuan. Itulah yang harus ditunjukkan Eropa sekarang," katanya.

Sebagai tokoh yang pernah memimpin Denmark pada 2001–2009 dan NATO pada 2009–2014, Rasmussen mengaku memiliki perspektif khusus dalam melihat krisis Greenland yang kini memicu ketegangan transatlantik.

Ia menegaskan tidak secara langsung mengkritik para pemimpin NATO saat ini, termasuk Sekjen NATO Mark Rutte yang belakangan melontarkan pujian kepada Trump. Namun, Rasmussen menilai sudah saatnya Eropa mengubah pendekatan.

Menurut dia, Uni Eropa perlu mempertimbangkan penggunaan Anti-Coercion Instrument, instrumen yang dijuluki “bazooka ekonomi” yang memungkinkan UE melakukan pembalasan luas terhadap tekanan ekonomi. 

Baca Juga: Pasukan Denmark Tambahan Tiba: Greenland Siaga Hadapi Ancaman Trump

Langkah ini dinilai relevan setelah Trump mengancam akan mengenakan tarif terhadap delapan negara Eropa hingga AS diizinkan membeli Greenland.

Trump sendiri beralasan bahwa kepemilikan AS atas Greenland sangat penting bagi keamanan nasional Amerika. Bahkan, dalam pesan singkat kepada Perdana Menteri Norwegia pada Minggu (19/1), Trump mengklaim telah “berbuat lebih banyak untuk NATO dibanding siapa pun sejak aliansi itu berdiri” dan menilai NATO kini seharusnya berbuat sesuatu untuk Amerika Serikat.