Destry Ungkap Alasan BI Tak Bisa Sembarangan Turunkan Suku Bunga



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengungkap alasan bank sentral tidak bisa sembarangan menurunkan suku bunga acuan di tengah kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Destry mengatakan, kondisi ekonomi global saat ini semakin kompleks. Oleh karena itu, kebijakan moneter BI tidak bisa hanya berpatokan pada kondisi inflasi domestik, tetapi juga harus mempertimbangkan perkembangan ekonomi dan pasar keuangan global.

"Kalau kita mau merespon dengan kekompleksan yang ada di dunia ini pasti gak akan mungkin bisa dengan satu kebijakan aja," kata Destry dalam acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, Kamis (3/9/2026).


Menurutnya, salah satu faktor yang menjadi pertimbangan BI adalah kondisi suku bunga dan imbal hasil obligasi di negara maju, khususnya Amerika Serikat dan Eropa. 

Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Risiko Kenaikan BI Rate Masih Mengintai

Saat ini, negara-negara tersebut masih menghadapi inflasi yang relatif tinggi sehingga ruang untuk menurunkan suku bunga menjadi lebih terbatas.

Di Amerika Serikat (AS), misalnya, yield obligasi pemerintah tenor lebih dari 30 tahun telah berada di atas 5,3%, sedangkan yield tenor 10 tahun mencapai sekitar 4,6%. 

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal yang berada di kisaran 3%.

Kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan bagi BI karena Indonesia tetap membutuhkan aliran modal asing atau inflow. 

Penurunan suku bunga yang terlalu agresif dapat memengaruhi daya tarik aset keuangan domestik di tengah tingginya imbal hasil aset global.

Baca Juga: Defisit Neraca Dagang Indonesia Melebar, BI Makin Sulit Pangkas Suku Bunga Agresif

"Kita butuh inflow juga masuk. Jadi kita kan harus juga menciptakan suatu kondisi dimana membuat aset kita itu masih bisa menarik oleh mereka," katanya.

Di sisi lain, Destry menegaskan BI tetap memiliki ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan perhitungan BI, perekonomian Indonesia saat ini masih berada di bawah level potensial sehingga ruang pertumbuhan masih cukup besar.

Namun, menurutnya, mendorong pertumbuhan tidak cukup hanya melalui kebijakan suku bunga. BI memilih mengoptimalkan bauran kebijakan, termasuk kebijakan makroprudensial.

"Kalau kita hanya mengandalkan kebijakan moneter itu pasti gak akan cukup," tambah Destry.

Baca Juga: BI Diproyeksi Pertahankan Suku Bunga, Ini Alasannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News