KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyebut kontribusi bank sentral terhadap pertumbuhan ekonomi tidak dapat dihitung secara langsung dalam bentuk persentase. Namun, BI dapat berkontribusi dengan menciptakan iklim ekonomi yang kondusif melalui kebijakan suku bunga, likuiditas, hingga insentif makroprudensial. Hal tersebut disampaikan Destry saat menjawab pertanyaan dari anggota Komisi XI DPR RI dalam uji kelayakan dan kepatutan atau
fit and proper test calon Gubernur BI, Rabu (26/8/2026).
Destry mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 5,29%. Namun, tidak mudah untuk menentukan berapa besar kontribusi BI secara langsung terhadap capaian pertumbuhan tersebut. "Tentunya kalau melihat seberapa besar kontribusi, berapa persen ke pertumbuhan ekonomi dari 5,29%, berapa besar BI berkontribusi terhadap pertumbuhan itu, itu mungkin tidak akan serta-merta bisa terjawab," ujar Destry.
Baca Juga: Destry Tegaskan Independensi BI Tak Akan Terkikis oleh Sinergi dengan Pemerintah Meski demikian, menurut dia, BI dapat berperan dengan menjaga kondisi likuiditas dan biaya dana agar tetap mendukung aktivitas ekonomi. Salah satunya melalui penambahan likuiditas di pasar ketika suku bunga meningkat. Destry menyebut, BI meningkatkan transaksi
repo untuk menambah likuiditas di pasar. Langkah tersebut turut mendorong suku bunga
overnight turun dari level tertingginya sebesar 6,5% menjadi sekitar 6%. "Nah ini yang tentunya nanti akan mempengaruhi
cost of fund dari perbankan juga," katanya. Selain melalui kebijakan likuiditas, Destry mengatakan kontribusi BI terhadap pertumbuhan ekonomi juga dilakukan melalui kebijakan makroprudensial, salah satunya Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Melalui kebijakan tersebut, BI memberikan insentif likuiditas kepada perbankan dengan total hingga 6% dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Destry menyebut, hingga Agustus 2026, sekitar Rp450 triliun dana telah kembali ke perbankan melalui kebijakan tersebut. Bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menjadi kelompok yang memperoleh insentif KLM paling besar. "Dan kalau kita lihat, Pak, sekarang growth kita ini kan juga memang masih sangat didrive oleh bank-bank Himbara," jelasnya.
Baca Juga: Destry Damayanti Janji Perkuat Keamanan QRIS Jika Terpilih Jadi Gubernur BI Menurut Destry, kondisi tersebut perlu diperluas dengan mendorong bank swasta agar mulai meningkatkan penyaluran kredit baru. Dengan demikian, pertumbuhan kredit tidak hanya bergantung pada perbankan Himbara. BI juga memberikan perhatian terhadap penyaluran kredit kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Destry mengatakan, pertumbuhan kredit UMKM memang masih relatif rendah, yakni sebesar 1,6%, meski sudah membaik dari sebelumnya yang mengalami kontraksi. Untuk mendorong pembiayaan UMKM, BI memberikan insentif makroprudensial berupa pelonggaran kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank yang meningkatkan penyaluran kredit ke sektor tersebut.
Selain itu, BI membuka mekanisme agar bank yang telah memiliki portofolio pembiayaan UMKM dapat memberikan sertifikasi atau surat berharga yang dapat dibeli oleh bank lain. Dengan mekanisme tersebut, bank lain dapat memenuhi kewajiban terkait rasio pembiayaan inklusif melalui instrumen tersebut. Di sisi lain, Destry menambahkan, pertumbuhan kredit perbankan hingga Juli 2026 telah mencapai lebih dari 13%. Pertumbuhan tersebut terutama masih didorong oleh bank-bank Himbara. "Jadi kalau kita lihat, berarti ada dana KLM kita yang sebenarnya menjadi sumber juga untuk pertumbuhan kredit dari bank Himbara tersebut," imbuh Destry. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News