KONTAN.CO.ID - Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Minggu (24/5/2026) mengatakan dirinya telah meminta para perwakilannya untuk tidak terburu-buru mencapai kesepakatan dengan Iran. Hal ini meredam harapan akan terobosan cepat dalam perang yang telah berlangsung selama tiga bulan. Padahal, harapan tersebut sebelumnya sempat meningkat sehari sebelumnya. Reuters melaporkan, blokade Amerika Serikat terhadap kapal-kapal Iran di Selat Hormuz akan “tetap diberlakukan sepenuhnya hingga kesepakatan tercapai, disertifikasi, dan ditandatangani,” tulis Trump di Truth Social. “Kedua pihak harus mengambil waktu dan memastikan semuanya tepat,” tambahnya. Belum ada tanggapan langsung dari pemerintah Iran. Namun kantor berita Tasnim, yang berafiliasi dengan Garda Revolusi Iran, mengatakan AS masih menghambat sejumlah bagian dari potensi kesepakatan, termasuk tuntutan Teheran agar dana Iran yang dibekukan dibebaskan.
Sehari sebelumnya, Trump mengatakan Washington dan Iran telah “sebagian besar merundingkan” nota kesepahaman mengenai perjanjian damai yang akan membuka kembali Selat Hormuz. Sebelum konflik, jalur tersebut dilalui seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global. Kedua pihak masih berselisih mengenai sejumlah isu sulit, seperti ambisi nuklir Iran, perang Israel di Lebanon melawan milisi Hizbullah yang didukung Iran, serta tuntutan Teheran agar sanksi dicabut dan puluhan miliar dolar pendapatan minyak Iran yang dibekukan di bank asing dilepaskan.
Baca Juga: Minyak Dunia Jatuh Hampir 5%, Kesepakatan Damai AS-Iran Bikin Pasar Lega Menyusun Detail Kesepakatan Seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan kepada wartawan bahwa kesepakatan tidak akan ditandatangani pada Minggu karena sistem politik Iran bergerak terlalu lambat. Namun ia menjelaskan garis besar terbaru dari negosiasi yang sedang berlangsung. Pejabat yang enggan disebutkan namanya itu mengatakan Iran telah menyetujui “secara prinsip” untuk membuka Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade laut AS, serta bersedia membuang uranium Iran yang telah diperkaya tinggi. Ia mengatakan AS memahami bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei telah menyetujui kerangka besar kesepakatan tersebut. Belum ada konfirmasi langsung dari Iran maupun penjelasan lebih lanjut mengenai arti kesepakatan “secara prinsip” tersebut. Pejabat AS itu mengatakan Washington membayangkan tahap pertama berupa pembukaan kembali selat dan pencabutan blokade laut AS. Sementara negosiasi detail terkait langkah-langkah nuklir akan membutuhkan waktu lebih lama. Pejabat senior kedua mengatakan kerangka usulan tersebut akan memberi waktu 60 hari bagi para negosiator untuk mencapai kesepakatan final. Sumber Iran sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa pada tahap selanjutnya, “formula yang memungkinkan” dapat ditemukan untuk menyelesaikan sengketa terkait stok uranium yang diperkaya tinggi, termasuk melalui pengenceran material di bawah pengawasan badan pengawas nuklir PBB. Iran selama ini membantah tuduhan AS dan Israel bahwa negara itu mengejar senjata nuklir dan menyatakan mereka memiliki hak memperkaya uranium untuk tujuan sipil. Namun tingkat kemurnian uranium Iran jauh melampaui kebutuhan pembangkit listrik. Tabel: Poin Utama Proposal Kesepakatan AS-Iran
| Poin Negosiasi | Isi Proposal |
| Pembukaan Selat Hormuz | Iran setuju membuka jalur pelayaran |
| Blokade AS | AS akan mencabut blokade laut |
| Uranium Iran | Iran bersedia membuang uranium yang diperkaya tinggi |
| Tenggat Negosiasi | Target kesepakatan final 60 hari |
| Dana Iran yang Dibekukan | Masih menjadi perdebatan |
Kesepakatan Picu Kritik di AS Trump, yang tingkat persetujuannya terdampak akibat kenaikan harga energi akibat perang dan menghadapi upaya Kongres membatasi kewenangan perangnya, berulang kali menonjolkan prospek tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang dimulai AS dan Israel pada 28 Februari. Gencatan senjata rapuh telah berlaku sejak awal April. Ketika detail potensi kesepakatan mulai muncul akhir pekan ini, para pengkritik termasuk mantan Menteri Luar Negeri Mike Pompeo dan anggota Partai Demokrat menilai kesepakatan tersebut tidak menawarkan banyak hal baru dibanding perjanjian nuklir Iran tahun 2015 yang dinegosiasikan mantan Presiden Barack Obama, yang sebelumnya ditinggalkan Trump pada masa jabatan pertamanya.
Tonton: Trump Mendadak Batalkan Pernikahan Anak, AS Bersiap Serang Iran? Chris Van Hollen, anggota Demokrat di Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS, mengatakan garis besar kesepakatan tersebut tidak lebih dari “kembali ke kondisi sebelum perang” dengan Iran. “Saya pikir ini sebuah kesalahan,” kata Van Hollen dalam program “Fox News Sunday”. “Ketika Anda sedang menggali lubang, Anda harus berhenti menggali, dan tampaknya mungkin itulah yang akhirnya kami lakukan.” Trump, yang juga menghadapi kritik dari kelompok konservatif garis keras atas kesediaannya berkompromi dengan Iran, membalas kritik tersebut. “Jika saya membuat kesepakatan dengan Iran, itu akan menjadi kesepakatan yang baik dan tepat... Jadi jangan dengarkan para pecundang yang mengkritik sesuatu yang tidak mereka pahami,” tulis Trump di Truth Social pada Minggu. Dalam potensi hambatan lain, seorang penasihat militer Iran untuk Khamenei mengatakan Teheran memiliki hak hukum untuk mengatur Selat Hormuz, meski belum jelas apakah itu berarti Iran tetap menentukan kapal mana yang boleh melintas. Garda Revolusi Iran mengatakan 33 kapal telah melintas di selat tersebut dalam 24 jam terakhir setelah mendapat izin dari Teheran, masih jauh di bawah angka normal sekitar 140 kapal per hari sebelum perang. Kesepakatan apa pun yang memperkuat gencatan senjata rapuh saat ini akan memberi kelegaan bagi pasar, tetapi tidak langsung mengakhiri krisis energi global yang telah mendorong kenaikan biaya bahan bakar, pupuk, dan pangan. Bahkan jika perang berakhir sekarang, arus penuh melalui selat tersebut diperkirakan belum akan kembali normal sebelum kuartal pertama atau kedua tahun 2027, kata kepala Abu Dhabi National Oil Company pekan lalu.
Pemboman AS-Israel terhadap Iran menewaskan ribuan orang di Iran sebelum dihentikan pada awal April. Israel juga menewaskan ribuan orang lainnya dan membuat ratusan ribu warga mengungsi dari rumah mereka di Lebanon, yang diinvasi untuk memburu Hizbullah. Serangan Iran terhadap Israel dan negara-negara Teluk tetangga juga menewaskan puluhan orang. Tabel: Dampak Konflik AS-Iran terhadap Pasar Energi Global
| Dampak | Keterangan |
| Harga energi naik | Harga minyak terdorong akibat gangguan pasokan |
| Lalu lintas Hormuz turun | Dari 140 kapal/hari menjadi 33 kapal |
| Pasokan LNG terganggu | Jalur Hormuz penting untuk LNG global |
| Pemulihan diperkirakan lama | Normalisasi pasokan diperkirakan baru terjadi 2027 |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News