DHE SDA Parkir di Himbara, Bank Swasta Atur Ulang Strategi Perputaran Valas



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank swasta nampaknya perlu mempersiapkan langkah strategis untuk menjaga perputaran dana valuta asing (valas) tetap optimal, mengingat sumber likuiditas valasnya bakal berkurang saat Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) resmi hanya ditempatkan di bank negara (Himbara). 

Pemerintah tengah menggodok revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 8 Tahun 2025 tentang DHE SDA. Salah satu poinnya adalah eksportir wajib menempatkan DHE SDA sepenuhnya di Himbara selama setahun. Targetnya, pembaruan ini mulai berlaku pada 1 Juni 2026.

Asal tahu saja, sebelumnya DHE SDA dapat ditempatkan di bank dalam negeri mana pun. Dengan pembaruan ini, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai bank swasta perlu menaruh perhatian lebih pada likuiditas valasnya.


Baca Juga: Aturan Baru DHE SDA Untungkan Himbara, Dana Valas Bisa Tembus Miliaran Dolar AS

“Kewajiban penempatan DHE SDA di Himbara tentunya akan mempengaruhi likuiditas valas sebagian besar bank swasta,” ujar Josua dalam media briefing pekan lalu. 

Dari sudut pandang pelaku industri, Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan sepakat bahwa kebijakan ini menjadi tantangan tersendiri bagi bank swasta. “Sedikit banyak pasti ada dampak terhadap likuiditas valas,” katanya. 

Di CIMB Niaga, Lani bilang kredit dan dana pihak ketiga (DPK) memang masih didominasi rupiah. Rasio kredit terhadap pendanaan (loan to deposit ratio/LDR) valas pun relatif rendah di bawah 70%. 

Namun begitu, kalau DHE SDA tak masuk sama sekali ke CIMB Niaga karena statusnya yang bukan Himbara, Lani menyebut pihaknya perlu mencari sumber likuiditas lain yang bisa jadi justru lebih mahal. 

Lani memastikan bank bakal mengantisipasi risiko dengan menyeimbangkan penyaluran kredit valas. “Kami hitung dengan baik apakah likuiditas tersedia dan harga likuiditas cukup memadai,” ujarnya. 

Baca Juga: Siap Kelola Tambahan Likuiditas, Bank Mandiri (BMRI) Dukung Aturan Baru DHE SDA

Sementara itu, dengan porsi DHE SDA yang relatif rendah, Bank Central Asia (BCA) optimistis likuiditas valas bakal tetap terjaga. EVP Corporate Communication BCA Hera F. Haryn merinci, pendanaan valas bank selama ini didukung oleh berbagai sumber, baik berasal dari individu, ritel, korporasi, maupun rekening khusus DHE.

Pun, ia memastikan BCA bakal menjaga keseimbangan antara kecukupan likuiditas valas dengan kredit valas. Sebagai gambaran, hingga Maret 2026 kredit dan DPK valas BCA masing-masing mencapai Rp 48,96 triliun dan Rp 96,61 triliun. Dus, LDR valas bank berada di posisi longgar kisaran 50%

Hingga saat ini, Hera bilang pihaknya mencermati rencana penempatan DHE SDA penuh di Himbara. Pun, BCA bakal terus berkoordinasi dengan pemerintah dan regulator untuk memperkuat industri jasa keuangan.

“Pada prinsipnya, BCA senantiasa selaras dengan kebijakan pemerintah, regulator, dan otoritas perbankan,” kata Hera.  

Bank Danamon juga mencermati risiko penurunan likuiditas valas di paruh kedua tahun nanti seiring penerapan kebijakan ini. Namun, Enterprise Banking & Financial Institution Director Bank Danamon Indonesia Thomas Sudarma menyebut, risiko tersebut masih dalam kondisi yang bisa dikelola. 

Toh, bank optimistis likuiditas valas masih bisa tumbuh. Selama ini DHE memang merupakan bagian dari struktur pendanaan valas bank, tetapi pengelolaan likuiditas juga dilakukan melalui berbagai sumber lainnya dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian. 

Dari sisi manajemen risiko, Thomas bilang pihaknya juga menerapkan stress testing berkala untuk mengantisipasi berbagai skenario pasar. “Melalui pendekatan ini, Danamon optimistis dapat menjaga stabilitas likuiditas valas, sekalipun terjadi perubahan pada salah satu sumber pendanaan,” sebut Thomas. 

Hingga Maret 2026, LDR valas bank berada di kisaran 57%. Untuk menjaga kecukupan valas, bank menjaga diversifikasi sumber pendanaan berjalan optimal agar tak bergantung pada satu sumber tertentu. Salah satunya dengan dukungan sumber pendanaan valas jangka panjang dari bank internasional, termasuk fasilitas yang berasal dari MUFG sebagai parent company. 

Tak jauh berbeda, Bank OCBC juga bakal mendorong diversifikasi sumber pendanaan valas sebagai langkah antisipasi. Head of Global Markets OCBC Robby Jiaw bilang, langkah ini dilakukan secara prudent melalui optimalisasi DPK, penguatan hubungan dengan nasabah, serta pengelolaan aset dan liabilitas yang berkesinambungan. 

Robby bilang hingga saat ini likuiditas valas OCBC tetap terjaga dan dikelola dengan baik. Sebagai gambaran, kredit dan DPK valas OCBC mencapai Rp 35,86 triliun dan Rp 88,44 triliun per Maret 2026, sehingga LDR valas bank berada di posisi longgar kisaran 40%.

Ke depannya, Robby memastikan pihaknya terus memantau kondisi likuiditas valas. “Bank akan terus melakukan pemantauan dan pengelolaan likuiditas secara berkesinambungan untuk menjaga stabilitas dan mendukung kebutuhan nasabah,” tuturnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News