KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan saham bank berkapitalisasi besar alias bis banks dalam perdagangan sepekan terakhir kompak menguat. Akan tetapi, di antara saham big banks, baru satu yang mencatatkan beli bersih atau net buy dari investor asing. Jika ditotal dalam perdagangan sepekan, antara Senin (6/4/2026) hingga Jumat (10/4/2026), keempat saham big banks tercatat mengalami penguatan. Secara rinci, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengalami penguatan paling tinggi. Harga saham BBRI saat ini berada di Rp 3.390 per saham atau naik 2,11% dalam sepekan.
Selanjutnya, harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) berada di Rp 6.700 atau naik 1,90% dalam sepekan. Titik tertinggi harga BBCA pekan ini ada di Rp 6.775 pada perdagangan Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Saham Big Banks Ditutup Menguat di Akhir Pekan Ini, Begini Proyeksi Analis Sedangkan, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) ditutup pada level Rp 3.730 atau naik 0,81%. Disusul oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang ditutup pada harga Rp 4.670 atau naik 0,43% dalam sepekan. Menguatnya harga saham big banks juga dibarengi dengan aksi jual asing atau net sell dari investor luar negeri yang semakin melandai. Tercatat dalam sepekan ini, BBNI memperoleh net buy sebesar Rp 141,6 miliar. Sementara itu, tiga saham big banks lainnya masih mengalami net sell. BBRI mengalami net sell paling tinggi mencapai Rp 1,43 triliun, BMRI mengalami net sell sebesar Rp 716,14 miliar, sedangkan BBCA mengalami net sell sebesar Rp 320,6 miliar. Senior Market Analyst
Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta sebelumnya telah memprediksi aksi jual saham dari investor asing akan segera melandai. Nafan menilai, pergerakan saham big banks di pekan depan akan kembali dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah. Kalau pelemahan rupiah yang terjadi dalam dua pekan terakhir ini dapat ditekan, investor asing akan kembali mengakumulasi saham Indonesia.
Baca Juga: Saham Big Banks Menguat Hingga Sesi Siang Jumat (10/4), Saham BBRI Naik Paling Tinggi Adapun Nafan mengimbau Bank Indonesia (BI) sebagai regulator untuk mengambil tindakan cepat dalam mengatasi pelemahan rupiah. Sampai dengan Jumat (10/4/2026), nilai tukar rupiah tercatat melemah 0,08% menjadi Rp 17.104 per dolar Amerika Serikat (AS). "P
elemahan rupiah ke kisaran Rp 17.100 per dolar AS seharusnya menjadi sinyal yang kuat bagi BI untuk melakukan intervensi secara agresif demi menjaga stabilitas nilai tukar melalui pasar spot ataupun pasar DNDF," kata Nafan. Nafan menilai, investor asing saat ini semakin mencermati nilai tukar mata uang untuk menentukan pembelian sahamnya. Mereka juga memperhatikan dampak dari kondisi geopolitik dunia terhadap Indonesia. Sebab itu, kalau nilai tukar rupiah berhasil kembali menguat, harga dari saham big bank berpotensi akan mengalami
rebound dalam perdagangan pekan depan. Baca Juga: BBNI Memimpin Penguatan Saham Big Banks Hari Ini, Rabu (8/4/2026) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News