Di Hadapan Investor,Purbaya Sebut Disiplin Fiskal RI Lebih Baik Dibanding Negara Maju



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pengelolaan dan disiplin fiskal Indonesia saat ini berada pada posisi yang lebih baik dibandingkan negara-negara di kawasan maupun sejumlah negara maju, meskipun belanja jumbo pemerintah telah mendorong defisit hampir mendekati batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Purbaya menjelaskan, kebijakan mendorong defisit mendekati batas atas dilakukan sebagai respons atas perlambatan ekonomi yang terjadi sejak awal 2024. Dalam kondisi tersebut, pemerintah perlu menjalankan kebijakan fiskal kontra-siklus guna mencegah perlambatan berubah menjadi resesi.

“Dalam ilmu ekonomi, ketika terjadi perlambatan, pemerintah harus menciptakan kebijakan kontra-siklus. Itu yang kami lakukan dengan memperluas fiskal dan memberikan stimulus,” ujar Purbaya dalam agenda Indonesia Economic Summit di Jakarta, Selasa (3/2/2026).


Baca Juga: Jaga Independensi BI, Purbaya Janji Tak Lakukan Burden Sharing

Purbaya mengklaim langkah tersebut berhasil membalikkan arah perekonomian mulai September 2025 dan berlanjut hingga akhir tahun. Namun, di saat yang sama, pemerintah tetap menjaga defisit agar tidak melampaui ambang batas 3% dari PDB.

“Kami berhasil membalikkan arah ekonomi, tapi tetap menjaga defisit di level 3%. Ini menunjukkan disiplin fiskal tetap terjaga,” tegasnya.

Ke depan, Purbaya menegaskan pemerintah berkomitmen mempertahankan batas defisit tersebut. Meski APBN tetap digunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah memahami adanya batas fiskal yang tidak boleh dilampaui.

Ia membandingkan posisi fiskal Indonesia dengan sejumlah negara lain. Menurut Purbaya, defisit fiskal Singapura saat ini berada di kisaran mendekati 3% dari PDB, sementara Amerika Serikat mencatat defisit sekitar 5%, Jepang sekitar 4%, dan negara-negara Eropa berkisar 4% hingga 5%.

“Dibandingkan Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa, kebijakan fiskal Indonesia jauh lebih baik,” katanya.

Baca Juga: Jelang Rilis Data PDB oleh BPS, Purbaya Optimis Pertumbuhan Ekonomi 2025 Capai 5,2%

Purbaya juga optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun menghadapi risiko perlambatan global, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian perdagangan. Ia menilai ketahanan ekonomi Indonesia berasal dari struktur permintaan domestik yang menyumbang sekitar 90% terhadap pertumbuhan.

“Jika kita fokus menjaga permintaan domestik, ekonomi kita akan tetap baik meskipun kondisi global tidak menentu,” ujarnya.

Ia menyinggung pengalaman pada krisis global 2009, ketika banyak negara mengalami kontraksi, sementara ekonomi Indonesia masih tumbuh 4,6% berkat kebijakan fiskal ekspansif dan dukungan moneter yang akomodatif.

Selain itu, Purbaya menilai koordinasi dengan bank sentral, perbaikan iklim investasi, serta dorongan kepada pemerintah daerah dan kementerian untuk membelanjakan anggaran secara efektif menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan.

Menutup pernyataannya, Purbaya menyampaikan pesan kepada investor internasional agar tidak ragu menanamkan modal di Indonesia. Menurutnya, pemerintah serius mengaktifkan seluruh mesin pertumbuhan, baik fiskal, moneter, maupun sektor swasta, serta terus memperbaiki iklim investasi.

"Satu tahun ke depan, Indonesia akan menjadi tempat investasi yang jauh lebih baik. Jangan terlambat berinvestasi di Indonesia,” pungkasnya.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Sebut Penerimaan Pajak Januari 2026 Diperkirakan Tumbuh 30%

Selanjutnya: Purbaya Sesumbar Tak Sulit Buat Rupiah Menguat ke Rp 15.000 Jika Dirinya di BI

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Besok Rabu 4 Februari 2026, Peluang Banyak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News