Di Negara Ini, Warga Bisa Jual Wajah untuk Pengembang AI, Harga Jutaan Rupiah
Senin, 21 September 2026 04:00 WIB
Oleh: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Beijing. Fenomena baru tengah marak di China, di mana semakin banyak platform lisensi wajah digital yang menghubungkan individu biasa dengan para pembuat konten kecerdasan buatan (AI). Tren ini memungkinkan warga biasa untuk memberikan izin penggunaan kemiripan wajah mereka untuk kebutuhan drama pendek, iklan, hingga permainan berbasis AI. Sejak April, transaksi "penjualan muka" pribadi yang sebelumnya hanya beredar secara sembunyi-sembunyi di dalam grup obrolan industri film dan televisi kini beralih secara bertahap ke platform publik yang lebih terstruktur. National Business Daily melaporkan bahwa seorang karyawan bank berhasil mengantongi hampir 2.500 yuan (sekitar Rp 6,6 juta) setelah potret dirinya dibeli oleh sebuah perusahaan periklanan sebanyak tujuh kali hanya dalam kurun waktu tiga hari.
Baca Juga: Houthi Klaim Serang Riyadh dengan Rudal dan Drone, Asap Membubung Dekat Bandara Kontrol dan Batasan Penggunaan oleh Warga Salah satu platform terkemuka yang mewadahi tren ini adalah Yuanxiang Xinsheng yang berbasis di Shenzhen dan diluncurkan pada Mei lalu. Melalui platform ini, pengguna dapat membuat profil aktor digital setelah menyelesaikan registrasi dan verifikasi identitas. Pengguna memiliki kebebasan penuh untuk menentukan ketentuan otorisasi mereka, seperti:
Menetapkan durasi penggunaan konten.
Menentukan batasan konten terlarang.
Mengatur hak adaptasi sekunder dengan biaya otorisasi bervariasi mulai dari 50 yuan (Rp 132.979) hingga 100.000 yuan (sekitar Rp 266 juta).
Sebagai contoh, seorang pria berusia 34 tahun bernama Chen mematok tarif 99 yuan (sekitar Rp 263.299) untuk sekali penggunaan wajahnya. Ia mengizinkan penampilannya dipakai dalam produksi bertema romantis dan keluarga, namun secara tegas menolak konten horor serta konten seksual eksplisit. Sementara itu, seorang wanita asal Guangdong bernama Kele bergabung dengan platform serupa demi melindungi identitas digitalnya. “Saya tidak lagi khawatir AI mencuri wajah saya. Jika seseorang ingin menggunakannya, mereka harus membayar saya,” ujarnya, dikutip dari SCMP. Meskipun kreator video AI dapat mencari dan memperoleh hak penggunaan aktor digital, pihak Yuanxiang Xinsheng menegaskan bahwa otorisasi tersebut tidak mencakup hak pelatihan AI, kecuali jika disepakati secara eksplisit oleh kedua belah pihak. Skenario penggunaan ini umumnya diklasifikasikan untuk iklan televisi (TVC), pembuatan model, film, animasi, hingga permainan. Tonton: Upah Minimum 2027: Angka Buruh vs Formula Pemerintah Bayang-bayang Kekhawatiran Privasi dan Hukum
Di balik potensi ekonomi yang menggiurkan bagi masyarakat awam, para ahli hukum melayangkan peringatan keras terkait celah privasi dan persetujuan (consent), khususnya yang menyangkut perlindungan data wajah anak di bawah umur. Seorang pengacara dari Firma Hukum Hairun Tianrui, Dai Yue, menyoroti adanya klausul kontrak tertentu yang mewajibkan pengguna untuk melepaskan klaim atas potret, suara, nama, serta hak-hak pribadi lainnya. Selain itu, regulasi yang diterapkan platform dinilai tidak seimbang. Pengguna biasa terancam denda minimal 50.000 yuan (sekitar Rp 131,8 juta) jika mencabut otorisasi sebelum waktunya, sementara pihak platform menanggung konsekuensi dan kewajiban yang jauh lebih ringan apabila terjadi keterlambatan pembayaran. Berdasarkan laporan Beijing News, sejumlah platform lisensi data wajah bahkan kedapatan menggunakan perjanjian sepihak yang secara tidak proporsional lebih menguntungkan operator ketimbang pengguna. Sumber: https://internasional.kompas.com/read/2026/09/20/130000970/marak-di-china-warga-jual-lisensi-wajah-untuk-konten-ai-raup-ratusan.
Asap Hitam di Bandara Riyadh: Apa Hubungannya dengan Konflik Houthi?