KONTAN.CO.ID - Ambulans yang tiba di sebuah rumah sakit di Beirut pada Kamis (9/4/2026) langsung menuju kamar mayat, melewati ruang gawat darurat. Para tenaga medis yang kelelahan menurunkan kantong-kantong berisi potongan tubuh agar keluarga korban dapat mengenalinya sebelum pemakaman.
Baca Juga: Situasi Memanas, Kapal Perang Rusia Kawal Tanker Minyak yang Lewati Selat Inggris Melansir
Reuters, hampir 24 jam setelah serangan Israel paling mematikan di ibu kota Lebanon dalam beberapa dekade terakhir, tim penyelamat masih bekerja mengevakuasi tubuh-tubuh yang hancur di bawah reruntuhan bangunan. Lebih dari 250 orang tewas di seluruh Lebanon pada Rabu, termasuk di pusat Beirut, serangan yang datang tanpa peringatan. Di antara korban adalah saudara dan keponakan remaja Kheir Hamiyeh, 54 tahun, yang tewas dalam serangan di Hay el-Sellum, distrik padat penduduk di Beirut. “Kami menunggu karena jumlah orang sangat banyak, banyak syuhada… semuanya anak-anak dan wanita,” kata Hamiyeh di luar kamar mayat Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri. Serangan Israel, yang menurut Tel Aviv menargetkan kelompok bersenjata Hezbollah yang dekat dengan Iran, menghancurkan rumah mereka dan melukai keponakan Hamiyeh, Khadija, yang berdiri di sampingnya dengan perban di wajah.
Baca Juga: IMF Prediksi Permintaan Dana Bantuan Tembus US$ 50 Miliar Imbas Perang Timur Tengah “Ayahnya tewas, saudaranya tewas. Dia hanya punya satu saudara laki-laki lagi. Apa yang bisa kami lakukan?” ujar Hamiyeh. Ibu Khadija, Zeinab, mengatakan kepada Reuters dengan suara terisak bahwa dia harus membawa jenazah suami dan putranya yang berusia 13 tahun ke lantai bawah sendirian. Penyelamat Menggambarkan Evakuasi Tubuh yang Hancur Layanan pertahanan sipil Lebanon mencatat setidaknya 92 orang tewas dalam serangan Israel di Beirut pada Rabu. Tambahan 61 orang tewas di pinggiran selatan kota. Seorang penyelamat di luar Rumah Sakit Rafik Hariri mengatakan, ia menghabiskan Rabu dan Kamis mencoba mengevakuasi korban dari blok apartemen yang hancur di seluruh kota.
Baca Juga: Serangan Israel ke Lebanon Ancam Gencatan Senjata, Selat Hormuz Masih Tertutup “Kami menyatukan potongan-potongan orang karena semuanya terpotong. Saya belum pernah melihat seperti ini sebelumnya,” kata penyelamat tersebut, yang meminta namanya tidak disebut karena tidak berwenang berbicara dengan pers. Keluarga yang menunggu di pintu kamar mayat terdengar menangis sambil menelepon kerabat lain untuk memberitahu bahwa mereka berhasil mengenali orang yang mereka cintai. Tiga wanita duduk di trotoar saling menahan agar tidak jatuh. “Jumlahnya tinggi, situasinya bencana dan menyakitkan,” kata direktur rumah sakit, Dr. Mohammad al-Zaatari. Ia enggan merinci jumlah jenazah di kamar mayat, namun seorang petugas penyelamat mengatakan ada setidaknya 100 jenazah di dalam. Zaatari menambahkan bahwa siapa pun yang kehilangan kerabat harus menghubungi rumah sakit Beirut, yang akan melakukan tes DNA untuk jenazah yang terlalu hancur untuk dikenali.
Baca Juga: Selat Hormuz Nyaris Lumpuh, Lalu Lintas Kapal Anjlok di Bawah 10% “Rumah-rumah Hancur Begitu Saja” Para penyelamat mengatakan mereka kesulitan mencapai beberapa bangunan yang dibom karena jalan terlalu sempit untuk ambulans dan buldoser. Nada Jaber menceritakan bahwa keponakannya tewas dalam serangan, namun tubuhnya baru bisa dievakuasi pada Kamis pagi. “Rumah-rumah itu meledak begitu saja,” kata Nada. Beberapa jam sebelum serangan, militer Israel telah mengeluarkan peringatan evakuasi massal untuk pinggiran selatan Beirut dan Lebanon selatan, tetapi tidak menyebut lokasi serangan yang tepat. Pusat Beirut juga dibom tanpa peringatan.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Amerika Serikat (AS) Kuartal IV 2025 Direvisi Turun Jadi 0,5% Abdelrahman Mohammed, pria Suriah berusia 24 tahun yang tinggal di Beirut sejak perang Suriah 2011, mengatakan ia kehilangan lima anggota keluarganya. Ia baru saja mengantar saudara perempuannya ketika serangan Israel menghantam lingkungan mereka. “Saya kembali dan tidak menemukan bangunan itu. Tidak menemukan saudara perempuan saya, tidak ada keluarga saya. Tidak satupun,” kata Mohammed. “Saya tidak punya saudara perempuan lagi… saya datang dari Suriah pada 2011 dan sekarang kembali membawa lima syuhada keluarga saya.” Beberapa warga Suriah lain juga menyatakan kerabat mereka tewas dalam serangan.
Mohammed menambahkan, “Banyak syuhada Suriah, bukan hanya keluarga saya. Banyak. Tanyakan saja. Darah Suriah dan Lebanon bercampur.”
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Naik Tipis, The Fed Makin Pede Tahan Suku Bunga Israel, yang bulan lalu menyerbu Lebanon untuk menyingkirkan Hezbollah di tengah perang dengan Iran, mengatakan aksinya tidak termasuk gencatan senjata yang diumumkan Presiden Donald Trump Selasa malam. Sementara Pakistan, mediator pembicaraan AS-Iran, menyatakan gencatan senjata mencakup Lebanon.