Di Sekolah Indonesia Jeddah, Anak Perantauan Belajar Mengenal Tanah Air



KONTAN.CO.ID – MADINAH. Di tengah dinamika Kota Jeddah, Arab Saudi yang setiap tahun menjadi gerbang kedatangan jutaan jamaah haji dari berbagai negara, terdapat sebuah lembaga pendidikan yang mengemban peran lebih dari sekadar menyampaikan pelajaran di ruang kelas.

Sekolah Indonesia Jeddah (SIJ) hadir sebagai ruang bagi anak-anak Indonesia di perantauan untuk mengenal akar budayanya, mulai dari bahasa dan tradisi hingga nilai-nilai kesopanan seperti menghormati guru dengan mencium tangan.

Dengan jumlah siswa mencapai 1.368 orang yang berasal dari berbagai latar belakang, termasuk keluarga hasil pernikahan campuran serta siswa berkebutuhan khusus, SIJ menjadi wadah pendidikan sekaligus penjaga jati diri bangsa di tengah kehidupan diaspora Indonesia di Arab Saudi.


Baca Juga: Menhan Minta Tambahan Anggaran Rp 195 Triliun, Sebut TNI Kini Pikul Tugas Lebih Luas

Pagi hari di SIJ selalu diwarnai keberagaman kisah para siswanya. Sebagian merupakan anak diplomat, sebagian lainnya putra-putri pekerja migran Indonesia yang mencari nafkah di Arab Saudi. Ada pula anak-anak yang lahir dari keluarga multikultural, dengan ibu berkebangsaan Indonesia dan ayah warga negara asing.

Meski tumbuh dan besar jauh dari kampung halaman, mereka memiliki satu benang merah yang menyatukan: ikatan dengan Indonesia yang terus dipupuk melalui pendidikan di SIJ.

Kepala Sekolah Indonesia Jeddah, Mahrani, M.Pd mengatakan SIJ saat ini menaungi seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Mengelola berbagai jenjang pendidikan dalam satu lembaga bukan persoalan baru bagi SIJ. Menurut Mahrani, tantangan justru lebih banyak dirasakan para guru yang baru datang dari Indonesia.

"Mereka harus beradaptasi karena di sini sering kali mengajar lebih dari satu jenjang pendidikan," ujarnya.

Saat ini SIJ melayani 1.368 siswa dengan dukungan 78 tenaga pendidik dan kependidikan yang terdiri atas 56 guru dan 22 tenaga kependidikan.

Baca Juga: Prabowo Singgung Elit Kritik Dirinya Lawatan ke Luar Negeri: Geopolitik Sedang Kacau

Jumlah siswa yang besar itu mencerminkan beragamnya komunitas Indonesia di Arab Saudi. Lebih dari 30% peserta didik berasal dari keluarga “mixed marriage”, yakni ibu warga negara Indonesia dan ayah berkewarganegaraan asing. Sebagian dari mereka bahkan memegang kewarganegaraan ganda sebelum nantinya menentukan status kewarganegaraan saat dewasa.

Walaupun berlokasi jauh dari Indonesia, SIJ tetap mengacu pada kurikulum nasional sebagai dasar proses pembelajaran. Namun, penerapannya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan tempat sekolah berada. Adaptasi tersebut dilakukan agar kegiatan belajar mengajar tetap relevan dengan kehidupan siswa yang tumbuh di Arab Saudi.

Salah satu penyesuaian terlihat pada kalender pendidikan. Ketika musim haji berlangsung, aktivitas sekolah harus dihentikan sementara karena berbagai faktor yang berkaitan dengan penyelenggaraan ibadah haji. Kondisi ini membuat pihak sekolah perlu menyusun kembali jadwal pembelajaran agar target pendidikan tetap tercapai.

Bagi SIJ, tantangan terbesar bukan hanya soal akademik. Ada tugas lain yang jauh lebih mendasar, yakni menanamkan identitas kebangsaan kepada anak-anak Indonesia yang lahir dan tumbuh di luar negeri.

Sebagian siswa bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Karena itu, proses mengenalkan Indonesia dilakukan sejak mereka memasuki lingkungan sekolah. Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama komunikasi. Budaya menghormati guru dibiasakan melalui salam dan cium tangan. Berbagai kegiatan sekolah juga dirancang untuk memperkenalkan nilai, tradisi, dan budaya Nusantara.

"Anak-anak harus tetap mengenal Indonesia meskipun mereka lahir dan besar di Arab Saudi," kata Mahrani.

Baca Juga: BI Isyaratkan Kerek Suku Bunga Lagi & Membiarkan Imbal Hasil Obligasi Naik

Bagi banyak keluarga Indonesia di Arab Saudi, sekolah ini menjadi jembatan yang menghubungkan anak-anak mereka dengan akar budaya yang mungkin hanya mereka kenal dari cerita orang tua.

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, SIJ berpegang teguh pada satu komitmen utama: memastikan setiap anak Indonesia tetap memperoleh hak atas pendidikan. Atas dasar itu, sekolah tidak memberlakukan sistem penerimaan seperti jalur zonasi, jalur prestasi, maupun persyaratan perpindahan tugas orang tua yang umum diterapkan di Indonesia.

Bagi SIJ, status sebagai warga negara Indonesia menjadi pertimbangan utama. Selama seorang anak berkewarganegaraan Indonesia dan memiliki keinginan untuk bersekolah, pihak sekolah akan berusaha membuka jalan dan mencari solusi agar yang bersangkutan tetap dapat mengakses pendidikan.

"Tidak boleh ada anak Indonesia yang putus sekolah atau tidak mendapatkan akses pendidikan," tegas Mahrani.

Komitmen tersebut sering kali menghadirkan tantangan tersendiri. Ada siswa yang datang terlambat mendaftar sehingga usia dan jenjang pendidikannya tidak lagi sesuai. Namun sekolah tetap berusaha mencarikan jalan keluar agar mereka dapat melanjutkan pendidikan.

Komitmen inklusif SIJ juga terlihat dari keberadaan kelas khusus bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). SIJ menjadi satu-satunya Sekolah Indonesia di Luar Negeri (SILN) yang memiliki layanan pendidikan khusus untuk kelompok ini. Program tersebut mulai diterapkan sejak tahun ajaran lalu sebagai respons terhadap kebutuhan siswa dan keterbatasan sistem pendidikan inklusif yang tersedia di sekitar mereka.

Saat ini terdapat sekitar 14 siswa berkebutuhan khusus yang memperoleh layanan sesuai karakteristik masing-masing, termasuk siswa dengan disleksia dan spektrum autisme. Mereka menggunakan kurikulum yang dirancang berdasarkan kemampuan individu. Penilaian pun tidak semata-mata berbentuk angka rapor. Guru memberikan deskripsi perkembangan dan capaian belajar yang dapat menjadi panduan bagi orang tua dalam mendampingi anak di rumah.

Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Anggaran Negara Hemat Rp 11,4 Triliun Tapi Ada Risiko Migrasi

Di sisi lain, SIJ masih menghadapi persoalan klasik: keterbatasan ruang kelas dan tenaga pengajar. Untuk mengatasi masalah tersebut, sekolah mengembangkan program PKBM melalui skema Kejar Paket A, B, dan C.

Pembelajaran dilaksanakan secara daring, sementara siswa datang ke sekolah pada waktu-waktu tertentu untuk kegiatan akademik dan evaluasi. Jika tersedia kursi kosong di kelas reguler, peserta didik PKBM dapat dipindahkan ke jalur pendidikan formal. Skema ini memungkinkan lebih banyak anak Indonesia tetap memperoleh layanan pendidikan meski daya tampung sekolah belum memadai.

Bukan hanya soal ruang kelas, bban terbesar saat ini terletak pada rasio guru dan siswa yang belum ideal. Dengan 56 guru yang melayani 1.368 siswa, setiap tenaga pendidik harus menangani jumlah peserta didik yang jauh lebih besar dibandingkan standar ideal.

Menurut perhitungan sekolah, jumlah guru yang tersedia sebenarnya hanya cukup untuk melayani sekitar 600 siswa. Untuk menutup kekurangan tersebut, komite sekolah menghadirkan guru lokal melalui pembiayaan yang bersumber dari sumbangan orang tua dan mekanisme subsidi silang. Dana yang sama juga digunakan untuk membantu lebih dari 100 siswa yatim yang menempuh pendidikan di SIJ.

Di tengah berbagai keberhasilan yang telah diraih, SIJ masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan fasilitas karena hingga kini beroperasi di gedung sewaan dengan biaya mencapai Rp6,5 miliar per tahun. Namun, peluang untuk memiliki kampus sendiri mulai terbuka setelah pemerintah Arab Saudi memberikan persetujuan penggunaan lahan selama 50 tahun bagi pengembangan sekolah tersebut.

Realisasi proyek ini melibatkan sinergi lintas kementerian. Kementerian Luar Negeri bertugas mengurus aspek penyediaan lahan, Kementerian Pekerjaan Umum menangani pembangunan gedung dan infrastruktur, sedangkan Kementerian Pendidikan menyiapkan sistem pengelolaan serta kebutuhan sarana pembelajaran.

Menurut Mahrani, meningkatnya perhatian pemerintah terhadap SIJ tercermin dari sejumlah kunjungan pejabat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu menunjukkan bahwa keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak Indonesia di Arab Saudi menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian khusus.

Meskipun pembangunan kampus permanen masih memerlukan waktu, optimisme tetap terjaga. Bagi ribuan pelajar Indonesia yang tumbuh jauh dari tanah kelahirannya, SIJ memiliki makna yang melampaui fungsi sebuah institusi pendidikan. Sekolah ini menjadi ruang yang menjaga kedekatan mereka dengan Indonesia, tempat nilai, budaya, dan identitas kebangsaan terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya di Tanah Suci.

Baca Juga: Ada di Hotel, Klinik Satelit Madinah Jadi Garda Terdepan Layani Kesehatan Jemaah Haji

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News