KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Sejumlah bank asing menjadi sorotan setelah dikabarkan menarik dana dalam jumlah besar atau cash out dari Indonesia. Mengutip Bloomberg, unit usaha Citigroup Inc., Standard Chartered Plc., dan HSBC Holdings Plc. telah menarik dana sekitar Rp 11,5 triliun dari Indonesia dalam dua tahun terakhir. Nilai tersebut bahkan disebut melampaui akumulasi laba yang mereka bukukan pada periode yang sama. Sepanjang 2025, PT Bank HSBC Indonesia membagikan dividen tunai sekitar Rp 2,95 triliun yang terdiri dari dividen reguler Rp 1,32 triliun dan dividen khusus Rp 1,64 triliun.
Baca Juga: Laba Asuransi Jiwa Konvensional Meningkat 26,38% per April 2026 Berdasarkan laporan tahunan perseroan, dividen khusus berasal dari saldo laba ditahan, sedangkan dividen reguler menggunakan laba tahun buku 2024 yang telah disetujui pemegang saham. Menanggapi hal tersebut, HSBC Indonesia menegaskan pembagian dividen merupakan bagian dari dinamika bisnis yang normal. Perseroan juga menilai Indonesia tetap menjadi salah satu pasar strategis di tengah perubahan peta perdagangan dan rantai pasok di Asia. "Indonesia membawa skala dan momentum bagi fase pertumbuhan Asia berikutnya. Seiring kawasan menyesuaikan kembali peta perdagangan dan rantai pasoknya, HSBC berada pada posisi yang unik untuk menghubungkan ambisi industrial Indonesia dengan modal global. Kami akan terus memprioritaskan fokus pada peluang pertumbuhan ini," ujar perwakilan HSBC Indonesia kepada Kontan. Sementara itu, laporan tahunan Standard Chartered Indonesia dan Citibank N.A. Indonesia menunjukkan keduanya juga melakukan distribusi laba kepada kantor pusat sepanjang 2025. Namun pada saat yang sama, kedua bank tersebut masih mencatat kenaikan saldo laba yang belum diremitansikan ke kantor pusat. Standard Chartered, misalnya, mentransfer laba sebesar Rp 388 miliar, sementara saldo laba yang belum diremitansikan meningkat menjadi Rp 967,6 miliar dari Rp 442,4 miliar pada tahun sebelumnya. Presiden Direktur Citibank N.A. Indonesia Batara Sianturi menegaskan aktivitas tersebut merupakan fenomena tahunan yang terjadi pada musim pembagian dividen. Menurutnya, setelah laporan keuangan perusahaan selesai diaudit pada Maret, mayoritas perusahaan mulai membagikan dividen kepada pemegang saham pada periode April hingga Juni.
Baca Juga: Kebutuhan Pembiayaan Produktif Masih Besar, Amartha Fokus ke UMKM "Itu
business as usual. Kami tetap berkomitmen di Indonesia dan kami akan terus berada di sini," ujar Batara. Ia menambahkan, remitansi dividen tidak hanya dilakukan industri perbankan, melainkan hampir seluruh perusahaan. "Setiap tahun juga seperti itu. Itu kan dividend season. Jadi bukan cuma bank, nonbank juga melakukan hal yang sama," katanya.
Kinerja tetap bertumbuh
Di tengah isu tersebut, kinerja bank-bank asing di Indonesia hingga Mei 2026 masih menunjukkan pertumbuhan bisnis. HSBC Indonesia membukukan laba bersih Rp 1,09 triliun hingga Mei 2026, turun 12,10% secara tahunan (year on year/YoY). Penurunan laba sejalan dengan pendapatan bunga bersih (NII) yang terkoreksi 10,94% YoY menjadi Rp 1,71 triliun. Di sisi lain, kredit masih tumbuh 6,99% YoY menjadi Rp 75,02 triliun. Total aset meningkat 19,97% YoY menjadi Rp 161,83 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) naik 23,07% YoY menjadi Rp 141,68 triliun. Standard Chartered Indonesia bahkan mencatatkan pertumbuhan laba bersih 59,40% YoY menjadi Rp 553,62 miliar. Pendapatan bunga bersih meningkat 21,49% YoY menjadi Rp 1,67 triliun. Kredit tumbuh 23,68% YoY menjadi Rp 37,12 triliun, diikuti kenaikan aset 11,73% YoY menjadi Rp 104,72 triliun dan DPK meningkat 13,94% YoY menjadi Rp 55,56 triliun.
Baca Juga: Allianz Research: Asia Tetap Jadi Motor Pertumbuhan Industri Asuransi Global Sementara Citibank N.A. Indonesia membukukan laba bersih Rp 906,2 miliar hingga Mei 2026 atau turun 18,07% YoY. Meski demikian, penyaluran kredit masih tumbuh 5,80% YoY menjadi Rp 28,16 triliun. Total aset meningkat 23,42% YoY menjadi Rp 117,16 triliun, sedangkan DPK bertambah 20,21% YoY menjadi Rp 72,89 triliun. Batara mengatakan, Citi Indonesia tetap optimistis menghadapi semester II-2026. Perseroan memperkirakan kondisi pasar akan lebih kondusif seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. "Kami cukup puas dengan kinerja lima bulan pertama tahun ini. Kami melihat pertumbuhan kredit yang baik dan pertumbuhan dana pihak ketiga yang juga kuat," ujarnya. Dari sisi penyaluran kredit, Citi Indonesia masih memfokuskan pembiayaan pada segmen korporasi. Pada semester I-2026, sektor multifinance, lembaga keuangan nonbank, makanan dan minuman (F&B), serta manufaktur menjadi kontributor utama pertumbuhan kredit korporasi. Sementara pada segmen commercial banking, pertumbuhan kredit terutama berasal dari perusahaan-perusahaan teknologi yang sedang berkembang.
Baca Juga: Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 17,77 Triliun hingga Mei 2026 Menurut Batara, permintaan pembiayaan dari nasabah korporasi juga masih terjaga. Citi Indonesia melihat kebutuhan kredit modal kerja untuk operasional maupun kredit investasi masih tumbuh relatif seimbang, baik dari perusahaan multinasional maupun korporasi domestik. Likuiditas perseroan juga dinilai masih sangat kuat. Batara mengatakan rasio loan to deposit ratio (LDR) masih memiliki ruang yang besar untuk mendukung ekspansi kredit. "Kami masih memiliki ruang yang cukup besar untuk meningkatkan penyaluran kredit karena kondisi likuiditas sangat memadai," katanya. Untuk sisa tahun ini, Citi Indonesia menargetkan pertumbuhan DPK pada kisaran high single digit, sedangkan pertumbuhan kredit dipatok pada level mid single digit. Di sisi lain, Kepala Riset Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan menilai aksi repatriasi laba bank asing lebih tepat dipandang sebagai aksi korporasi yang wajar dibandingkan sinyal memburuknya prospek industri perbankan nasional. Menurutnya, repatriasi dana umumnya didorong strategi alokasi modal global, kebutuhan likuiditas kantor pusat, optimalisasi dividen, hingga penyesuaian portofolio bisnis. Selama fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, fenomena tersebut lebih mencerminkan penyesuaian strategi bisnis dibandingkan berkurangnya daya tarik investasi di sektor perbankan. Pandangan serupa disampaikan Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede. Ia menilai kinerja bank asing di Indonesia masih relatif terjaga, meski pola persaingannya berbeda dengan bank-bank domestik besar. Menurut Josua, bank asing sulit menandingi bank lokal dalam penghimpunan dana murah ritel, jaringan nasabah massal, serta ekosistem transaksi harian. Namun, mereka tetap memiliki keunggulan pada pembiayaan korporasi, trade finance, transaksi lintas negara, treasury, wealth management, pembiayaan proyek, dan layanan bagi perusahaan multinasional.
Baca Juga: OJK Resmi Optimalkan SLIK, Data Kredit Lunas Wajib Dilaporkan Maksimal 3 Hari "Bank asing tidak mudah menandingi bank lokal besar dalam dana murah ritel maupun jaringan nasabah massal. Namun mereka tetap memiliki ruang yang kuat pada bisnis korporasi dan layanan lintas negara," ujar Josua kepada Kontan. Ia menambahkan, hal tersebut tercermin dari rata-rata Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) kelompok Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) yang hanya sekitar 5,19% pada April 2026, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata industri perbankan sebesar 8,62%. Menurutnya, kondisi itu mencerminkan fokus bank asing pada debitur korporasi berkualitas tinggi dengan profil risiko yang lebih rendah. Josua bilang, strategi yang perlu ditempuh bank asing bukan mengejar seluruh segmen pasar, melainkan memperkuat ceruk bisnis yang menjadi keunggulannya. Mulai dari pembiayaan perusahaan multinasional asal Jepang, Korea Selatan, Singapura, Tiongkok hingga Eropa, memperbesar bisnis supply chain financing, ekspor-impor, treasury, transaksi valuta asing, hingga layanan cash management korporasi dan wealth management. Selain itu, bank asing juga perlu lebih adaptif terhadap karakteristik pasar domestik, termasuk memahami sektor-sektor strategis seperti hilirisasi, energi, logistik, manufaktur ekspor, kesehatan, pangan, hingga ekonomi digital.
Menurut Josua, dukungan pemegang saham asing juga menjadi pembeda penting karena tidak hanya menyediakan tambahan modal, tetapi juga membawa teknologi, tata kelola, jaringan global, akses pendanaan internasional, serta kemampuan menyediakan solusi transaksi lintas negara. Ke depan, ia memperkirakan prospek bank asing masih cukup positif, meski pertumbuhannya akan lebih selektif. Peluang terbesar tetap berada pada pembiayaan korporasi, transaksi lintas negara, trade finance, wealth management, pembiayaan hijau, serta sektor-sektor yang terkait investasi asing langsung. "Bank asing sebaiknya menghindari perang bunga dan promosi ritel. Mereka akan lebih kompetitif jika berfokus pada kualitas hubungan dengan nasabah, kecepatan layanan, solusi lintas negara, serta pembiayaan sektor-sektor produktif," tutup Josua. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News