Di Tengah Ketidakpastian Global, Ini Kunci Ekonomi Indonesia Tumbuh pada 2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Memasuki awal 2026, perekonomian global dinilai masih berada dalam fase ketidakpastian yang dipengaruhi dinamika geopolitik, fragmentasi perdagangan, pengetatan likuiditas global, hingga meningkatnya risiko iklim dan bencana.

Dalam situasi tersebut, kekuatan utama Indonesia bukan semata-mata pada seberapa besar tekanan eksternal yang dihadapi, melainkan pada kemampuan ekonomi nasional dalam menyerap guncangan sekaligus menjaga momentum pertumbuhan.

Kepala Ekonom Banjaran Surya menilai, pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan ekonomi Indonesia memiliki tingkat resiliensi yang relatif baik. Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga, aktivitas domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan, dan kepercayaan pelaku ekonomi bergerak dalam rentang yang konstruktif.


Baca Juga: Serikat Buruh Minta Pekerja Outsourcing Dihapus Dialihkan ke PKWT atau PKWTT

Memasuki 2026, ia menilai fondasi resiliensi ini masih relevan dan menjadi modal penting. Tanpa resiliensi, optimisme mudah berubah menjadi euforia yang rapuh.

“Sebaliknya, resiliensi yang terkelola dengan baik justru membuka ruang bagi optimisme yang lebih rasional dan berjangka menengah,” tutur Banjaran dalam Laporan BSI Institute Quarterly, Rabu (18/2/2026).

Ia menjelaskan, resiliensi ekonomi Indonesia tidak bertumpu pada satu pilar. Dari sisi keuangan, pendalaman pasar dan penguatan stabilitas menjadi prasyarat agar fungsi intermediasi berjalan sehat dan berkelanjutan. Sementara dari sektor riil, UMKM kembali berperan sebagai bantalan ekonomi domestik, terutama dalam menjaga penyerapan tenaga kerja dan menopang aktivitas rumah tangga.

Meski begitu, tantangan produktivitas, kualitas kewirausahaan, dan akses pembiayaan masih menjadi pekerjaan rumah. Namun justru di titik tersebut terbuka ruang penguatan ke depan.

Pada saat yang sama, sektor berbasis nilai tambah, termasuk industri halal berorientasi ekspor, dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang semakin relevan. Tantangan struktural seperti ketergantungan pada komoditas primer, konsentrasi pasar yang tinggi, serta kebutuhan transformasi menuju manufaktur bernilai tambah masih perlu diatasi.

“Namun, bila dikelola dengan arah yang tepat, sektor tersebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” ungkapnya.

Banjaran menekankan, optimisme dalam konteks ini bukan klaim keberhasilan, melainkan pengakuan bahwa peluang masih terbuka lebar.

Adapun ia menyebut, resiliensi ekonomi juga tercermin dari dimensi sosial dan kelembagaan. Pengalaman menghadapi bencana menunjukkan kapasitas fiskal negara berjalan berdampingan dengan solidaritas masyarakat. Dalam hal ini, instrumen ekonomi dan keuangan syariah seperti filantropi dan wakaf mulai memainkan peran lebih relevan sebagai pelengkap pembiayaan pembangunan dan pemulihan.

Integrasi antara peran negara, sektor keuangan, dan masyarakat menjadi kunci agar resiliensi tidak berhenti pada fase bertahan, tetapi berlanjut ke pemulihan dan pembangunan berkelanjutan.

Ke depan, optimisme juga perlu dibingkai dengan kesadaran terhadap risiko baru yang semakin sistemik, terutama risiko iklim yang kini berdampak langsung pada aktivitas ekonomi dan sektor keuangan. Bagi perbankan, termasuk perbankan syariah, kondisi ini sekaligus membuka peluang untuk mengarahkan pembiayaan ke kegiatan ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Baca Juga: Harga Cabai Merah Naik Jelang Ramadan 2026, Mendag: Faktor Cuaca

Ia menegaskan, optimisme bukan berarti mengabaikan risiko, melainkan kemampuan untuk mengelola dan merespons risiko secara strategis.

Berangkat dari fondasi tersebut, proyeksi ekonomi 2026 dinilai mencerminkan pandangan konstruktif namun tetap berhati-hati. Dengan resiliensi yang masih terjaga dan potensi struktural yang terus diperkuat, ekonomi Indonesia dinilai memiliki ruang untuk melangkah ke depan.

“Dengan resiliensi yang masih terjaga dan berbagai potensi struktural yang terus diperkuat, ekonomi Indonesia memiliki ruang untuk melangkah ke depan,” tandansya.

Sebagaimana diketahui, Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,4%. Target tersebut cukup ambisius dari target 2025 yang sebesar 5,2%, namun terealsiasi 5,11%.

Selanjutnya: Chery C5 CSH Resmi Mengaspal Serentak di 8 Kota di Indonesia, Ini Rincian Harganya

Menarik Dibaca: 3 Resep Tempe Ala Chef Devina untuk Sahur Kilat dengan Nutrisi Terjamin

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News