KONTAN.CO.ID - Meskipun perang AS-Israel terhadap Iran memasuki minggu ketiga, aktivitas industri kripto di Uni Emirat Arab (UEA) sejauh ini tetap berjalan normal. Melansir Reuters Rabu (18/3/2026), Laia Fernández, eksekutif pemasaran kripto, bekerja dari apartemennya di kawasan bisnis pusat Dubai, sambil sesekali mendengar suara proyektil yang diintersep sebagai pengingat konflik yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Dolar AS Tahan Pelemahan, Sentimen Risiko Kembali Menguat Jelang Rapat Bank Sentral Konflik ini telah mengganggu pasar energi dan transportasi global, tetapi struktur virtual-first dan budaya kerja industri blockchain membuatnya relatif tahan banting. “Kehidupan sehari-hari di UEA belum berubah secara signifikan,” ujar Fernández. Banyak perusahaan kripto yang berbasis di UEA beroperasi secara global dengan infrastruktur cloud dan perdagangan di marketplace virtual, sehingga gangguan fisik minimal, bahkan ketika karyawan bekerja dari rumah atau melakukan perjalanan sementara. Meskipun terjadi beberapa serangan, termasuk di bandara Dubai pada Senin lalu, aliran aktivitas kripto ternyata lebih mudah dipertahankan dibandingkan minyak dan gas.
Baca Juga: BHP Tunjuk Brandon Craig Jadi CEO, Gantikan Mike Henry Alex Scott, eksekutif yang mempromosikan blockchain Solana di Dubai, optimistis jangka panjang karena konflik telah mempercepat pembahasan soal ketahanan infrastruktur keuangan. Sejak serangan AS-Israel pada 28 Februari, bitcoin sedikit menguat hingga US$73.949 pada Selasa, meski secara tahunan masih turun sekitar 15%. Thomas Puech, CEO firma trading kripto INDIGO, menyebut tidak ada tanda-tanda exodus dari UEA. UEA Sebagai Pusat Global Kripto UEA mendukung kripto melalui stablecoin berbasis dirham yang disetujui bank sentral, layanan trading blockchain dari beberapa bank lokal, dan pembayaran on-chain untuk proyek real estat, termasuk pembangunan Trump Tower di Dubai.
Baca Juga: Ancaman Lockout BP: Nasib Ratusan Pekerja & Harga BBM Melambung? Beberapa investasi besar juga terjadi: Abu Dhabi-backed MGX membeli saham US$2 miliar di Binance, sementara entitas terkait pemerintah lainnya menggelontorkan US$500 juta untuk kepemilikan parsial di World Liberty Financial, perusahaan kripto yang didirikan Presiden AS Donald Trump dan mitranya. Karl Naim, eksekutif firma investasi kripto XBTO yang berbasis di Abu Dhabi, menyebut dampak langsung paling besar adalah peningkatan kewaspadaan, dengan gangguan perjalanan, penundaan pertemuan, dan perencanaan kontingensi. Timnya kini bekerja jarak jauh dari rumah alih-alih kantor di Abu Dhabi Global Market, yang dekat dengan pelabuhan militer yang menjadi target. Beberapa acara regional dibatalkan atau ditunda, termasuk konferensi besar kripto TOKEN2049 di Dubai. Beberapa bank, seperti Citigroup, Standard Chartered, dan London Stock Exchange Group, telah meminta karyawan di Dubai bekerja dari rumah.
Baca Juga: Unilever Pertimbangkan Lepas Bisnis Makanan, Apa Alasannya? Menurut Gordon Einstein, pendiri CryptoLaw Partners, fungsi regulasi di UEA tetap berjalan lancar, dan Dubai tetap menjadi pilihan terbaik dibanding Eropa atau Asia dalam hal regulasi dan akses ke modal lokal. Meski sebagian investor dan pengusaha ekspatriat meninggalkan kota sementara, mereka tetap bisa menjalankan bisnis dari luar. Ketahanan ekosistem kripto UEA ke depan tergantung pada lamanya konflik berlangsung. “Dubai hidup dari ide bahwa orang ingin datang ke sini. Saat ini, semua itu ditunda sementara,” ujar Einstein.