Di Tengah Lonjakan Harga Minyak & Capital Outflow, Simak Proyeksi Rupiah dan Cadev



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah yang diikuti penurunan cadangan devisa (cadev) dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor global, terutama lonjakan harga minyak dan arus modal keluar (capital outflow).

Global Market Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto membeberkan, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak semata-mata berasal dari faktor fiskal, melainkan dipicu dinamika eksternal yang memburuk.

“Kalau kita lihat pelemahan rupiah sebenarnya bukan hanya karena serta merta dari faktor fiskal saja, tapi terkait dengan trend penguatan dollar AS akibat capital outflow untuk melakukan risk averse,” tutur Myrdal kepada Kontan, Minggu (5/4/2026).


Baca Juga: Tekanan Rupiah Masih Tinggi, Cadangan Devisa Bisa Makin Menyusut

Menurutnya, kondisi global yang tidak kondusif, terutama akibat konflik geopolitik dan lonjakan harga minyak dunia, mendorong investor asing menarik dananya dari pasar keuangan domestik.

Selain itu, tekanan juga datang dari keluarnya dana jangka pendek (hot money outflow) yang dipicu sentimen lembaga rating global maupun indeks investasi seperti MSCI, Fitch, dan Moody’s.

Meski demikian, faktor ini dinilai tidak sebesar kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga minyak.

“Tapi sebenarnya dampak ini tidak sedasiat kekhawatiran investor terkait kondisi harga minyak dunia yang melambung tinggi, serta posisi Indonesia sebagai net oil importer,” ungkapnya.

Di sisi domestik, Myrdal melihat tekanan terhadap rupiah juga diperkuat oleh meningkatnya kebutuhan dolar AS. Permintaan valas meningkat untuk impor, terutama BBM dan bahan baku industri, seiring aktivitas ekonomi yang masih tumbuh.

Baca Juga: Cadangan Devisa Menyusut, Risiko Konflik Timur Tengah dan Tekanan Rupiah Jadi Ancaman

Hal ini tercermin dari PMI manufaktur yang tetap berada di zona ekspansif hingga Maret, meskipun sedikit melandai dibanding bulan sebelumnya.

“Lalu pelemahan rupiah juga disebabkan oleh permintaan dolar untuk kebutuhan impor terutama impor untuk BBM dan itu kelihatan dari PMI Manufacturing Index, masih relatif ekspansif,” jelasnya.

Selain impor, permintaan valas juga meningkat untuk kebutuhan pembayaran dividen dan utang luar negeri. Kombinasi faktor tersebut membuat tekanan di pasar valas semakin besar dan beragam.

Kondisi ini lanjutnya, juga berkontribusi terhadap penurunan cadangan devisa, seiring intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas rupiah.

“Dan perlu kita lihat intervensi dari BI terus dilakukan di pasar spot, NDF, swap valas juga lelang SRBI, SVBI, maupun SUVBI,” tambahnya.

Myrdal menjelaskan, berbagai langkah BI tersebut merupakan bagian dari strategi meredam volatilitas dan mengelola risiko, bukan semata-mata untuk menutup kelemahan fiskal.

Baca Juga: Proyeksi Cadangan Devisa Usai Turun Jadi US$ 154,6 Miliar di Januari 2026

BI juga memperkuat kebijakan melalui instrumen suku bunga yang tetap atraktif, serta kebijakan valas seperti pengetatan aturan underlying dan peningkatan batas transaksi swap dan forward.

Di sisi lain, tekanan eksternal juga tercermin dari meningkatnya defisit transaksi berjalan serta outflow pada neraca finansial, yang berpotensi membuat neraca pembayaran (balance of payment) berada dalam posisi negatif pada kuartal I dan II.

Sementara itu, pemerintah tetap menjalankan peran fiskal sebagai shock absorber, antara lain dengan menahan kenaikan harga BBM serta mengoptimalkan pembiayaan melalui lelang surat utang negara dengan strategi front loading.

Dalam jangka pendek, ia memperkirakan nilai tukar rupiah masih akan berada dalam tekanan, dengan kisaran di level Rp16.900 hingga Rp16.850 per dolar AS.

Adapun cadangan devisa diperkirakan masih berpotensi menurun dalam jangka pendek, seiring kebutuhan stabilisasi nilai tukar dan tingginya permintaan dolar di pasar domestik.

Namun, peluang penguatan rupiah tetap terbuka apabila sentimen global membaik. Jika konflik geopolitik mereda dan harga minyak stabil, arus modal asing berpotensi kembali masuk ke pasar keuangan domestik.

Baca Juga: Cadangan Devisa Januari 2026 Turun, Simak Proyeksi Selanjutnya

Dalam kondisi tersebut, ia memperkirakan rupiah dapat menguat kembali hingga di bawah level Rp16.800 per dolar AS, sekaligus mendorong stabilisasi cadangan devisa ke depan.

“Harapannya, jika konflik di Iran mereda atau Selat Hormuz kembali dibuka, rupiah seharusnya bisa menguat ke level di bawah Rp16.800 per dolar AS,” tandansnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News