Di Tengah Sorotan Kinerja, Singapura Bela Mandat GIC dan Temasek



KONTAN.CO.ID - Pemerintah Singapura menegaskan bahwa kinerja lembaga investasi negara GIC dan Temasek akan dinilai berdasarkan mandat dan profil risiko masing-masing, bukan dengan membandingkannya dengan dana investasi negara lain.

Pernyataan tersebut disampaikan Senior Minister of State for Finance Singapura, Jeffrey Siow, pada Senin (12/1/2026), merespons sorotan publik dan parlemen terhadap kinerja kedua investor negara tersebut.

“Fokus kami sejak awal adalah kinerja jangka panjang, bukan fluktuasi jangka pendek atau dari tahun ke tahun,” ujar Siow di hadapan parlemen.


Baca Juga: Dolar AS dan Futures Saham AS Merosot, Ancaman Kriminal ke Ketua The Fed Bikin Geger

Ia menegaskan bahwa pemerintah menilai imbal hasil yang dibukukan GIC dan Temasek masih wajar dan sesuai ekspektasi, mengingat mandat serta profil risiko masing-masing lembaga.

Pertanyaan mengenai kinerja kedua dana tersebut mencuat setelah Financial Times pada Desember lalu menyebut imbal hasil dana kekayaan negara Singapura sebagai “buruk”.

Pada Juli tahun lalu, Temasek melaporkan total shareholder return 10 tahun sebesar 5% untuk tahun buku yang berakhir 31 Maret 2025.

Angka tersebut tertinggal dari MSCI All Country World Index (ACWI) yang mencatatkan return 9% serta Straits Times Index sebesar 6%.

Meski demikian, imbal hasil 20 tahun Temasek sebesar 7% dinilai masih sejalan dengan kedua tolok ukur tersebut.

Sementara itu, GIC membukukan imbal hasil riil tahunan rata-rata 20 tahun sebesar 3,8% pada periode yang sama, sedikit turun dari 3,9% pada tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi yang terlemah sejak 2020, saat imbal hasil GIC turun ke level 2,7%.

Temasek yang telah berdiri selama 51 tahun dan mengelola portofolio senilai S$ 434 miliar (sekitar US$ 338,35 miliar) per Maret 2025, juga akan meluncurkan struktur investasi baru mulai 1 April mendatang, sebagaimana diumumkan pada Agustus lalu.

Baca Juga: Korea Utara Kecam Tim Pemantau Sanksi Multilateral, Sebut Ilegal dan Alat Tekanan AS

Siow menambahkan, di tengah kondisi pasar investasi global yang penuh ketidakpastian dan volatilitas, imbal hasil GIC dalam jangka pendek berpotensi rendah atau bahkan negatif.

Namun, menurutnya, pemerintah Singapura memiliki kemampuan menyerap fluktuasi tersebut berkat neraca keuangan negara yang kuat.

“Kami akan terus meninjau mandat dan kinerja GIC serta Temasek secara berkala, sejalan dengan perubahan lanskap ekonomi dan investasi global,” pungkas Siow.

Selanjutnya: Gus Ipul: Sekolah Rakyat Tersebar di 166 Titik, Berhasil Tampung 15.954 Siswa

Menarik Dibaca: Promo Paket Gokana Hebat Mulai Rp 99 Ribu, Makan Bertiga Jadi Lebih Hemat