Dian Swastatika Sentosa (DSSA) segera operasikan dua PLTU



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk segera mengoperasikan pembangkit tenaga listrik tenaga uap (PLTU) IPP Kendari-3.

Sekretaris PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, Susan Chandra mengharapkan IPP PLTU Kendari-3 dapat beroperasi secara komersial pada kuartal 1 2019. “Progres pembangunan IPP PLTU Kendari-3 sampai akhir tahun lalu sudah mencapai 96%,” ungkapnya, Rabu (30/1).

Sebagai informasi, total biaya investasi IPP PLTU Kendari-3 yang terletak di Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara mencapai sekitar US$ 200 juta. PLTU Kendari-3 memiliki kapasitas 2x50 megawatt (MW). Pembangkit listrik ini bakal menyuplai listrik untuk PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), dengan periode perjanjian selama 25 tahun. Proyek PLTU Kendari-3 menggunakan skema build, own, operate, transfer (BOOT).


Tak hanya itu, emiten berkode saham DSSA ini juga akan mengoperasikan IPP PLTU Kalteng-1. Susan bilang IPP PLTU Kalteng-1 ini diharapkan dapat beroperasi secara komersial pada kuartal empat tahun ini. Hingga Desember 2018 silam, proses pembangunan PLTU ini sudah mencapai 90%.

Susan menjelaskan total biaya investasi IPP PLTU Kalteng-1 sekitar US$ 340 juta. Pembangkit listrik yang berlokasi di Tumbang Kajuei, Kalimantan Tengah ini memiliki kapasitas 2x100 MW.

Dengan beroperasinya dua pembangkit ini, ia memproyeksikan pendapatan pada tahun ini akan meningkat, sayang ia belum dapat menyebutkan target pertumbuhan pendapatan pada 2019 “IPP PLTU Kendari-3 dan IPP PLTU Kalteng-1 diharapkan dapat memberikan tambahan kontribusi pendapatan sekitar 10% pada tahun 2019,” jelasnya.

Meski masih irit bicara mengenai rencana bisnis pada tahun ini, Susan menegaskan pada tahun ini mereka masih fokus untuk menyelesaikan pembangunan IPP PLTU Kendari-3 dan IPP PLTU Kalteng-1. Namun demikian, mereka juga tetap membuka peluang bisnis yang dinilai menguntungkan bagi perusahaannya. “Kita tetap terbuka pada peluang-peluang pengembangan usaha yang dapat menambah nilai tambah bagi pemegang saham,” kata Susan.

Pada tahun 2018, DSSA membidik pendapatan sebesar US$ 1,8 miliar, Akan tetapi Susan belum dapat menyebutkan capaian pendapatan DSSA hingga tutup tahun 2018. “Kita masih menyelesaikan laporan keuangan periode Januari-Desember 2018, sehingga data untuk periode Januari-Desember 2018 saat ini belum bisa diumumkan,” jelasnya.

Berdasarkan laporan keuang DSSA hingga kuartal III 2018, mereka mengantongi pendapatan sebesar US$ 1,40 miliar naik 64,13% dari periode sama pada tahun lalu, pendapatan yang paling banyak berkontribusi terhadap pendapatan DSSA berasal lini pertambangan dan perdagangan batubara yakni sebesar US$ 767,06 juta. Susan belum dapat mengungkapkan target produksi batubara pada tahun ini. Pada tahun lalu, mereka membidik produksi batubara hingga 23 juta ton.

Melihat kondisi perekonomian global dan Indonesia kini, Susan mengatakan hal ini dapat mempengaruhi bisnis utama mereka, misalnya dalam bisnis pertambangan batubara, perubahan harga komoditas yang signifikan dapat mempengaruhi rencana produksi. Walau demikian, sambungnya, kenaikan permintaan batubara dari sejumlah negara di Asia diharapkan mampu membuka peluang peningkatan permintaan batubara Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Handoyo .