KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah mata uang komoditas atau commodity currency masih tertekan. Meski begitu, dolar Kanada dinilai paling prospektif dengan potensi penguatan harga di akhir tahun. Berdasarkan RTI, AUD/USD mencatatkan pelemahan dalam sepekan sebesar 1,26% ke 0,6578. Disusul NZD/USD yang turun 0,69% ke 0,6139. Sementara dolar AS mencatat pelemahan dibandingkan dolar Kanada sebesar 0,49% dalam sepekan ke 1,3509. Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, dolar Australia mengalami rebound dari posisi terendah dalam tiga minggu terakhir. Meski begitu, investor bereaksi terhadap laporan produk domestik bruto yang kurang apik.
Perekonomian Australia tumbuh lebih rendah dari perkiraan di kuartal IV 2023. Commonwealth Bank of Australia menegaskan kembali perkiraan penurunan suku bunga sebesar 75 basis poin tahun ini setelah data PDB yang lemah. "Dolar Australia diperkirakan akan diperdagangkan pada 0,65 pada akhir kuartal I dan 0,64 pada akhir tahun," ujar Sutopo kepada Kontan.co.id, Rabu (6/3). Baca Juga: Rupiah Diprediksi Melemah Pada Perdagangan Kamis (6/3), Ini Sentimen Pemicunya Untuk dolar Selandia Baru, Sutopo melihat harganya meluncur ke level terlemahnya dalam dua minggu terakhir. Hal itu disebabkan Reserve Bank of New Zealand mempertahankan suku bunga tetap stabil selama pertemuan bulan Februari dan menawarkan pandangan kebijakan moneter yang kurang hawkish dibandingkan yang diantisipasi pasar. "Pasar kini mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga pada bulan Mei menjadi hanya 20% dari hampir 50% sebelum keputusan kebijakan terbaru," katanya. Dus, dolar Selandia Baru diperkirakan akan diperdagangkan pada 0,61 pada akhir kuartal I. Sementara di akhir tahun diperkirakan pada level 0,60. Sementara untuk dolar Kanada, penguatannya dinilai dari data PDB yang lebih kuat dari perkiraan. PDB Kanada meningkat sebesar 1% secara tahunan pada kuartal IV, di atas ekspektasi pasar sebesar 0,8% dan data awal untuk bulan Januari menunjukkan pertumbuhan yang tajam.