Dibalik Perang AS-Israel vs Iran, 8 Raksasa Minyak Dunia Ini Untung Rp 1.600 Triliun
Rabu, 05 Agustus 2026 09:08 WIB
Oleh: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Delapan perusahaan minyak terbesar di dunia membukukan laba fantastis pada kuartal II 2026. Total keuntungan yang diraih mencapai hampir US$ 93 miliar atau sekitar Rp 1.600 triliun hanya dalam waktu tiga bulan. Lonjakan keuntungan tersebut terjadi ketika harga minyak dunia melonjak akibat konflik Iran yang sempat mengganggu pasokan energi global. Pada saat yang sama, berbagai negara juga menghadapi gelombang panas, kekeringan, dan bencana iklim yang memicu kritik terhadap industri bahan bakar fosil. Berdasarkan analisis The Guardian, delapan perusahaan yang dimaksud meliputi Saudi Aramco, ExxonMobil, Chevron, Shell, BP, Equinor, TotalEnergies, dan Eni.
Jika dirata-ratakan, kedelapan perusahaan tersebut menghasilkan laba lebih dari US$ 700.000 per menit sepanjang kuartal II 2026. Selain itu, kapitalisasi pasar gabungan delapan perusahaan tersebut meningkat sekitar US$ 600 miliar hingga melampaui US$ 3 triliun. Baca Juga: Yen Stabil Usai Intervensi, Dolar AS Bertahan di Dekat Level Terendah Enam Pekan Daftar laba delapan perusahaan minyak terbesar Saudi Aramco menjadi perusahaan dengan keuntungan terbesar pada periode tersebut. Berikut rincian laba sejumlah perusahaan minyak dunia pada kuartal II 2026:
Perusahaan
Laba Kuartal II 2026
Saudi Aramco
Lebih dari US$ 33 miliar
ExxonMobil
US$ 14,5 miliar
Chevron
US$ 12,2 miliar
Shell
US$ 9,84 miliar
BP
US$ 5,73 miliar
Equinor
US$ 3,2 miliar
TotalEnergies
Masuk kelompok delapan besar
Eni
Masuk kelompok delapan besar
Saudi Aramco mencatat kenaikan laba bersih sekitar 34% menjadi lebih dari US$ 33 miliar, meskipun sejumlah fasilitasnya sempat terdampak serangan drone dan rudal. Di Amerika Serikat, ExxonMobil membukukan laba US$ 14,5 miliar atau sekitar dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara Chevron meraih laba US$ 12,2 miliar, meningkat lebih dari lima kali lipat secara tahunan. Di Eropa, Shell mencatat laba sebesar US$ 9,84 miliar, menjadi laba kuartalan tertinggi kedua sepanjang sejarah perusahaan. BP memperoleh laba US$ 5,73 miliar, sedangkan Equinor mencatat laba US$ 3,2 miliar, naik dari US$ 1,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Tonton: Deposito Bank Digital, Siapa Paling Tinggi? Aktivis iklim soroti keuntungan industri migas Besarnya keuntungan perusahaan minyak memicu kritik dari berbagai kelompok lingkungan. Koordinator bahan bakar fosil Global Witness, Patrick Galey, menilai keuntungan besar yang diraih perusahaan migas terjadi ketika masyarakat di berbagai negara menghadapi dampak perubahan iklim, kenaikan biaya energi, serta bencana alam. Ia mendorong pemerintah menerapkan kebijakan perpajakan yang lebih besar terhadap perusahaan minyak untuk membantu pendanaan pemulihan dampak perubahan iklim serta pembangunan infrastruktur mitigasi bencana. Di sisi lain, Chief Executive BP Meg O'Neill menyatakan perusahaan berupaya menjaga pasokan energi tetap tersedia di tengah kondisi pasar yang mengalami gangguan. Tonton: Freeport Ajukan Perpanjangan IUPK Grasberg hingga Setelah 2041 Donald Trump juga ikut mengkritik Kritik terhadap keuntungan perusahaan migas juga datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump menuding Chevron dan ExxonMobil memperoleh keuntungan sangat besar dari situasi konflik Iran. Ia bahkan memperingatkan perusahaan-perusahaan tersebut dapat dipaksa mengembalikan sebagian keuntungan kepada masyarakat. Keuntungan migas kontras dengan dampak krisis iklim
Di tengah lonjakan laba industri minyak, berbagai wilayah dunia justru menghadapi dampak cuaca ekstrem. Gelombang panas di Eropa diperkirakan menyebabkan sekitar 20.000 kematian, sementara kekeringan mengurangi produksi gandum hingga sekitar 9 juta ton. Kebakaran hutan juga melanda sejumlah negara seperti Prancis, Spanyol, Portugal, dan Yunani dengan kerugian mencapai miliaran euro. Sementara itu, basis data Carbon Majors menempatkan Saudi Aramco sebagai perusahaan dengan kontribusi emisi karbon historis terbesar di dunia, diikuti Chevron, ExxonMobil, Shell, dan BP. Data tersebut kembali memicu perdebatan mengenai tanggung jawab industri bahan bakar fosil terhadap perubahan iklim global. Sumber: https://www.kompas.com/global/read/2026/08/05/071100270/8-raksasa-minyak-pesta-cuan-dari-perang-iran-separuh-pendapatan-ri?page=all#page2.
Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Menipis (5 Agustus 2026)