Dibayangi Capital Outflow dan Kebijakan The Fed, Ini Prediksi Rupiah Kamis (22/10)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan menjelang perdagangan Kamis (22/10/2026), di tengah meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan ketidakpastian geopolitik global. Pelaku pasar kini mencermati langkah Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas kurs, terutama setelah rupiah kembali menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS.

Melansir Bloomberg, Rabu (21/10/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,17% atau 30 poin ke level Rp 18.022 per dolar AS. Sebaliknya, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) mencatatkan penguatan 0,11% menjadi Rp 17.986 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 18.006 per dolar AS.

Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menjelaskan, pergerakan rupiah sepanjang perdagangan Rabu berlangsung dalam fase konsolidasi yang ketat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sikap antisipatif pelaku pasar domestik menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.


Sebelumnya, ekspektasi pasar terbelah antara kemungkinan pengetatan kebijakan moneter untuk memperkuat nilai tukar dan opsi mempertahankan suku bunga guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Ditekan The Fed dan Harga Minyak, Cek Proyeksi Rupiah untuk Kamis (22/10)

Untuk perdagangan Kamis (22/10/2026), Rahma menilai pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh kombinasi indikator ekonomi Amerika Serikat yang memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer.

"Ekspektasi ini menjaga yield US Treasury tetap atraktif, sehingga memicu aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia," terang Rahma kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).

Selain kebijakan moneter AS, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi pergerakan harga energi dunia yang bertahan relatif tinggi.

Situasi tersebut mendorong sentimen risk-off, yakni kecenderungan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Dampaknya, tekanan jual dari investor asing berpotensi meningkat di pasar saham dan instrumen portofolio domestik.

Kondisi ini juga menambah risiko terhadap neraca perdagangan migas Indonesia, terutama apabila harga energi yang tinggi meningkatkan nilai impor minyak dan gas.

Kebijakan BI Jadi Penentu Pergerakan Rupiah

Di tengah tekanan eksternal, perhatian pelaku pasar tertuju pada efektivitas bauran kebijakan Bank Indonesia setelah bank sentral memutuskan mempertahankan BI-Rate. Keputusan tersebut membuat pasar menantikan sinyal kebijakan lanjutan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mempertahankan daya tarik aset berdenominasi rupiah.

Rahma mengatakan, langkah stabilisasi BI akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kemampuan rupiah bertahan di tengah tekanan dolar AS.

Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Bagaimana Nasib Rupiah?

"Langkah stabilisasi nilai tukar melalui instrumen DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), intervensi pasar valas secara spot, serta optimalisasi instrumen moneter pro-market oleh Bank Indonesia akan terus dicermati pasar untuk melihat seberapa kuat ketahanan rupiah menahan level psikologis di kisaran Rp18.000 per dolar AS," ungkap Rahma.

Instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) memungkinkan BI melakukan stabilisasi nilai tukar melalui transaksi derivatif valuta asing di pasar domestik. Sementara itu, intervensi spot dilakukan melalui transaksi jual beli valuta asing untuk meredam gejolak kurs.

Efektivitas langkah tersebut menjadi perhatian investor karena pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh faktor domestik, tetapi juga oleh perkembangan imbal hasil obligasi pemerintah AS, arah kebijakan The Fed, serta dinamika geopolitik global.

Prediksi Rupiah Kamis (22/10/2026)

Rahma memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif, tetapi dalam rentang yang relatif terbatas pada perdagangan Kamis (22/10/2026).

Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah berada pada kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.000 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News