KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan valuta asing (valas) komoditas diperkirakan bergerak fluktuatif di tengah dinamika eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Mengutip Trading Economics Jumat (10/7/2026) pukul 11.35 WIB, pasangan valas AUD/USD di level 0,6957, menguat 4,26% secara
year to date (ytd). Pairing valas NZD/USD di level 0,5778, naik 0,40% secara ytd. Pasangan valas USD/CAD di level 1,4152, menguat 3,15% secara ytd. Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan mengatakan, prospek valas komoditas masih akan sangat bergantung pada arah konflik di Timur Tengah. Ketika ketegangan Amerika Serikat (AS) – Iran kembali meningkat, harga minyak cenderung naik dan investor lebih memilih aset
safe haven seperti dolar AS.
Baca Juga: Kinerja Keuangan RANS Turun pada 2025, Nagita Slavina Beberkan Penyebabnya “Akibatnya, mata uang komoditas seperti dolar Australia (AUD), dolar New Zealand (NZD), dan dolar Kanada (CAD) berpotensi bergerak lebih
volatile,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Jumat (10/7/2026). Namun, Brahmantya menilai dampaknya tidak sama. Dolar Kanada (CAD) justru berpeluang mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak karena Kanada merupakan salah satu eksportir minyak terbesar. Sebaliknya, AUD dan NZD lebih sensitif terhadap perubahan sentimen risiko global dan perlambatan ekonomi, sehingga cenderung lebih tertekan ketika pasar memasuki fase risk-off. Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa melihat pelaku pasar menilai Reserve Bank of Australia (RBA) masih berkomitmen menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran, sehingga peluang pengetatan kebijakan tambahan masih terbuka apabila tekanan harga kembali meningkat, terutama akibat kenaikan harga minyak. Dari sisi Amerika Serikat, risalah pertemuan Federal Reserve menunjukkan pandangan yang beragam mengenai arah suku bunga hingga akhir tahun. Sebagian besar pejabat memperkirakan suku bunga tidak akan banyak berubah, sementara sebagian lainnya masih melihat kemungkinan kenaikan jika kondisi ekonomi mengharuskannya.
Baca Juga: Haji Isam Masuk Dalam Daftar Pemegang 1% Saham Rans Entertainmen (RANS) “Selain itu, komentar Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams yang menyatakan bahwa kenaikan harga energi diperkirakan tidak bersifat berkepanjangan membantu meredakan kekhawatiran investor dan memberikan sentimen positif bagi penguatan AUD/USD,” ujar Amru. Amru juga melihat tren penguatan valas NZD/USD yang telah berlangsung selama beberapa sesi terakhir didorong oleh ekspektasi bahwa Reserve Bank of New Zealand masih akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat setelah menaikkan suku bunga pada pertemuan sebelumnya. Sikap tersebut memperkuat daya tarik dolar Selandia Baru, terlebih ketika dolar AS sedang mengalami tekanan. Menurutnya, kombinasi pelemahan Greenback dan membaiknya selera risiko pasar menjadi faktor utama yang menopang kenaikan pasangan NZD/USD, meskipun dinamika geopolitik tetap perlu dicermati. Sementara terkait pasangan valas USD/CAD, Amru melihat pelaku pasar juga menantikan rilis data tingkat pengangguran Kanada bulan Juni, yang diperkirakan meningkat menjadi 7,0% dari 6,6% pada bulan sebelumnya. Jika data sesuai atau lebih buruk dari perkiraan, penguatan dolar Kanada dapat terbatas karena meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja. “Keputusan OPEC+ untuk meningkatkan produksi dan kenaikan persediaan minyak mentah AS menurut data EIA juga berpotensi menahan kenaikan harga minyak, sehingga dapat membatasi penguatan CAD,” terang Amru. Brahmantya menyebut ada beberapa faktor utama yang perlu diperhatikan untuk mencermati pergerakan valas komoditas ke depan. Antara lain perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz yang mempengaruhi harga energi. Kebijakan suku bunga The Fed yang akan menentukan arah dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Melemah, Simak Prospek dan Rekomendasi Saham KLBF Kemudian, pergerakan harga komoditas seperti minyak, bijih besi, batu bara, dan produk pertanian. Kondisi ekonomi China, karena merupakan mitra dagang utama Australia dan Selandia Baru. Serta kebijakan bank sentral masing-masing negara, terutama Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) dan Bank of Canada. “USD/CAD menjadi pasangan mata uang yang paling menarik untuk dicermati saat ini,” ucap Brahmantya. Brahmantya mengatakan, jika ketegangan geopolitik terus mendorong harga minyak lebih tinggi, CAD berpotensi memperoleh dukungan dari membaiknya pendapatan sektor energi Kanada. Namun di sisi lain, dolar AS juga masih kuat karena didukung suku bunga tinggi dan statusnya sebagai petrodollar. Artinya, pergerakan USD/CAD akan menjadi cerminan pertarungan antara kekuatan harga minyak dan kekuatan dolar AS. Brahmantya juga tetap mencermati NZD/USD. Ia melihat Reserve Bank of New Zealand mulai memberikan sinyal pengetatan kebijakan setelah inflasi kembali meningkat. Jika siklus kenaikan suku bunga benar-benar berlanjut, NZD berpotensi menjadi salah satu mata uang komoditas dengan kinerja yang relatif lebih baik. “Sementara AUD/USD masih cukup bergantung pada pemulihan ekonomi China. Selama permintaan dari China belum pulih secara signifikan, ruang penguatan AUD kemungkinan masih terbatas,” jelas Brahmantya. Brahmantya memproyeksikan pairing AUD/USD di kisaran 0,65000 –0,67000 pada kuartal III – 2026, namun berpeluang menguat terhadap USD jika ekonomi China (partner kerjasama) menunjukkan perbaikan.
Baca Juga: Optimisme Konsumen Melemah, Emiten Ritel dan Elektronik Rentan Tertekan Lalu, pasangan valas NZD/USD diperkirakan di kisaran 0,54000 – 0,55000, namun dukungan prospek kebijakan RBNZ yang cenderung lebih
hawkish dapat memperkuat NZD melawan dominasi USD.
Sementara
pairing valas USD/CAD diproyeksi di level 1,45000 –1,47000, bergantung pada keseimbangan antara penguatan harga minyak dan kekuatan dolar AS. Secara keseluruhan, Brahmantya masih melihat dolar AS tetap menjadi mata uang yang dominan selama The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dan ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya mereda. “Karena itu, ruang penguatan valas komoditas kemungkinan berlangsung bertahap dan akan lebih banyak dipengaruhi oleh fundamental masing-masing negara,” pungkas Brahmantya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News