Dibayangi Ketakutan Bubble AI Global, Intip Prospek Saham Teknologi Indonesia di 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan saham teknologi di Amerika Serikat (AS) di sepanjang 2025 menimbulkan kekhawatiran terjadinya bubble Artificial Intelligence (AI). Pasalnya, kenaikan harga saham turut mendorong kenaikan valuasinya. 

Hal serupa juga terjadi di pasar saham Tanah Air. Di sepanjang 2025, indeks IDX sektor Teknologi melesat 138,35%. Ini menjadikan indeks IDX sektor Teknologi menjadi indeks sektoral dengan kinerja paling tinggi. 

Namun di sepanjang 2026 berjalan ini, indeks IDX sektor Teknologi masih tertekan. Sampai dengan akhir perdagangan Jumat (23/1), indeks IDX sektor Teknologi sudah terkoreksi 1,10%.  Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder Pasardana Hans Kwee memproyeksikan, bubble AI belum akan terjadi dalam dua sampai tiga tahun ke depan karena beberapa pertimbangan. 


Baca Juga: Saham Teknologi Jadi Jajaran Market Cap Terbesar di BEI, Intip Rekomendasi DCII

Pertama, belanja modal alias capital expenditure (capex) untuk pengembangan AI belum mencapai 2%–5% dari GDP. Di mana, saat ini capex yang digelontorkan perusahaan masih di kisaran 15% dari GDP. 

“Kedua, perusahaan-perusahaan yang berbisnis AI masih menunjukkan pertumbuhan laba yang bagus. Ketiga, permintaan terhadap teknologi AI masih bagus,” kata Hans dalam paparan, Jumat (23/1/2026). 

Hans mengatakan teknologi AI berkaitan erat dengan pusat data alias data center. Sebab, data center digunakan untuk menyimpan big bata dan bisnis pusat data ini masih tumbuh subur. 

“AI belum akan bubble, masih akan bertumbuh. Investor akan memilih atau membeli saham perusahaan teknologi dengan bisnis yang sudah untung atau sudah mendekati profitabilitas,” jelasnya. 

Menurutnya, perusahaan di Indonesia akan lebih cenderung memanfaatkan teknologi AI untuk kebutuhan pengembangan bisnis alih-alih membangun machine learning model seperti ChatGPT.

Selain itu, Hans menilai emiten teknologi dalam negeri juga akan mendapatkan angin segar dari tren suku bunga yang rendah. Pasalnya, perusahaan teknologi membutuhkan modal tinggi untuk menggelar ekspansi. 

Baca Juga: Ada Kabar Merger GOTO dan IPO Anak Usaha EMTK, Cek Prospek Sektor Teknologi di 2026

“Perusahaan teknologi butuh capex besar untuk mendulang profit di masa depan. Kalau suku bunga rendah, ada potensi dana yang masuk tinggal dicari perusahaan teknologi mana yang akan unggul,” ucapnya. 

Head of Indonesia Research & Strategy JP Morgan Indonesia Henry Wibowo memasang sikap bullish, khusus untuk teknologi di bidang internet di 2026. Dia meyakini, kinerja saham teknologi akan didorong oleh tiga narasi utama. 

Pertama, perbaikan tren metrik profitabilitas secara menyeluruh. Ini berkacara dari raihan kinerja PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) yang membukukan laba pada kuartal III-2025, yang telah melampaui ekspektasi. 

Dia juga melihat pemulihan laba yang signifikan pada grup PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), yang didorong oleh penurunan kerugian Vidio di PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) serta turnaround PT Bukalapak.com Tbk (BUKA).

Kedua, JP Morgan meyakini ada tren manajemen perusahaan akan semakin aktif melakukan inisiatif tambahan untuk meningkatkan Total Shareholder Returns (TSR), termasuk aksi buyback, peningkatan rasio dividen hingga membuka nilai anak usaha. 

“Ketiga, ada potensi konsolidasi lanjutan dalam 12 bulan ke depan, dengan fokus utama pada potensi merger dan akuisisi antara GOTO dan Grab,” jelasnya dalam riset. 

 Lebih lanjut, JP Morgan memberikan rating overweight pada GOTO dan EMTK. Pada akhir perdagangan Jumat (23/1), GOTO parkir di level Rp 60 per saham, sementara EMTK ditutup menguat di posisi Rp 1.035 per saham. 

Baca Juga: Saham Teknologi Unjuk Gigi di Sepanjang 2025, Mampukah Berlanjut Hingga 2026?

Selanjutnya: Warganet Kaget Coretax Bisa Deteksi Promo Cashback sebagai Penghasilan Kena Pajak

Menarik Dibaca: Ternyata Ini 6 Alasan Sering Lapar saat Cuaca Dingin, Apa Saja ya?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News