Dibayangi Sentimen El Nino & Beban Biaya, Begini Rekomendasi Saham Mayora (MYOR)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja laba bersih PT Mayora Indah Tbk (MYOR) yang cemerlang rupanya harus dibayangi sejumlah tantangan. Di mulai dari beban biaya tinggi, sentimen El Niño, hingga tren pelemahan harga saham.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia Willy Goutama mengatakan, kehadiran bisnis global MYOR yang tangguh dan ekspansi pasar akan secara berkelanjutan mendorong mesin pertumbuhan perseroan.

Kinerja paruh pertama tahun ini sejatinya menjadi bukti nyata kekuatan operasional perusahaan barang konsumsi tersebut.


Berdasarkan riset Analis Phintraco Sekuritas Vinna N. Rachmawati, MYOR masih mampu mencatatkan pendapatan sebesar Rp 17,92 triliun pada semester pertama tahun 2026.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,03% ke 6.038,9 di Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: SCMA, AKRA, AADI

Angka penjualan tersebut menunjukkan adanya peningkatan tipis sebesar 0,7% secara tahunan atau (year on year/YoY).

Dari sisi profitabilitas, perusahaan membukukan lonjakan laba bersih yang sangat signifikan di tengah berbagai tekanan ekonomi.

Laba bersih MYOR melesat tajam 46,5% YoY menjadi Rp 1,71 triliun pada enam bulan pertama 2026.

Lonjakan laba bersih ini sukses ditopang oleh penurunan beban pokok penjualan sebesar 5,0% YoY menjadi Rp 13,30 triliun.

Penurunan beban pokok ini untuk sementara waktu didorong oleh koreksi harga bahan baku utama, khususnya kopi dan kakao pada periode tersebut.

Selain itu, margin laba kotor atau gross profit margin (GPM) MYOR juga sempat mengalami peningkatan yang pesat.

Margin laba kotor perseroan berada di level 25,73% pada paruh pertama tahun ini. Pencapaian margin tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yang hanya sebesar 21,0%.

"Peningkatan margin kotor pada semester I 2026 menjadi 25,7% (+450 bps secara tahunan/YoY) turut mendongkrak angka penjualan semester I 2026 yang cenderung lemah di level Rp 17,9 triliun (+1% YoY)," kata Willy dalam risetnya, (7/31/2026).

 
MYOR Chart by TradingView

Di sisi lain, Analis Phintraco Sekuritas Vinna N. Rachmawati mengatakan, tren pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini juga membawa keuntungan tersendiri bagi fundamental keuangan emiten ini.

Kondisi ini memposisikan MYOR sebagai satu-satunya penerima manfaat di sektor konsumen Indonesia di tengah depresiasi mata uang rupiah, karena porsi pendapatan yang terkait dengan pergerakan dolar AS.

Hal ini terbukti dari keuntungan selisih kurs MYOR yang melonjak pesat hingga 198,8% YoY menjadi Rp 309,78 miliar.

"Kinerja ekspor, yang menyumbang sekitar 40% dari total penjualan, tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan di tengah depresiasi rupiah, karena keuntungan ekspor dapat mengimbangi tingginya biaya bahan baku yang berdenominasi dolar AS," terang Vinna dalam risetnya, (8/18/2026).

Namun, sentimen positif dari kinerja fundamental tersebut belum mampu mendongkrak pergerakan harga saham MYOR di bursa secara konsisten.

Harga saham MYOR justru cenderung mengalami penurunan dalam beberapa waktu terakhir akibat kekhawatiran pelaku pasar.

Baca Juga: Kinerja Reksadana Tertekan, MAMI Mengandalkan Instrumen Pendapatan Tetap

Penurunan ini tak lepas dari fakta bahwa perusahaan masih dibayangi ancaman beban biaya produksi yang berpotensi kembali tinggi.

Terlebih lagi, MYOR menjadi salah satu emiten konsumer yang rentan terdampak oleh fenomena cuaca ekstrem El Nino. Fenomena El Nino ini memicu eskalasi kembali pada harga komoditas lunak (soft commodity) di pasar global.

Investor mulai mengkhawatirkan keberlanjutan margin keuntungan MYOR akibat potensi lonjakan kembali harga bahan baku utama seperti kakao dan kopi di masa mendatang.

Untuk menghadapi tekanan ini, MYOR aktif melakukan serangkaian aksi korporasi dan kemitraan strategis guna menjaga momentum. Salah satu langkah terbarunya adalah merajut kemitraan dengan RANS Entertainment untuk mendukung berbagai pengembangan proyek hiburan.

Aksi korporasi ini bertujuan untuk meningkatkan nilai merek perusahaan melalui kedekatan interaksi dengan para konsumen di Indonesia. Selain itu, inisiatif program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) juga diharapkan mampu memperluas saluran distribusi perusahaan ke depannya.

Pelaku pasar juga perlu mencermati risiko ketidakpastian geopolitik global yang bisa memicu kenaikan harga energi. Implementasi program biodiesel B50 dari pemerintah turut berpotensi mengerek harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) MYOR.

Baca Juga: Rupiah Terus Melemah ke Rp 17.946 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (5/10), Asia Turun

Willy memperingatkan adanya potensi kenaikan biaya kemasan dan transportasi sebagai akibat dari lonjakan harga minyak yang signifikan. Walaupun dihadapkan pada berbagai beban tinggi, fundamental bisnis perseroan sejauh ini dinilai masih tergolong kokoh dan inovatif.

Melihat prospek fundamental yang masih solid di tengah tekanan sentimen tersebut, beberapa analis memberikan respons yang positif.

Willy merekomendasikan buy untuk saham MYOR dengan target harga Rp 2.500 per saham. Vinna juga menyematkan rekomendasi buy untuk saham MYOR dengan target harga Rp 2.600 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News