Dicari: pasokan garam untuk pasar domestik



JAKARTA. Tak ada garam yang masuk di Koperasi Santing Sari Mandiri, Losarang, Indramayu tahun ini. Padahal tahun lalu koperasi ini bisa menyerap garam sebanyak 4.800 ton garam dari total produksi garam petani Indramayu sebanyak 15.000 ton. “Sama sekali tidak ada garam yang masuk. Jangankan ton, satu kg saja tidak ada,” kata Bendahara Umum Koperasi Santing Sari Mandiri, Losarang, Indramayu H. Toto Sudiharto. Dari penyerapan panenan garam tahun lalu, masih ada sisa 3.000 ton garam yang bisa dijual tahun ini. Namun, persedian ini sudah habis sejak awal Oktober 2010 lalu. Garam yang langka ini membikin harga garam di tingkat petani juga makin tinggi. “Kalau sekarang petani ada yang jual Rp 1000 per kg pasti juga ada yang beli,” katanya. Padahal pada awal Januari 2010 harga garam tingkat petani di Indramayu berkisar Rp 360 per kg. Sementara di tingkat eceran harga garam di bulan Oktober Rp 2000 per kg, padahal di awal bulan Januari harganya Rp 1000 per kg.Tingginya harga garam ini membikin petani menahan persediaan garamnya. Anggota Presidium Aliansi Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (A2PGRI) Faisal Badawi menghitung, petani Madura masih menahan 400 ton garam. “Saya tidak tahu mereka mau jual garam menunggu sampai harga berapa,” katanya.

Garam sebagai komoditas dibutuhkan di banyak usaha. Mulai dari pengasinan ikan, industri kecap, mi instan, makanan ringan dalam bentuk biskuit atau kue, hingga industri penyedap rasa. Garam juga digunakan dalam industri pakan ternak, pengeboran minyak, farmasi, kulit, hingga industri es.Indonesia punya garis pantai 80.000 km, salah satu terpanjang di dunia. Dus, selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia seharusnya menjadi pengekspor garam. Nyatanya, pemerintah masih impor garam dari Australia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: