Dicoret FTSE Russell, Begini Prospek GOTO, NCKL, DOID dan CNMA



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan FTSE Russell mengeluarkan sejumlah saham Indonesia dari indeksnya diperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap arus dana asing di pasar modal domestik. 

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su mengatakan dampak penghapusan saham dari indeks FTSE Russell terhadap aliran dana investasi cenderung terbatas.

"Perlu diingat bahwa dampak dari exclusions FTSE Russell sebenarnya relatif kecil terhadap flow, apalagi jika dibandingkan dengan efek dari rebalancing MSCI," ujar Harry kepada Kontan, Selasa (23/6).


Baca Juga: Dana Kelolaan Reksadana Pendapatan Tetap Turun Dalam pada Mei 2026, Ini Penyebabnya

Meski demikian, prospek masing-masing emiten yang keluar dari indeks tetap akan ditentukan oleh fundamental dan kondisi industrinya.

Untuk PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), Harry menilai tantangan ke depan semakin besar. Menurutnya, sejumlah kebijakan pemerintah berpotensi menekan kinerja perusahaan.

Ia menyoroti rencana penerapan batas maksimal potongan atau take rate sebesar 8% pada layanan online delivery service (ODS) serta potensi penurunan biaya layanan di bisnis e-commerce.

"Ke depan akan sulit bagi GOTO untuk mempertahankan kinerja positifnya akibat inisiatif pemerintah yang kurang menguntungkan perseroan seperti 8% take rate pada ODS dan potensi penurunan fee pada e-commerce," kata Harry.

Sementara itu, prospek PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel juga dinilai cukup menantang. Harry melihat tekanan terhadap profitabilitas masih akan berlanjut seiring kenaikan biaya energi dan sulfur.

"Kami melihat kinerja perseroan tahun ini cukup challenging, terutama dari sisi profitability margins mengingat biaya energi dan sulfur yang meningkat," ujar Harry.

Pandangan serupa juga diberikan kepada PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID). Menurut Harry, ketidakpastian terkait Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) sektor pertambangan serta kenaikan harga energi berpotensi membatasi pertumbuhan kinerja perusahaan.

Di sisi lain, Harry masih melihat prospek positif pada PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA), operator jaringan bioskop Cinema XXI. 

Ia menilai kinerja CNMA berpotensi tetap solid pada semester II-2026 seiring hadirnya sejumlah film blockbuster yang dapat mendorong jumlah penonton.

Atas dasar itu, Harry mempertahankan rekomendasi buy untuk saham CNMA dengan target harga Rp 170 per saham.

Berdasarkan data perdagangan hingga Selasa (23/6) pukul 13.30 WIB, saham DOID terkoreksi 1,90% ke Rp 206 per saham. Penurunan juga terjadi pada CNMA dan NCKL yang masing-masing melemah 1,16% ke Rp 85 per saham dan 1,15% ke Rp 860 per saham. Sementara itu, saham GOTO masih bertahan di level Rp 50 per saham.

Dengan demikian, meski penghapusan saham dari indeks FTSE Russell berpotensi memicu tekanan jangka pendek akibat penyesuaian portofolio dana pasif, arah pergerakan saham dalam jangka menengah hingga panjang tetap akan lebih banyak ditentukan oleh prospek fundamental masing-masing emiten.

Baca Juga: Harga Emas Spot dan Antam Ambles, Saatnya Akumulasi atau Tunggu Lagi?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News