Didier Deschamps Pamit dari Timnas Prancis, Warisan 14 Tahun Sulit Ditandingi



KONTAN.CO.ID - Perjalanan Didier Deschamps bersama tim nasional Prancis akan berakhir setelah Piala Dunia 2026.

Meski harus mengakhiri masa jabatannya dengan kekecewaan usai tersingkir di semifinal, warisan pelatih berusia 57 tahun itu tetap tercatat sebagai salah satu yang terbaik dalam sejarah sepak bola Prancis.

Baca Juga: Unai Simon Pimpin Daftar Clean Sheet Piala Dunia 2026, Bidik Rekor Barthez


Prancis harus mengakui keunggulan Spanyol dengan skor 0-2 pada semifinal Piala Dunia, Selasa (14/7/2026).

Kekalahan tersebut menambah deretan kegagalan Les Bleus di fase akhir turnamen besar setelah kalah dari Argentina pada final Piala Dunia 2022 serta tiga kali beruntun disingkirkan Spanyol di semifinal turnamen mayor, yakni Euro 2024, UEFA Nations League, dan Piala Dunia 2026.

Meski demikian, pencapaian Deschamps selama lebih dari satu dekade tetap sulit ditandingi.

Ia mengambil alih kursi pelatih timnas Prancis pada 2012, ketika sepak bola Prancis masih berusaha bangkit dari krisis menyusul aksi mogok pemain dan kegagalan memalukan di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

Di bawah kepemimpinannya, Prancis berhasil menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia, gelar dunia kedua negara itu setelah keberhasilan pada 1998 ketika Deschamps masih menjadi kapten tim.

Baca Juga: Bursa Australia Sentuh Level Tertinggi Hampir Sebulan, Rio Tinto dan BHP Bersinar

Sebagai pelatih, Deschamps mencatatkan 20 kemenangan di putaran final Piala Dunia, rekor terbanyak bagi seorang pelatih Prancis.

Ia juga membawa Les Bleus mencapai semifinal dalam tiga edisi Piala Dunia secara beruntun dan dua kali tampil di final.

Laga perebutan tempat ketiga pada Sabtu nanti menjadi pertandingan terakhir Deschamps bersama timnas Prancis.

Ia telah mengumumkan sejak tahun lalu bahwa akan mundur setelah kontraknya berakhir usai turnamen ini.

Mantan rekan setimnya, Zinedine Zidane, menjadi kandidat terkuat untuk menggantikannya.

Mengutamakan efektivitas

Sepanjang kariernya sebagai pelatih timnas, Deschamps dikenal lebih mengutamakan keseimbangan, disiplin, dan efektivitas dibanding permainan atraktif.

Pendekatan tersebut kerap menuai kritik karena dianggap tidak memaksimalkan banyaknya pemain bertalenta yang dimiliki Prancis.

Baca Juga: Argentina Harus Kuasai Bola untuk Kalahkan Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026

Namun hasil yang diraih berkali-kali membuktikan efektivitas pendekatan tersebut.

Deschamps membawa Prancis mencapai perempat final Piala Dunia 2014 sebelum mengantar tim menjadi finalis Euro 2016.

Dua tahun kemudian, Prancis menjadi juara dunia setelah mengalahkan Kroasia 4-2 pada final Piala Dunia 2018.

Keberhasilan itu membuat Deschamps menjadi orang ketiga dalam sejarah, setelah Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer, yang mampu menjuarai Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih.

Prancis kemudian menjuarai UEFA Nations League 2021 dan nyaris mempertahankan gelar Piala Dunia di Qatar pada 2022 sebelum kalah melalui adu penalti dari Argentina setelah bermain imbang 3-3 dalam salah satu final terbaik sepanjang sejarah.

Baca Juga: Argentina Kembali Pakai Jersey Biru Tua Lawan Inggris, Tuchel Pahami Faktor Takhayul

Karier penuh prestasi

Sebelum menjadi pelatih timnas, Deschamps lebih dahulu membangun reputasi sebagai salah satu gelandang bertahan terbaik Eropa.

Ia memulai karier profesional bersama Nantes sebelum bergabung dengan Olympique Marseille dan menjadi kapten klub Prancis pertama yang menjuarai Liga Champions pada 1993.

Kariernya berlanjut di Juventus, tempat ia meraih tiga gelar Serie A dan satu trofi Liga Champions.

Bersama tim nasional Prancis, Deschamps mencatatkan 103 penampilan serta mengangkat trofi Piala Dunia 1998 dan Euro 2000 sebagai kapten.

Kesuksesannya juga berlanjut sebagai pelatih klub.

Ia membawa AS Monaco ke final Liga Champions 2004, mengantar Juventus promosi kembali ke Serie A setelah skandal Calciopoli, dan mengakhiri penantian 18 tahun Marseille untuk meraih gelar Liga Prancis pada 2010.

Baca Juga: AS Kembali Blokade Pelabuhan Iran, Trump Siapkan Serangan ke Pembangkit Listrik

Kekalahan yang tak menghapus sejarah

Kekalahan dari Spanyol di Dallas menjadi penutup yang pahit bagi perjalanan Deschamps.

Prancis datang sebagai salah satu favorit juara berkat ketajaman lini serang mereka, tetapi justru kalah secara teknis, taktis, dan fisik dari Spanyol.

Deschamps mengakui timnya tidak mampu tampil pada level terbaik.

"Saya tidak ingin melupakan semua yang telah kami lakukan. Namun dalam pertandingan ini, Spanyol memang memiliki sesuatu yang lebih baik," ujar Deschamps usai laga.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (15/7) Pagi, Brent ke US$ 86,19 & WTI ke US$ 80,40

Meski gagal mengakhiri kariernya bersama timnas dengan trofi, Deschamps meninggalkan warisan yang sulit ditandingi.

Ia pernah mengangkat trofi Piala Dunia sebagai kapten, kembali mengangkatnya sebagai pelatih, dan selama 14 tahun memastikan Prancis selalu menjadi salah satu kekuatan utama dalam perebutan gelar sepak bola dunia.