KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES) melihat adanya peningkatan permintaan pada kuartal I-2026, seiring dengan mulai bergulirnya sejumlah proyek pembangunan di berbagai daerah. Direktur Keuangan BLES, Andrew, menyampaikan pada kuartal pertama tahun ini terdapat kenaikan permintaan yang turut ditopang oleh dimulainya pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) secara serentak. “Hal ini turut memberikan kontribusi positif terhadap permintaan produk Perseroan pada awal tahun. Hal yang dapat berpengaruh pada permintaan adalah jumlah hari kerja selama masa libur Lebaran,” ungkap Andrew, kepada Kontan.co.id, pekan ini.
Dari sisi segmen pasar, permintaan bata ringan dari sektor residensial masih menunjukkan tren stabil pada awal tahun. Kondisi ini dinilai sejalan dengan kebutuhan pembangunan perumahan yang terus tumbuh dari tahun ke tahun, seiring masih tingginya backlog kepemilikan rumah di Indonesia.
Baca Juga: Volume Penjualan Naik 23%, Superior Prima (BLES) Cetak Pendapatan Rp 1,07 Triliun Sementara itu, permintaan dari sektor non-residensial belum sepenuhnya pulih dibandingkan tahun lalu. Kendati demikian, mulai bergulirnya pembangunan KDMP di sejumlah wilayah memberikan tambahan dorongan terhadap permintaan. “Dengan kondisi tersebut, utilisasi kapasitas pabrik Perseroan tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan pasar,” katanya.
Di sisi lain, perusahaan belum melihat adanya tekanan signifikan sepanjang kuartal pertama tahun ini. Bahkan, harga jual produk tercatat mengalami koreksi positif dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Untuk prospek sepanjang tahun, BLES menilai peluang pertumbuhan masih terbuka seiring kondisi makroekonomi dan potensi pemulihan daya beli masyarakat. Namun, perusahaan belum dapat merinci target pertumbuhan kinerja tahun ini. “Dengan kondisi makro ekonomi Indonesia serta pemulihan daya beli masyarakat, Perusahaan meyakini pertumbuhan pada tahun 2026,” jelasnya.
Hal senada juga berlaku untuk rencana belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun ini. Perusahaan menyebut masih akan melihat peluang yang ada sebelum memutuskan besaran alokasi investasi.
Baca Juga: SMGR Percepat Proyek Hunian Pascabencana Lewat Pasokan Bata Interlock Presisi Meski peluang tetap terbuka, BLES tetap mewaspadai sejumlah tantangan hingga akhir tahun. Salah satunya adalah potensi melemahnya daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi global dan domestik yang masih dinamis. Menurut Manajemen, kondisi tersebut berpotensi mempengaruhi aktivitas industri manufaktur dan dapat menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian secara lebih luas.
Untuk menjaga kinerja sepanjang tahun, BLES menyiapkan strategi perluasan pasar. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mulai masuk ke segmen outlet modern yang sebelumnya belum menjadi fokus utama perusahaan. Perusahaan menilai perubahan perilaku konsumen yang semakin terbiasa bertransaksi melalui kanal ritel modern membuka peluang baru bagi distribusi produk bahan bangunan. Langkah ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkuat jaringan distribusi BLES ke depan.
Baca Juga: Superior Prima (BLES) Cetak Rekor Penjualan, Omzet Tembus Rp 900 Miliar Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News