KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Perusahaan biofarmasi Attovia Therapeutics resmi mengajukan penawaran umum perdana saham (IPO) di Amerika Serikat (AS). Langkah ini dilakukan untuk menghimpun dana guna mempercepat pengembangan portofolio obat yang tengah dikembangkan perusahaan. Rencana IPO Attovia menambah daftar perusahaan bioteknologi yang kembali masuk ke pasar modal seiring membaiknya minat investor terhadap aset berisiko.
Baca Juga: Taiwan dan Korea Selatan Jadi Bintang Baru Bursa Asia, Ini Kata Goldman Sachs Sebelumnya, pengembang obat
sleep apnea Apnimed juga mengajukan IPO pada pekan lalu, sementara pengembang obat penyakit jantung Kardigan berhasil menghimpun dana US$ 400 juta melalui IPO yang diperbesar pada Juni lalu. Dalam dokumen pengajuan IPO, Attovia menyatakan dana hasil penawaran saham, bersama kas yang telah dimiliki perusahaan, akan digunakan untuk mempercepat pengembangan kandidat obat utama, mendanai kegiatan riset dan pengembangan (R&D), serta memenuhi kebutuhan modal kerja dan keperluan operasional perusahaan. Didirikan pada 2023, Attovia mengembangkan terapi biologis untuk penyakit yang dipicu gangguan sistem imun melalui platform teknologi ATTOBODY. Fokus pengembangan perusahaan mencakup obat untuk penyakit kulit inflamasi dan penyakit radang usus (inflammatory bowel disease).
Baca Juga: Bos Goldman Sachs David Solomon Jadi CEO dengan Bayaran Tertinggi di Wall Street Attovia mendapat dukungan dari sejumlah investor besar, di antaranya Goldman Sachs Alternatives, Deep Track Capital, Frazier Life Sciences, dan venBio.
Berdasarkan dokumen IPO, masing-masing investor tersebut menguasai sedikitnya 5% saham perusahaan. Perusahaan berencana mencatatkan sahamnya di Nasdaq Global Market dengan kode emiten ATTO.
Baca Juga: Pendapatan Trading Melejit, Laba Goldman Sachs Naik Tajam pada Kuartal II IPO Attovia akan ditangani oleh Morgan Stanley, Leerink Partners, Citigroup, dan RBC Capital Markets yang bertindak sebagai penjamin emisi (underwriter).