KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah resmi meluncurkan bahan bakar biodiesel 50% atau B50 di KM 57 Tol Jakarta-Cikampek, Kamis (9/7). Dalam peluncuran tersebut, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memaparkan hasil uji coba yang telah dilakukan. Lompatan implementasi bauran energi nabati ini diklaim menunjukkan performa yang memuaskan pada berbagai jenis kendaraan. Bahlil mengakui, peningkatan kadar minyak sawit dalam biodiesel ini bukan perkara mudah karena biasanya naik bertahap 5% hingga 10%.
Baca Juga: Presiden Prabowo Resmi Meluncurkan Program Mandatori B50 Menurutnya, pengembangan teknologi ramah lingkungan ini umumnya membutuhkan waktu evaluasi yang cukup lama sebelum bisa diterapkan secara massal. Namun, percepatan program ini terus digenjot untuk mengejar target ketahanan energi yang dipatok oleh pemerintah pusat. "Awalnya memang B50 ini jujur kami katakan bahwa ini bukan pekerjaan yang mudah. Karena biasanya tahapannya itu Bapak Presiden naik 5%, maksimal 10%. Itu pun 10% itu dia 3 tahun baru bisa kita melakukan uji coba. Tapi perintah Bapak Presiden waktu itu, Bapak Presiden mengatakan bahwa bagaimana caranya pun B50 harus kita bisa luncurkan di 2026," ujarnya dikutip dalam siaran Sekretariat Presiden, Kamis (9/7/2026). Bahlil mengungkapkan, implementasi kebijakan ini bukan sekadar urusan teknis mencampur bahan bakar cair berbasis kelapa sawit saja. Kebijakan mandiri energi ini menjadi simbol penting bagi ketahanan nasional di tengah ketidakpastian pasokan global. "Pak, ini test case-nya enam bulan, jadi kereta api, mobil, mobil Mercedes pun dites Pak, bis. Tidak hanya Toyota, Mercedes pun oke. Jadi ini dari (mobil) Asia sampai Eropa semua kita bikin. Kapal-kapal semuanya kita tes," lanjutnya. Bahlil menuturkan, hasil uji coba selama setengah tahun menunjukkan bahwa bahan bakar baru ini aman digunakan untuk berbagai mesin.
Dia bilang, indikator efisiensi kendaraan tercatat membaik dan komponen penyaringan bahan bakar memiliki masa pakai yang jauh lebih lama. Hal ini menepis kekhawatiran pelaku industri transportasi mengenai potensi kerusakan mesin akibat peningkatan kadar minyak nabati. "Dan Alhamdulillah, hasil test-nya ternyata kualitas B50 jauh lebih baik daripada B40. Apa dasarnya kalau B40 itu filternya itu diganti pada ukuran 10.000 sampai dengan 20.000 kilometer (km). Nah untuk B50 Pak, ada yang 40.000 Km belum diganti filternya," tandasnya.
Baca Juga: Kejar Target 2026, Ditjen Pajak Layangkan Surat Pengingat Tagihan ke Para Penunggak Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News