Dikabarkan merger, saham Nokia moncer



KONTAN.CO.ID - HELSINKI. Nokia menyiapkan beberapa langkah strategis. Produsen peralatan telekomunikasi asal Finlandia ini sedang menyiapkan opsi merger.

Dalam laporan Bloomberg News, Nokia juga dikabarkan sedang mempersiapkan penjualan aset-aset perusahaan. Pasar pun merespons kabar tersebut, saham Nokia naik pada Kamis (27/2), di saat pasar global sedang anjlok.

Saham Nokia 1,1% lebih tinggi di tengah hari di Helsinki, sementara indeks saham teknologi Eropa .SX8P 2,1% lebih rendah.


Mirabaud Securities mengatakan laporan Bloomberg langsung mendukung saham Nokia yang membuat investor melakukan short covering.

Baca Juga: Nokia berencana comeback dengan penuh kejutan, begini kisahnya

Dalam laporan itu mengatakan Nokia sedang mempertimbangkan opsi-opsi strategis dan bekerja dengan para penasihat untuk mempertimbangkan potensi penjualan aset dan merger, mengutip sumber yang mengetahui masalah ini.

Namun sayangnya si sumber itu tidak memberikan detil soal rencana Nokia itu.

Nokia juga menolak berkomentar.

Dalam pasar telekomunikasi, Nokia masih terus bersaing dengan Huawei dan Ericsson untuk pesanan jaringan 5G baru yang menjadi pusat perang teknologi pembuatan antara Amerika Serikat dan China.

Teknologi 5G baru diharapkan menjadi salah satu pendukung untuk kendaraan tanpa pengemudi hingga komunikasi militer.

Jaksa Agung A.S. William Barr mengatakan bulan ini Amerika Serikat dan sekutunya harus mempertimbangkan berinvestasi di Nokia dan Ericsson untuk melawan dominasi Huawei dalam teknologi 5G. Hal ini memicu spekulasi kegiatan merger dan akuisisi (M&A) di antara masing-masing pemain.

Baca Juga: Vodafone dan Hutchison Australia Gandeng Nokia Untuk Luncurkan layanan 5G

Industri jaringan telekomunikasi seluler telah mengalami konsolidasi besar dalam dekade terakhir, dengan Nokia membeli Siemens dari perusahaan dan mengakuisisi Alcatel-Lucent.

Pada bulan Oktober, Nokia memangkas prospek laba 2019 dan 2020 dan menghentikan pembayaran dividen. Nokia mengatakan laba akan berada di bawah tekanan karena perusahaan meningkatkan investasi di teknologi 5G.

Editor: Herlina Kartika Dewi