Dilema Kevin Warsh: Antara Inflasi Tinggi dan Mimpi Bunga Rendah Presiden AS



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Mau tak mau, Chairman The  Federal Reserve Kevin Warsh sepertinya harus menaikkan suku bunga acuan. Tingginya inflasi, harga minyak yang menembus US$ 100 per barel, serta prinsip Warsh soal pentingnya menjaga stabilitas harga dan sinyal pasar keuangan, mengarah ke kenaikan Fed fund rate.

The Fed dijadwalkan mengumumkan kebijakan moneternya Rabu (16/9/2026) waktu setempat, atau Kamis (17/9/2026) dinihari di Indonesia. Menurut laporan Reuters, pelaku pasar kini sangat yakin para petinggi The Fed akan menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%.

Keputusan semacam itu dapat menempatkan Warshdalam situasi sulit. Maklum, Presiden AS Donald Trump memilih Warsh dengan harapan eksplisit ia akan memangkas suku bunga acuan. Warsh sendiri sejauh ini enggan memberikan panduan mengenai arah suku bunga AS di masa mendatang.


Keputusan The Fed menaikkan suku bunga, terutama jika disertai dengan proyeksi pengambil kebijakan mengenai kenaikan lanjutan tahun ini sebagaimana diperkirakan sebagian analis saat ini, juga dapat memaksa Warsh memberikan setidaknya sedikit gambaran mengenai arah suku bunga dan ekspektasi terhadap perekonomian.

Ini kecuali jika Warsh merasa nyaman membiarkan pintu terbuka lebar bagi kenaikan-kenaikan berikutnya. "Warsh juga harus sangat berhati-hati dalam pernyataannya jika ia tetap ingin menghindari pemberian proyeksi ke depan," tulis Oscar Munoz, ekonom TD Securities, seperti dikutip Reuters, Senin (14/9/2026).

Baca Juga: The Fed Hadapi Tekanan Naikkan Bunga Saat Inflasi AS Kembali Memanas

Menurut Munoz, cukup jelas bahwa pengetatan lebih lanjut akan terjadi jika The Fed memilih langkah kenaikan suku bunga pada September. “Akan menarik untuk melihat bagaimana sang ketua (Warsh) menyeimbangkan situasi tersebut," lanjut dia.

Asal tahu saja, sepekan yang lalu, sejumlah pejabat The Fed masih belum memberi pandangan yang jelas soal arah bunga. Gubernur The Fed Christopher Waller menilai masih ada peluang terjadinya disinflasi, setelah data inflasi di Juni dan Juli menunjukkan angka cukup rendah.

Namun, realisasi angka inflasi yang dipublikasikan pekan lalu lebih tinggi dari perkiraan. Ini membuat para pejabat The Fed cenderung mendukung kenaikan suku bunga.

Sekadar mengingatkan, Bureau of Labor Statistics (BLS) AS mengumumkan inflasi inti AS naik 0,3% secara bulanan di Agustus. Angka ini jauh melampaui tingkat yang konsisten dengan target inflasi 2%. Padahal di saat yang sama, ada ancaman lonjakan harga minyak hingga di atas US$ 100 per barel.

JPMorgan memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga pekan ini. "Pada akhirnya, para pimpinan kembali melontarkan peringatan keras bahwa sikap tidak menoleransi inflasi dapat mengancam kredibilitas institusi jika tidak disertai tindakan nyata," ujar Michael Feroli, ekonom JPMorgan.

Baca Juga: Bank Global Ramai-ramai Prediksi The Fed Naikkan Suku Bunga Pekan Ini

Kendati begitu, para ekonom tetap berpendapat, karena sebagian besar pengambil kebijakan The Fed kemungkinan akan mengikuti preferensi Ketua The Fed yang baru menjabat, Warsh bisa saja menggalang dukungan mayoritas untuk mempertahankan suku bunga.

Namun, mengingat pernyataan berulang Warsh bahwa inflasi merupakan tanggung jawab The Fed, ditambah dengan data inflasi bulan Agustus yang tinggi, serta potensi tingginya harga minyak dalam waktu lama, Warsh sangat mungkin tetap menaikkan suku bunga.