Dinamika Eskalasi AS – Iran, Ada Potensi Harga Minyak Mentah Kembali Naik



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah WTI diperkirakan kembali naik setelah eskalasi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) – Iran kembali memanas. Mengutip Trading Economics Jumat (10/7) pukul 15.31 WIB, harga minyak mentah WTI di level US$ 71,74 per barel, menguat 4,15% dalam sepekan. 

Girta Putra Yoga, Research and Development ICDX mengatakan, pergerakan harga minyak mentah didukung oleh sentimen dari meningkatnya aksi saling serang AS - Iran yang turut memicu eskalasi risiko bagi keamanan lalu lintas melalui jalur Selat Hormuz. Meski demikian, penegasan Irak untuk tidak keluar dari aliansi OPEC menjadi katalis positif bagi harga minyak.

Yoga melihat bahwa angkatan bersenjata Iran mengklaim telah melancarkan serangan pada hari Kamis yang menargetkan sistem Patriot AS di Kuwait, situs peringatan dini di Qatar, dan depot bahan bakar Angkatan Darat AS di Bahrain, menyusul serangan AS di provinsi pesisir selatan dan timur Iran. 


Baca Juga: Terkoreksi 0,56% Dalam Sepekan, Rupiah Melemah ke Rp 18.065 per Dolar AS

“Selain itu, Iran juga memperingatkan bahwa intervensi AS lebih lanjut terkait pengiriman melalui Selat Hormuz justru akan mengganggu pemulihan yang berjalan saat ini,” ujar Yoga kepada Kontan, Jumat (10/7/2026).

Masih dari Iran, data terbaru pelacakan kapal dan sumber industri melaporkan pergerakan kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz telah melambat hingga hampir berhenti total pada hari Kamis. Hanya dua kapal tanker yang melewati jalur tersebut selama jam-jam awal hari Kamis, yaitu kapal tanker minyak super Berg 1, yang memuat kargonya di Pulau Kharg, Iran, dan berada di bawah sanksi AS, ungkap analisis Kpler.

Dukungan lainnya datang dari kilang minyak Saratov Rusia yang telah berhenti beroperasi sejak 8 Juli pasca kerusakan akibat serangan drone. Kabar tersebut memicu kekhawatiran akan membuat kondisi krisis bahan bakar di Rusia meningkat lebih lanjut, setelah pada awal pekan kilang minyak Omsk, yang terbesar di Rusia, juga menghentikan operasinya setelah serangan drone Ukraina.

Sementara itu, Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi pada hari Kamis menyatakan bahwa Irak tidak akan meninggalkan OPEC, tetapi sedang mencari kuota produksi yang adil dalam aliansi kelompok produsen tersebut. Berita tersebut meredam kekhawatiran yang beredar sebelumnya mengenai potensi dari negara produsen terbesar kedua OPEC itu untuk menyusul langkah UEA keluar dari aliansi.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, prospek harga minyak mentah masih cenderung bullish, tetapi volatilitas akan tetap tinggi. Kekhawatiran utama pasar adalah potensi gangguan terhadap produksi dan pasokan minyak dari Timur Tengah. 

“Namun selama konflik tidak mengganggu produksi maupun distribusi secara signifikan, kenaikan harga kemungkinan akan terbatas,” ucap Lukman. 

Lukman menambahkan bahwa pergerakan harga minyak mentah WTI ke depan akan ditentukan dari perkembangan konflik di Timur Tengah, potensi gangguan pasokan minyak dan akses di Selat Hormuz. kemudian, kebijakan produksi OPEC+ dan prospek permintaan global, terutama dari China dan AS. serta arah kebijakan suku bunga The Fed.

Lukman memproyeksikan harga minyak mentah WTI pada kuartal III – 2026 akan berkisar US$ 75 – US$ 85 per barel, dengan bias naik apabila ketegangan geopolitik terus meningkat. Skenario bullish dapat membawa harga menembus US$ 90 – US$ 100 per barel jika terjadi gangguan nyata terhadap produksi, pasokan atau distribusi minyak dari Timur Tengah. Namun jika terjadi sebaliknya, harga berpotensi kembali bergerak menuju kisaran US$ 70 – US$ 75 per barel. 

Sementara Yoga melihat harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 75 per barel dan berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 70 per barel.

Baca Juga: Pengusaha Optimistis IHSG Berpotensi Kembali ke Level 9.000, Ini Alasannya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News