KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Valuta asing (valas) komoditas bergerak menguat setelah indeks dolar Amerika Serikat (AS) (DXY) mengalami pelemahan. Mengutip Bloomberg Rabu (8/4/2026) pukul 17.25 WIB, indeks dolar AS (DXY) berada di level 98,85, turun 1% secara harian. Adapun pasangan valas AUD/USD menguat 0,89% secara harian ke level 0,7036. Pasangan mata uang NZD/USD naik 1,50% ke level 0,5816, dan pasangan valas USD/CAD turun 0,12% ke level 1,3871. Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, AS - Iran memutuskan untuk melakukan gencatan senjata selama dua pekan. Gencatan senjata terjadi setelah sebelumnya Iran menembak jatuh jet tempur maupun drone milik AS – Israel.
Selat Hormuz juga kembali dibuka untuk jalur perdagangan komoditas energi seperti biasa sebelum AS - Israel menyerang Iran. Dibukanya Selat Hormuz membawa angin segar bagi ekonomi global, karena selama ini harga minyak terus mengalami kenaikan sejak terjadinya perang tersebut. Ibrahim melihat gencatan senjata itu langsung berdampak pada menurunnya harga minyak mentah dunia. Selain itu juga berdampak pada melemahnya indeks dolar (DXY). “Kita lihat indeks dolar AS (DXY) juga melemah,” ujar Ibrahim, Rabu (8/4/2026). Melemahnya indeks dolar membuat sejumlah valas komoditas menguat. Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan pasangan valas NZD/USD melanjutkan tren penguatannya untuk hari ketiga berturut-turut. Kenaikan ini dipicu oleh membaiknya sentimen risiko setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui penangguhan serangan terhadap Iran selama dua minggu, yang meningkatkan optimisme pasar terhadap potensi meredanya konflik. Kesepakatan tersebut bergantung pada komitmen Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan telah mendapat persetujuan dari Israel. “Langkah ini dipandang sebagai upaya awal menuju de-eskalasi, meskipun implementasinya masih akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi ke depan,” ujar Amru kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).
Baca Juga: Valas Komoditas 2026 Variatif, CAD dan AUD Dinilai Lebih Solid dari NZD Di sisi lain, pejabat Iran mengungkapkan bahwa pembicaraan lanjutan dengan AS akan dilakukan di Pakistan guna merampungkan detail kesepakatan dalam waktu maksimal 15 hari. Namun demikian, kondisi di lapangan masih diwarnai ketegangan, dengan laporan serangan rudal yang terus terjadi di kawasan Timur Tengah, sehingga menjaga volatilitas pasar tetap tinggi. Dari sisi domestik, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan kebijakan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga di level 2,25%. “Pernyataan kebijakan serta konferensi pers Gubernur Anna Breman akan menjadi kunci dalam menentukan arah kebijakan selanjutnya,” kata Amru. Berikutnya, pasangan valas AUD/USD. Amru melihat Dolar Australia menguat hingga sempat menembus level 0,7064 dan mencatatkan posisi tertinggi dalam dua minggu. Penguatan ini didorong oleh membaiknya sentimen risiko global serta pelemahan Dolar AS. Penguatan ini juga terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian sementara operasi militer terhadap Iran selama dua minggu, yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik. Langkah tersebut diambil menjelang tenggat waktu yang sebelumnya berpotensi memicu peningkatan serangan, namun digantikan dengan kesepakatan “gencatan senjata dua arah” yang terkait dengan pembukaan kembali Selat Hormuz. Selain itu, adanya proposal 10 poin dari Iran yang dijadikan dasar negosiasi turut meningkatkan optimisme pasar terhadap peluang penyelesaian konflik secara diplomatik. “Di sisi kebijakan, meredanya ketegangan berpotensi mengurangi tekanan inflasi global, yang dapat memengaruhi arah kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA),” terang Amru. Sebelumnya, pasar memperkirakan kenaikan suku bunga hingga 4,35% atau lebih pada pertemuan Mei akibat lonjakan harga energi. Namun, proses normalisasi pasokan diperkirakan masih membutuhkan waktu.
Baca Juga: IHSG Dibayangi Risk Off, Saham Komoditas Jadi Penopang di Tengah Aksi Jual Asing Selanjutnya pasangan valas USD/CAD. Amru mengatakan, pasangan mata uang ini melemah seiring pelemahan Dolar AS (USD) terhadap Dolar Kanada (CAD). Tekanan pada USD muncul setelah Iran menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dengan Amerika Serikat. Kesepakatan ini tercapai setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menghentikan serangan dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz. “Pernyataan dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi yang menjamin jalur pelayaran aman turut meredakan ketegangan dan mendorong pelemahan USD,” terang Amru. Namun, Amru menilai pelemahan pasangan valas ini berpotensi terbatas. Pelaku pasar kini menantikan rilis notulen Federal Open Market Committee (FOMC) untuk melihat arah kebijakan Federal Reserve selanjutnya, di mana nada hawkish dapat menahan tekanan pada USD. “Di sisi lain, harga minyak yang turun di bawah US$ 100 per barel akibat meredanya risiko gangguan pasokan justru dapat membebani CAD, mengingat Kanada merupakan eksportir minyak utama,” jelas Amru. Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, sentimen risk on umumnya mendukung mata uang komoditas, namun mungkin sedikit banyak ada perbedaan. Dolar Australia (AUD) secara umum lebih pada komoditas industri, logam dan mineral industri tentunya akan sangat terdukung. Lalu Dolar New Zealand (NZD) juga sangat terdukung, dengan ekspor soft commodity yang idealnya tidak terlalu besar tergantung pada harga energi. Namun dengan harga energi yang lebih rendah, akan sangat meringankan biaya produksi dan logistik/transportasi. Sedangkan terkait Dolar Kanada (CAD), ekspor komoditas energi adalah yang terbesar, sehingga tentunya harga energi yang lebih rendah tidak mendukung CAD. Namun umumnya masih mendukung karna Kanada eksportir kendaraan, mesin industri, emas dan logam industri lainnya.
Lukman menilai proyeksi valas komoditas sulit diprediksi mengingat ketidakpastian perang di Timur Tengah. “Gencatan senjata baru-baru ini hanya untuk 2 minggu,” terang Lukman. Apabila perang berkelanjutan dan Selat Hormuz kembali ditutup maka valas AUD/USD pada kuartal II diperkirakan dikisaran 0,66 - 0,67, valas NZD/USD direntang 0,55 - 0,56, dan valas USD/CAD direntang 1,40 - 1.41. Sebaliknya apabila perang berakhir, AUD/USD diproyeksi di rentang 0,72 - 0,73, NZD/USD dikisaran 0,60 - 0.61, dan valas USD/CAD direntang 1,35 - 1,36.
Baca Juga: Proyeksi Valas Komoditas 2026: CAD Paling Menarik, NZD Paling Rentan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News