Diplomasi Dagang RI–AS Menguat, Surplus Neraca Dagang 2026 Diprediksi Menyempit



KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Perkembangan positif dalam negosiasi dagang Indonesia dengan Amerika Serikat memberi harapan bagi kinerja perdagangan pada 2026. Namun, di tengah optimisme pemerintah, ekonom memperkirakan surplus neraca dagang tetap menyempit akibat laju impor yang melampaui ekspor.

Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengungkapkan, negosiasi Indonesia dengan Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) menghasilkan kesepakatan yang dinilai optimal bagi kepentingan nasional.

“Nanti akan ada surprise untuk beberapa komoditas dengan ekspor besar ke AS,” ujar Susiwijono, Kamis (29/1/2026).


Pemerintah berharap hasil diplomasi ini dapat memperluas akses produk Indonesia ke pasar AS, meningkatkan daya saing ekspor nasional, sekaligus menjadi pendorong awal pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026.

Baca Juga: KPK Ungkap Alasan Belum Tahan Gus Yaqut Meski Jadi Tersangka Korupsi Kuota Haji

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memproyeksikan surplus neraca dagang Indonesia pada 2026 masih berlanjut, namun cenderung menyempit karena pertumbuhan impor diperkirakan melampaui ekspor.

Josua menilai hasil negosiasi dagang Indonesia dengan Amerika Serikat berpotensi mendorong ekspor, terutama jika disertai penerapan tarif nol atau pelonggaran aturan masuk. Meski demikian, dalam skenario dasar, surplus perdagangan 2026 diperkirakan tidak lebih tinggi dibandingkan 2025.

“Kecuali terjadi lonjakan ekspor dari pasar Amerika Serikat yang benar-benar besar dan diikuti impor yang lebih terkendali,” ujar Josua kepada Kontan, Jumat (30/1/2026).

Ia menjelaskan, impor diproyeksikan tumbuh lebih cepat seiring kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan dan meningkatkan kebutuhan barang modal serta bahan baku. Sementara itu, ekspor berpotensi melambat setelah meningkat signifikan pada 2025.

Dari sisi komoditas, potensi ekspor 2026 terutama berasal dari produk industri dan pengolahan seperti logam, besi baja, serta hasil hilirisasi mineral. Selain itu, komoditas perkebunan seperti minyak kelapa sawit tetap menjadi penopang, bersama peluang produk manufaktur padat karya dan perikanan seiring terbukanya akses pasar.

Josua mengingatkan kenaikan impor barang modal perlu dicermati karena berpotensi cepat menggerus surplus dagang jika tidak diimbangi peningkatan ekspor. Risiko global seperti ketegangan dagang dan geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta gangguan rantai pasok global juga perlambatan ekonomi mitra dagang utama di Asia turut menjadi risiko tambahan bagi kinerja ekspor Indonesia.

Baca Juga: Diskon Tiket Pesawat Lebaran 2026 Bakal Lebih Besar, Ekonomi Kuartal I Mampu Melejit?

Dari dalam negeri, tekanan surplus juga dapat berasal dari lonjakan impor akibat agenda pro-pertumbuhan, sementara ekspor tertahan oleh pelemahan harga komoditas seperti batu bara dan minyak kelapa sawit.

Untuk jangka pendek, Josua memperkirakan surplus neraca dagang Desember 2025 menyempit menjadi sekitar US$ 1 miliar,  dibandingkan November 2025 yang mencapai US$ 2,66 miliar. Penurunan ni dipengaruhi kenaikan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor.

"Ekspor Desember 2025 diperkirakan turun 4,59% yoy dan relatif stagnan secara bulanan akibat pelemahan harga komoditas utama. Namun, penurunan diperkirakan tertahan seiring membaiknya permintaan dari China," pungkas Josua.

Sementara itu dari sisi impor, nilainya diperkirakan naik tipis sekitar 0,02% yoy namun melonjak sekitar 8,33% mtm, dengan pendorong terbesar kembali berasal dari barang modal, dimana penguatan ini juga selaras dengan penerimaan bea masuk yang meningkat di Desember.

Senada, Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto juga optimistis neraca dagang Indonesia surplus di 2026. Namun ia mengingatkan perlunya menjaga daya saing industri domestik agar tidak kalah bersaing dengan produk impor.

Ia menilai kesepakatan negosiasi Indonesia-AS akan memberikan tantangan tersendiri, karena AS cenderung menginginkan akses yang lebih luas bagi produk-produknya masuk ke pasar Indonesia, termasuk tanpa pembatasan seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) maupun aturan terkait paten. 

“Kalau yang TKDN atau terkait paten, rasanya agak berat kalau Amerika harus dispesialkan, karena aturan-aturan itu memang untuk menjaga industri dalam negeri,” katanya kepada Kontan.

Myrdal menilai, sekalipun negosiasi dagang tersebut berhasil, efeknya terhadap neraca dagang Indonesia relatif terbatas. Pasalnya, kontribusi surplus perdagangan Indonesia dengan AS tergolong kecil, dikisaran US$ 1 miliar per bulan.

“Kalau rata-rata surplus dagang kita dengan negara global sekitar US$ 2,5 miliar per bulan, paling kita kehilangan sekitar US$ 1 miliar saja,” ujarnya.

Menurut Myrdal, penegakan kebijakan industri seperti TKDN tetap perlu dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat industri nasional, meskipun berpotensi memunculkan tekanan dalam hubungan dagang.

"Pengawasan terhadap masuknya barang impor ilegal juga penting karena dapat merugikan industri dalam negeri," ungkapnya.

Baca Juga: KPK Temukan Aktivitas Ridwan Kamil Tukar Uang Milyaran Rupiah ke Mata Uang Asing

Selanjutnya: Ini Kiat Coffeenatics Mengembangkan Usaha Kopi Lokal hingga Tembus Pasar Global

Menarik Dibaca: Ini Kiat Coffeenatics Mengembangkan Usaha Kopi Lokal hingga Tembus Pasar Global

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News