Diramal, dana asing akan hengkang dari Filipina



MANILA. Arus dana asing akan terus keluar dari emerging market. Tak terkecuali, Filipina. Menurut United Coconut Planters Bank, investor internasional kemungkinan akan terus menjual kepemilikannya atas saham-saham Filipina. Salah satu alasannya, prospek kenaikan suku bunga AS memukul tingkat permintaan aset-aset berisiko dan mendorong modal asing menuju negara-negara maju.

Berdasarkan data yang dihimpun Bloomberg, investor luar negeri sudah menarik dana mereka dengan nilai bersih mencapai US$ 1,24 miliar dari pasar saham Filipina pada periode April hingga Agustus. Ini merupakan rekor tertinggi untuk periode lima bulanan.

Dapat dilihat, investor asing membukukan net sell pada tahun ini, setelah enam tahun berturut-turut membukukan net buy. Pemicunya antara lain perlambatan ekonomi Filipina, prediksi kenaikan suku bunga AS, dan kejutan dari devaluasi yuan China.


"Kenaikan tingkat suku bunga AS memicu hengkangnya arus dana asing. Sebab, saat suku bunga AS dinaikkan, maka pendapatan tetap sekuritas secara umum akan kurang menarik. Antisipasi kenaikan suku bunga AS membuat banyak orang berhati-hati," jelas Steve Sevidal, chief investment officer United Coconut Bank.

Asal tahu saja, Philippine Stock Exchange Index sudahh merosot 2,7% di sepanjang tahun ini. Jauh lebih baik dibanding rekan-rekan sejawatnya di Asia. Sebagai perbadingan, Stock Exchange of Thailand Index's turun 8,5%, FTSE KLCI Malaysia turun 9,3%, dan Indeks Harga Saham Gabungan melorot 16%.

"Hengkangnya dana asing dari pasar saham akan terus terjadi, meski tak sebesar sebelumnya. Fundamental Filipina masih sesuai target dan valuasi pasar saham menyentuh level yang menarik," jelas Sevidal.

Dia menyebut, valuasi indeks Filipina berada di 16,6 kali estimasi pendapatan pada 24 Agustus lalu. Ini merupakan level termurah sejak Februari 2014.

Bicara mengenai Produk Domestik Bruto, PDB Filipina di kuartal II tumbuh 5,6%. Lebih cepat dari Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Singapura.