KONTAN.CO.ID _ JAKARTA. Harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) diprediksi akan bergerak melemah pada pekan ini. Penurunan harga minyak lainnya, seperti kedelai, biji matahari, dan minyak mentah dunia diperkirakan akan menjadi sentimen utamanya. Berdasarkan data Trading Economics, harga CPO ditutup melemah 01% atau berada di level MYR 3.918 per ton pada perdagangan Rabu (10/7). Sedangkan dalam sepekan harga CPO turun 4,02%. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong mengatakan, harga CPO melemah belakangan ini karena tertekan oleh penurunan pada harga minyak lainnya yakni minyak kedelai, biji matahari dan minyak mentah dunia. Selain itu, dia menyebutkan hal lain yang menekan harga adalah inventaris minyak sawit yang naik.
"Tapi prospek ke depan masih belum begitu jelas, walau demikian harga CPO diperkirakan dalam waktu dekat masih akan melemah karena penguatan harga CPO saat ini belum begitu solid," kata Lukman kepada Kontan.co.id, Rabu (10/9). Baca Juga: Kinerja Emiten CPO Berpeluang Membaik di Semester Kedua 2024 Namun di akhir tahun, Lukman memperkirakan harga CPO akan kembali bullish. Hal itu seiring dengan pemangkasan suku bunga oleh bank-bank sentral dunia dan the Fed yang akan mendukung harga. Harga CPO pun diekspektasikan mampu melewati level resistance di MYR 4.000 per ton dan akan berada di rentang MYR 4.200 - MYR 4.400 per ton. Tak hanya itu, Lukman memperkirakan bahwa CPO ke depannya akan cenderung oversupply, terutama ketika harga mencapai di atas 4.000. Pasalnya, produsen akan beramai-ramai meningkatkan produksi. Lukman pun memproyeksi, pada pekan ini harga CPO akan berada di kisaran MYR 3.800 - MYR 3.900 per ton. Sedangkan pada akhir tahun, harga CPO diprediksi akan berada di sekitar MYR 4.200 per ton. Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, sentimen yang membuat harga CPO berpotensi turun ke depannya karena adanya peningkatan impor, dan pemulihan harga minyak nabati. Dia menyebutkan, MPOC mencatat adanya peningkatan impor minyak nabati di India dan Tiongkok dalam beberapa bulan mendatang, untuk melawan potensi sentimen bearish akibat peningkatan stok dan produksi. “Pasalnya, tingkat impor minyak nabati di negara-negara tersebut telah mencapai titik terendah sejak November 2022, sebagian besar disebabkan oleh penurunan impor yang signifikan pada periode sebelumnya,” kata Sutopo kepada Kontan.co.id, Rabu (10/7).