Direksi Baru BEI Pasang Target Ambisius, Akankah Bisa Tercapai?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2026–2030 memasang sejumlah target ambisius untuk membawa pasar modal Indonesia naik kelas dalam empat tahun mendatang.

BEI menyasar bisa masuk dalam 10 besar bursa dunia dari sisi kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi. Untuk bisa mencapai target tersebut, BEI menyiapkan empat pilar strategi pengembangan. 

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik menyampaikan posisi BEI saat ini masih berada di peringkat ke-19 dunia berdasarkan kapitalisasi pasar. Sementara dari sisi nilai transaksi harian, posisi BEI berada di urutan ke-17 dunia.


"Yang ingin kita capai adalah bagaimana membawa Bursa Efek Indonesia menjadi 10 besar bursa dunia, baik berdasarkan kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi," ujar Jeffrey dalam konferensi pers, Senin (29/6/2026). 

Jeffrey menjelaskan ada empat pilar pengembangan, yakni peningkatan bisnis transaksi, pengembangan bisnis non-transaksi, peningkatan kualitas perusahaan tercatat, serta perluasan inklusi investor.

Baca Juga: Ini Target Ambisius Direksi Baru BEI, Salah Satunya Bawa BEI Jadi 10 Besar Bursa

“Seluruh strategi tersebut akan ditopang oleh penguatan infrastruktur perdagangan, pengawasan, serta operasional bursa. BEI juga akan memperkuat kolaborasi dengan regulator dan seluruh pemangku kepentingan pasar modal,” kata dia. 

Sejalan target tersebut, BEI membidik kapitalisasi pasar alias market cap saham Tanah Air bisa mencapai Rp 30.000 triliun pada 2030. Selain itu, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) ditargetkan meningkat menjadi Rp 31 triliun.

BEI mengincar jumlah perusahaan tercatat melampaui 1.100 emiten pada 2030. Di sisi investor, BEI menargetkan akan ada 35 juta Single Investor Identification (SID) dengan rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) di atas 83%.

Sebagai pembanding, nilai kapitalisasi pasar BEI berada di posisi Rp 15.849 triliun pada 2025. Adapun rasio kapitalisasi pasar BEI terhadap PDB Indonesia berada di level 66,5%. 

Sementara RNTH Bursa di sepanjang 2025 mencapai Rp 18,1 triliun dengan jumlah emiten sebanyak 965 perusahaan. Sampai akhir 2025, jumlah investor pasar modal mencapai 20,3 SID. 

Jeffrey juga memastikan direksi baru tetap melanjutkan agenda reformasi pasar modal yang telah berjalan. Reformasi ini diharapkan mampu meningkatkan kredibilitas sekaligus daya saing pasar modal Indonesia.

Dia bilang BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) akan terus berkomunikasi dengan MSCI, FTSE Russell, serta investor global untuk memahami kebutuhan pasar internasional.

"Kami akan terus intens berkomunikasi dengan MSCI, FTSE, dan investor global untuk memastikan kredibilitas serta tata kelola pasar modal Indonesia terus meningkat,” ucap Jeffrey.

Jeffrey menegaskan jajaran direksi baru akan  mendukung penuh agenda demutualisasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). 

Baca Juga: BEI Masih Tunggu Aturan Turunan untuk Eksekusi Demutualisasi Bursa

Menurutnya, demutualisasi akan menjadikan struktur organisasi BEI lebih modern dan fleksibel. Langkah tersebut juga diyakini dapat mempercepat pengambilan keputusan dalam mendukung pencapaian target jangka panjang bursa.

“Kami sedang menunggu pengaturan lebih lanjut dari turunan Undang-Undang P2SK terkait demutualisasi Bursa Efek Indonesia," ucap Jeffrey. 

Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy menjelaskan dengan target kapitalisasi pasar Rp 30.000 triliun, dengan posisi per Senin (29/6) di Rp 10.183 triliun, maka harus akan kenaikan sekitar 200%.  

“Ini terlalu ambisius karena hampir tidak mungkin, mengingat tidak ada emiten asing di BEI dan perusahaan besar sudah sulit atau enggan untuk melakukan IPO karena minimum free float 15%,” katanya kepada Kontan, Senin (29/6/2026). 

Dalam perhitungan Budi, jika tidak ada atau sedikit IPO besar berarti harga saham yang harga naik sampai di atas 100%. Ini yang menjadi pertanyaan, apakah kenaikan sebesar tersebut bisa diraih. 

Budi bilang investor asing juga banyak yang keluar sesuai dengan mandat indeks, ketika emiten BEI semakin sedikit di indeks global dan dengan bobot yang semakin kecil. Per Senin (29/6/2026), net sell investor asing mencapai Rp 72,56 triliun secara year to date. 

Dia mencermati transaksi harian pada 2025 termasuk besar. Sepanjang tahun berjalan ini, RNTH di BEI mencapai Rp 34,27 triliun atau setara dengan US$ 1,51 miliar sampai dengan penutupan Senin (29/6/2026). 

Namun Budi mengingatkan saat ini pasar saham sedang dalam posisi bearish. Untuk itu, perlu bersiap-siap nilai RNTH akan ikut turun karena banyak investor mundur saat tidak bisa mendapatkan profit yang diharapkan. 

Baca Juga: Resmi! RUPS Angkat Anggota Direksi BEI Masa Jabatan 2026–2030

“Tebakan saya, transaksi harian sangat mungkin turun di bawah Rp 25 triliun dalam satu sampai dua tahun ke depan dan di 2030. Jadi, target market cap Rp 30.000, transaksi harian Rp 31 triliun dan market cap terhadap GDP di atas 85% sangat ambisius,” ucapnya. 

Pengamat Pasar Modal, Hendra Wardana menambahkan untuk mencapai target masuk dalam 10 besar bursa dunia, seharusnya tidak sebatas mengejar nilai kapitalisasi pasar, jumlah investor maupun nilai RNTH. 

“Ukuran bursa yang besar harus dibangun di atas fondasi yang kuat, yakni kualitas emiten, kualitas investor, serta kualitas tata kelola pasar. Bursa yang mampu tumbuh secara berkelanjutan adalah bursa yang dipercaya,” katanya. 

Hendra bilang BEI juga perlu lebih fokus memperdalam kualitas likuiditas. Menurutnya, likuiditas yang sehat bukan hanya tercermin dari besarnya nilai transaksi, tetapi dari semakin banyaknya saham berkualitas yang aktif diperdagangkan dan diminati investor jangka panjang. 

Dia juga mengingatkan dalam mencapai target lebih dari 1.100 perusahaan tercatat, BEI juga perlu mengubah paradigma dari mengejar kuantitas menjadi mengedepankan kualitas. Jangan sampai keberhasilan diukur hanya dari banyaknya perusahaan yang berhasil IPO. 

“Semakin baik kualitas emiten yang masuk ke BEI, semakin tinggi pula kepercayaan investo sehingga target peningkatan kapitalisasi pasar dan likuiditas akan lebih mudah dicapai secara berkelanjutan,” ucap Hendra. 

Terakhir, kata Hendra, pasca sebuah perusahaan melantai di pasar saham, BEI perlu memperkuat pengawasan terhadap penggunaan dana hasil penawaran umum, kepatuhan terhadap keterbukaan informasi, kualitas laporan keuangan, serta realisasi rencana bisnis yang telah disampaikan.

Baca Juga: BEI Tanggapi MSCI 2026, Siap Perkuat Transparansi dan Reformasi Pasar Modal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News