KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Santoso menyoroti tantangan gangguan rantai pasok (supply chain) global yang mulai berdampak ke sejumlah sektor industri, dan berpotensi memengaruhi kinerja intermediasi perbankan. Santoso mengatakan, tekanan
supply chain yang dipicu konflik geopolitik dan ketergantungan terhadap komoditas tertentu menjadi salah satu risiko yang perlu diantisipasi industri keuangan. “Sektor yang terkait dengan
chemical itu pasti akan terdampak, karena banyak bergantung pada komoditas turunan minyak. Dampaknya bisa menjalar ke industri turunannya, termasuk plastik,” ujar Santoso saat ditemui di Jakarta, Rabu (25/3/2026).
Ia menjelaskan, selama ini beberapa komoditas global seperti gandum maupun bahan baku industri kimia masih bergantung pada negara tertentu, sehingga rentan terganggu ketika terjadi konflik.
Baca Juga: Kredit UMKM BCA 2026: Rp 142 Triliun Jadi Awal, Ini Target Barunya! Kondisi tersebut, lanjutnya, mulai memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan produksi (business continuity) di sejumlah pelaku usaha. Bahkan, tidak sedikit yang mulai mengantisipasi potensi gangguan dengan berbagai skenario, termasuk mengacu pada kondisi
force majeure. Meski demikian, Santoso menegaskan bahwa permintaan kredit secara umum masih cukup baik. Hanya saja, pertumbuhan tersebut tak merata di semua sektor. “Permintaan kredit pada dasarnya masih cukup baik. Tapi memang tidak semua industri sama, karena ada yang terdampak
supply chain,” katanya. Dari sisi perbankan, BCA mencermati adanya sejumlah debitur yang mulai menyampaikan tantangan yang mereka hadapi, khususnya terkait pasokan bahan baku. Namun, hal tersebut belum sampai pada tahap permintaan restrukturisasi kredit. “Ada yang menyampaikan kesulitan di
supply, tapi bukan berarti mereka menyerah. Mereka masih mencari alternatif
supplier dari negara lain,” jelas Santoso.
Baca Juga: BCA Catat Pertumbuhan Kredit 5,84% pada Februari 2026 Ia menambahkan, komunikasi dari debitur tersebut justru menjadi sinyal positif agar perbankan dapat lebih waspada dan melakukan penilaian dini terhadap potensi risiko kredit. Menurutnya, dalam situasi global yang masih penuh ketidakpastian, pelaku usaha perlu lebih adaptif dalam mengatur strategi bisnis, termasuk menentukan waktu yang tepat untuk ekspansi maupun menahan laju usaha. “Dalam kondisi seperti ini, ada waktunya industri
ngerem dan ada waktunya
ngegas. Itu tergantung bagaimana membaca situasi,” ujarnya.
Di sisi lain, Santoso tetap optimistis terhadap fundamental industri perbankan nasional. Ia menilai, sektor perbankan masih memiliki ketahanan yang baik untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui sinergi dengan
financial technology. Baca Juga: BCA Perkuat Layanan Nasabah Lewat Integrasi Kanal Digital dan Tatap Muka “Fundamental perbankan itu cukup baik. Tinggal bagaimana kita mendorong supaya perbankan dan
financial technology bisa terus mendukung ekonomi Indonesia,” tutupnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News