Dirjen Minerba: Produksi Batubara Tembus 229 Juta Ton per April 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi produksi batubara hingga April 2026 mencapai 229 juta ton.

Jumlah ini setara dengan 38,16% dari target pemerintah yang ingin mengontrol tingkat produksi di sekitar 600 juta ton pada 2026.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno membeberkan bahwa dari volume realisasi tersebut, batubara yang dipasok ke pasar dalam negeri melalui Domestic Market Obligation (DMO) tercatat sebesar 84 juta ton.


Sementara volume ekspor mencapai sekitar 145 juta ton.

Tanpa merinci, Tri mengatakan realisasi tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu.

Baca Juga: Mentan Amran Ancam Cabut Izin Importir Kedelai yang Ambil Untung Berlebihan

"Kami akan melakukan evaluasi secara komprehensif terkait dengan produksi, karena kami sudah menyelesaikan untuk kuartal pertama. Mudah-mudahan hasil dari evaluasi dapat memberikan masukan yang terbaik ke depan," kata Tri dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi XII DPR RI, Selasa (19/5/2026).

Evaluasi tersebut mencakup pengendalian kuota produksi dalam RKAB 2026. Sebagai perbandingan, RKAB pada tahun 2025 mencapai sekitar 1,15 miliar ton. Sementara realisasi produksi tercatat sebesar 817 juta ton. 

Dari jumlah tersebut, Tri merinci volume ekspor tahun lalu mencapai 522 juta ton, Sedangkan DMO tercatat sebanyak 246 juta ton dan stok sebesar 49 juta ton. 

Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Gita Mahyarani mengungkapkan bahwa pada tahun ini pelaku usaha batubara menghadapi sejumlah tantangan. Selain penurunan kuota produksi, para penambang batubara juga berhadapan dengan dinamika permintaan global terutama dari China dan India, serta kenaikan biaya operasional.

Baca Juga: Permintaan Rumah di Bawah Rp 500 Juta di Cibitung Masih Tinggi

"Faktornya cukup multidimensi, mulai dari proses penyesuaian RKAB 2026, terutama karena target produksi nasional tahun ini diarahkan lebih rendah dibandingkan realisasi 2025, dinamika permintaan global, juga kenaikan biaya operasional," kata Gita kepada Kontan.co.id, Selasa (19/5/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News