Dirut Bank Jakarta Optimistis Terhadap Prospek Ekonomi pada Kuartal II-2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Direktur Utama Bank Jakarta Agus Haryoto Widodo memandang prospek ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 masih cukup positif, meskipun dibayangi sejumlah tantangan, terutama dari faktor global dan tekanan inflasi.

Agus menyebut, fondasi ekonomi domestik masih kuat, ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta dukungan kebijakan fiskal dan moneter. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2025 yang mencapai 5,11%, dengan pertumbuhan triwulan IV-2025 sebesar 5,39% secara tahunan (year-on-year/yoy).

“Saya melihat prospek makro ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 masih cukup positif, meskipun tidak tanpa tantangan,” ujar Agus kepada kontan.co.id.


Ia menambahkan, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 juga masih terjaga. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 4,9%–5,7%, sementara asumsi dalam APBN 2026 sekitar 5,4%.

Baca Juga: BTN Klaim NPL Konsumer Tetap Terjaga Usai Lebaran

Untuk wilayah Jakarta sebagai basis bisnis Bank Jakarta, Agus menilai aktivitas ekonomi relatif lebih tangguh. Hal ini didukung oleh belanja APBD, sektor jasa, serta perputaran ekonomi perkotaan yang kuat.

Namun demikian, ia mengingatkan adanya tekanan inflasi yang masih cukup tinggi. “Inflasi Februari 2026 tercatat 4,76% yoy, di atas target, dan nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan global,” katanya.

Dari sisi fiskal, Agus melihat belanja pemerintah tetap menjadi motor pertumbuhan, selama eksekusinya tepat sasaran dan berkualitas. Hingga akhir Februari 2026, realisasi pendapatan negara mencapai Rp 358 triliun atau tumbuh 12,8% yoy, sementara belanja negara mencapai Rp 493,8 triliun atau tumbuh 41,9% yoy.

“Ini menunjukkan ruang fiskal masih bekerja sebagai shock absorber dan growth driver,” jelasnya.

Ia juga menilai penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun di bank-bank Himbara dapat membantu likuiditas serta mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif. Namun, Agus menekankan pentingnya multiplier effect dan kualitas penyerapan anggaran agar dampaknya optimal.

Di Jakarta, APBD 2026 sebesar Rp 81,32 triliun tetap menjadi penopang aktivitas ekonomi daerah. Menurutnya, belanja daerah dan aktivitas BUMD menciptakan siklus likuiditas dan transaksi yang besar bagi perekonomian.

Sementara itu, dari sisi konsumsi, Agus menilai daya beli masyarakat masih dalam tahap pemulihan. Meski indeks keyakinan konsumen (IKK) Februari 2026 berada di level optimistis 125,2 dan penjualan ritel diperkirakan tumbuh 6,9% yoy, tekanan inflasi masih menjadi tantangan.

“Daya beli masih dalam fase recovery, namun konsumsi tetap terjaga,” ujarnya.

Ia menambahkan, daya beli ke depan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga inflasi, khususnya harga pangan dan energi, serta menciptakan lapangan kerja yang stabil.

Berbeda dengan kondisi domestik, Agus menilai faktor global justru masih menjadi sumber ketidakpastian utama. Konflik geopolitik di Timur Tengah, misalnya, telah memicu kenaikan harga energi dan meningkatkan risiko inflasi global.

“Kondisi global masih dibayangi ketidakpastian tinggi dan dapat menekan bisnis melalui kurs, biaya dana, dan sentimen investasi,” jelasnya.

Menurutnya, strategi yang perlu ditempuh adalah memperkuat ekonomi domestik agar tidak terlalu terdampak gejolak global.

Dari sisi politik, Agus menilai kondisi dalam negeri masih relatif stabil dan belum menjadi penghambat utama bagi dunia usaha. Namun, ia menekankan pentingnya kepastian kebijakan dan kualitas tata kelola.

“Yang dibutuhkan pelaku usaha adalah konsistensi kebijakan dan governance yang baik agar kepercayaan tetap terjaga,” katanya.

Di tengah dinamika tersebut, Bank Jakarta memastikan tetap melanjutkan ekspansi bisnis, namun dengan pendekatan selektif dan pruden.

“Kami akan tetap ekspansi, tetapi dengan selective growth dan prudent expansion,” ujar Agus.

Ia menambahkan, strategi Bank Jakarta akan difokuskan pada ekosistem Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, BUMD, ASN, serta sektor urban yang memiliki arus kas jelas, risiko terukur, dan volume transaksi tinggi.

Dengan strategi tersebut, Bank Jakarta optimistis tetap dapat tumbuh di tengah ketidakpastian global, dengan mengandalkan kekuatan pasar domestik sebagai penopang utama.

Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Melemah pada Perdagangan Hari Ini, Senin (6/4/2026)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News