KONTAN.CO.ID – JAKARTA.
Perlambatan pertumbuhan kredit tahun lalu tak lepas dari melemahnya tiga sektor utama penyumbang produk domestik bruto (PDB), yakni manufaktur, pertanian, dan perdagangan. Hal itu disampaikan Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi dalam Webinar Economic Outlook 2026, Kamis (19/2/2026). Ia bilang ketiga sektor tersebut memiliki porsi besar terhadap PDB sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan. Dus ketika pertumbuhan di sektor-sektor ini melambat, permintaan pembiayaan dari perbankan pun ikut tertahan.
“Pelemahan kredit sangat berkaitan dengan perlambatan tiga sektor utama penyumbang PDB yaitu manufaktur, pertanian, dan perdagangan,” ujar Hery.
Baca Juga: Agen Asuransi Ajukan Enam Usulan Pajak, Berharap Ada Dialog dengan Ditjen Pajak Ia menjelaskan, sektor manufaktur yang berkontribusi hampir 20% terhadap PDB sangat mempengaruhi kebutuhan modal kerja maupun investasi. Saat aktivitas produksi dan ekspansi industri melambat, kebutuhan kredit otomatis menurun. Sementara itu, menurut Hery sektor perdagangan sangat sensitif terhadap daya beli masyarakat. Ketika konsumsi melemah, perputaran stok barang menjadi lebih lambat sehingga kebutuhan pembiayaan juga ikut turun. Di sisi lain, sektor pertanian menjadi penyerap tenaga kerja terbesar. Perlambatan pada sektor ini, kata Hery, berdampak langsung pada segmen mikro dan UMKM. Jika sektor padat karya ini melambat, permintaan kredit di segmen tersebut pun ikut tertekan. Secara keseluruhan, Hery bilang struktur kredit perbankan nasional masih didominasi oleh sektor-sektor padat karya seperti manufaktur, perdagangan, dan pertanian. Struktur ini membuat pertumbuhan kredit cukup sensitif terhadap siklus ekonomi.
Baca Juga: Saham Big Banks Kompak Melemah Jelang Pengumuman RDG BI Kamis (19/2/2026) “Artinya sensitivitas kredit kita terhadap siklus ekonomi itu masih tinggi karena struktur sektoralnya,” sebutnya.
Ketidakpastian Global
Tak hanya faktor domestik, Hery juga menyoroti tekanan eksternal yang menekan industri perbankan. Seiring tingginya risiko global, ia bilang kian besar pula potensi gangguan terhadap rantai pasok global, harga energi, arus perdagangan, hingga stabilitas pasar keuangan dunia. Menurut Hery, kondisi ini menunjukkan dunia tak lagi menghadapi sekadar siklus ekonomi biasa, melainkan memasuki fase ketidakpastian struktural yang dipicu faktor geopolitik. Dalam situasi tersebut, volatilitas menjadi kondisi dasar yang tak terhindarkan bagi industri perbankan. “Ini berarti kebutuhan akan likuiditas yang lebih kuat, manajemen risiko kredit yang lebih presisi, terutama pada sektor yang sensitif terhadap ekspor dan perdagangan global, serta disiplin pengelolaan kapital dan treasury di tengah rotasi pasar,” paparnya.
Ia menegaskan, dalam lingkungan global yang penuh ketidakpastian, strategi industri keuangan tak lagi semata berfokus pada pertumbuhan. Lebih dari itu, perbankan dituntut memperkuat daya tahan (
resilience), kelincahan (
agility), serta kemampuan menjaga stabilitas di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News